
JAKARTA, mulamula.id – Penipuan digital di Indonesia memasuki fase yang makin mengkhawatirkan. Pelaku kini tidak lagi sekadar mengirim pesan acak atau menawarkan hadiah palsu. Mereka mulai menyamar sebagai anggota DPR, pejabat negara, hingga memanfaatkan teknologi deepfake untuk memperdaya publik.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengaku telah memblokir sekitar 3.000 nomor telepon yang digunakan untuk penipuan dengan modus mencatut nama pejabat publik. Nomor-nomor itu digunakan untuk meminta sumbangan hingga melakukan pendekatan personal kepada korban.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan praktik impersonation atau penyamaran identitas pejabat kini menjadi salah satu pola penipuan yang paling sering dilaporkan masyarakat.
“Pelaku berpura-pura menjadi anggota DPR atau pejabat publik lalu meminta sumbangan,” kata Meutya dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR, Senin (18/5).
Baca juga: Deepfake Menyerang Dunia Digital Setiap 5 Menit
Fenomena ini menunjukkan bahwa kejahatan digital mulai bergerak ke arah yang lebih psikologis. Pelaku memanfaatkan rasa percaya masyarakat terhadap figur publik untuk menekan korban agar cepat merespons tanpa berpikir panjang.
Modus Penipuan Bergeser
Komdigi juga menerima laporan terkait sekitar 2.500 nomor lain yang digunakan untuk berbagai bentuk penipuan digital. Mulai dari investasi fiktif, judi online, hingga transaksi jual beli palsu.
Jumlah kasusnya disebut telah menembus lebih dari 13 ribu laporan.
Penipuan digital adalah tindak kejahatan yang memanfaatkan teknologi komunikasi untuk memanipulasi korban demi mendapatkan uang, data pribadi, atau akses tertentu secara ilegal.
Baca juga: ASEAN vs Deepfake, Indonesia Dorong Aturan Bersama Lawan Manipulasi AI
Modusnya kini semakin beragam. Tidak sedikit pelaku yang menggunakan foto profil resmi, gaya bahasa formal, bahkan nama institusi negara agar terlihat meyakinkan.
Di tengah tingginya aktivitas digital masyarakat, pola seperti ini menjadi ancaman serius. Terutama bagi pengguna yang terbiasa merespons pesan secara cepat tanpa memeriksa identitas pengirim.
Warga Diminta Aktif Melapor
Komdigi menilai angka penipuan sebenarnya bisa jauh lebih besar. Sebab, masih banyak korban yang memilih diam atau tidak melaporkan kasus yang dialami.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat aktif melaporkan nomor mencurigakan yang digunakan untuk telepon, pesan singkat, maupun aplikasi percakapan.
Baca juga: AI Voice Spoofing, Suara Kamu Bisa Dipakai Menjebak Keluarga
Menurut Meutya, laporan publik menjadi kunci utama agar pemerintah bersama operator seluler dapat segera melakukan pemblokiran dan pemutusan akses.
Langkah ini dinilai penting karena banyak nomor penipuan terus bermunculan menggunakan identitas baru setelah nomor lama diblokir.
Deepfake Jadi Ancaman Baru
Tidak hanya soal nomor penipuan, Komdigi juga mulai memberi perhatian serius terhadap penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah deepfake pornografi.
Deepfake adalah teknologi berbasis AI yang mampu memanipulasi wajah, suara, atau video seseorang sehingga tampak asli meski sebenarnya palsu.
Teknologi ini awalnya berkembang untuk kebutuhan hiburan dan industri kreatif. Namun belakangan, deepfake justru banyak dipakai untuk penipuan, manipulasi politik, hingga penyebaran konten pornografi non-konsensual.
Komdigi bahkan sempat memblokir fitur Grok milik media sosial X karena muncul banyak aduan terkait konten pornografi berbasis AI.
Baca juga: Sering Ditelepon Nomor Asing? Ini Cara Deteksi Scam dan Spam di HP Kamu
Pemblokiran itu akhirnya dicabut setelah pihak X memberikan jaminan akan melakukan perbaikan sistem moderasi, khususnya terkait konten nudity dan deepfake.
Kasus ini memperlihatkan bahwa tantangan keamanan digital kini bukan lagi sekadar spam atau hoaks biasa. Perkembangan AI membuat manipulasi digital menjadi semakin realistis dan sulit dikenali publik.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi dilema besar. Di satu sisi teknologi AI membuka peluang inovasi. Namun di sisi lain, pengawasan dan regulasi belum sepenuhnya mampu mengejar kecepatan perkembangan teknologi tersebut.
Bagi pengguna internet, situasi ini menjadi pengingat bahwa verifikasi kini jauh lebih penting dibanding sebelumnya. Sebab, di era AI, tidak semua suara, foto, atau identitas digital bisa langsung dipercaya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.