NASA Kirim Riset Tulang dan Ancaman Satelit ke Luar Angkasa

Peluncuran roket Falcon 9 membawa kapsul Dragon menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dalam misi CRS-34 milik NASA dan SpaceX dari Cape Canaveral, Florida. Foto: NASA/SpaceX.

JAKARTA, mulamula.id Misi kargo terbaru NASA dan SpaceX kembali meluncur ke orbit. Namun, kali ini yang dibawa bukan sekadar logistik untuk astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Di dalam kapsul Dragon, ada eksperimen tentang tulang rapuh, simulasi gravitasi nol, perubahan sel darah manusia di luar angkasa, hingga alat untuk memantau partikel bermuatan yang bisa mengganggu satelit dan jaringan listrik di Bumi.

Roket Falcon 9 milik SpaceX lepas landas dari Cape Canaveral, Florida, Jumat malam waktu Amerika Serikat dalam misi Commercial Resupply Services (CRS)-34 milik NASA.

Baca juga: Crew-13 Meluncur Lebih Awal, NASA Percepat Langkah ke Bulan dan Mars

Mengutip rilis resmi NASA, kapsul Dragon membawa hampir 6.500 pon kargo menuju ISS untuk mendukung kru Expedition 74.

ISS adalah laboratorium antariksa yang mengorbit Bumi dan digunakan untuk penelitian mikrogravitasi jangka panjang oleh berbagai negara dan lembaga riset dunia.

Bukan Sekadar Kirim Makanan

Banyak orang mengira misi kargo antariksa hanya mengirim makanan atau perlengkapan astronaut. Padahal, sebagian besar muatan justru berisi eksperimen ilmiah yang tidak bisa dilakukan di Bumi.

Salah satu proyek yang dibawa kali ini adalah penelitian untuk menguji seberapa akurat simulator gravitasi nol di Bumi meniru kondisi mikrogravitasi asli di luar angkasa.

Riset lain yang cukup menarik adalah pengembangan “bone scaffold” berbahan dasar kayu untuk membantu terapi penyakit tulang rapuh seperti osteoporosis.

Baca juga: 171 Hari di Luar Angkasa, Bagaimana Asronot NASA Menyesuaikan Diri Kembali di Bumi?

Material itu dirancang menjadi struktur pendukung pertumbuhan tulang baru dalam kondisi mikrogravitasi.

NASA juga mengirim peralatan untuk mempelajari bagaimana sel darah merah dan limpa manusia berubah selama berada di luar angkasa.

Penelitian ini penting karena tubuh manusia mengalami banyak perubahan biologis saat berada lama di lingkungan tanpa gravitasi.

Partikel Antariksa Jadi Ancaman Baru

Di antara berbagai eksperimen biologi, ada satu misi yang punya dampak langsung ke kehidupan modern di Bumi.

Dragon membawa instrumen baru untuk mempelajari partikel bermuatan di sekitar planet yang dapat mengganggu satelit, sistem komunikasi, hingga jaringan listrik.

Partikel bermuatan adalah partikel energi tinggi dari Matahari dan lingkungan antariksa yang dapat memicu gangguan teknologi ketika berinteraksi dengan medan magnet Bumi.

Baca juga: Cygnus XL Meluncur, 11.000 Pon Riset Masa Depan Menuju ISS

Ancaman ini makin diperhatikan karena dunia kini sangat bergantung pada satelit untuk internet, navigasi, transaksi keuangan, hingga komunikasi militer.

NASA juga membawa instrumen presisi tinggi untuk mengukur cahaya Matahari yang dipantulkan Bumi dan Bulan.

Data itu dapat membantu meningkatkan pemahaman ilmuwan terhadap perubahan iklim, sistem atmosfer, dan akurasi pengamatan planet.

Laboratorium yang Tidak Pernah Tidur

Selama lebih dari 25 tahun, ISS terus dihuni manusia tanpa jeda.

Laboratorium orbit ini menjadi tempat riset berbagai bidang. Mulai dari bioteknologi, kesehatan manusia, fisika, hingga ilmu planet.

NASA menyebut penelitian di ISS membantu manusia memahami tantangan penerbangan luar angkasa jangka panjang, termasuk persiapan misi Artemis ke Bulan dan rencana perjalanan manusia ke Mars.

Baca juga: Artemis II Pulang ke Bumi, Misi 10 Hari Buka Jalan Manusia Kembali ke Bulan

Kapsul Dragon dijadwalkan tetap berada di ISS hingga pertengahan Juni sebelum kembali ke Bumi membawa hasil penelitian dan sampel penting untuk dianalisis lebih lanjut.

Peluncuran ini sekaligus menunjukkan bahwa perlombaan antariksa modern kini tidak lagi hanya soal mencapai luar angkasa, tetapi juga tentang siapa yang paling cepat mengubah riset orbit menjadi teknologi nyata di Bumi. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *