
JAKARTA, mulamula.id – Banyak orang mengira polusi udara hanya soal asap kendaraan dan langit abu-abu. Padahal, partikel kecil bernama PM2.5 ternyata punya karakter berbeda di tiap kota. Mulai dari bentuk partikel, kandungan kimia, hingga sumber pencemarnya ternyata tidak sama.
PM2.5 adalah partikel polusi udara berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang bisa masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah manusia.
Riset terbaru menemukan PM2.5 di Bandung, Jakarta, dan Tangerang memiliki “sidik jari” berbeda, sehingga penanganan polusi udara tidak bisa disamaratakan.
Temuan itu muncul dalam kajian yang dilakukan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN terhadap kualitas udara di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
Baca juga: Biaya Polusi Udara Jakarta: Rp52 Triliun per Tahun
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Feni Fernita Nurhaini, mengatakan penelitian dilakukan untuk membaca karakter PM2.5 secara lebih detail, bukan hanya dari angka konsentrasinya.
“Kami ingin melihat profil PM2.5 secara komprehensif dan kaitannya dengan sumber pencemar dominan di beberapa kota,” ujar Feni mengutip publikasi resmi BRIN.
Penelitian dilakukan pada Mei hingga September 2022 menggunakan alat pengambil sampel udara Super Speciation Air Sampling System (SuperSASS). Sampel kemudian dianalisis untuk melihat kadar polusi, bentuk partikel, hingga unsur kimianya.
Bandung Tertinggi
Hasilnya menunjukkan setiap kota memiliki kondisi polusi berbeda. Bandung bahkan mencatat angka tertinggi dalam penelitian tersebut.
Kawasan Bandung-Tamansari memiliki rata-rata PM2.5 sebesar 41 µg/m³ pada hari kerja dan 42 µg/m³ saat akhir pekan. Angka tertingginya mencapai 86,5 µg/m³.
Angka itu sudah melewati ambang batas aman kualitas udara harian nasional sebesar 55 µg/m³.
Baca juga: Polusi Udara Jabodetabek Ujian Nyata Komitmen Keberlanjutan
Sementara Jakarta Selatan mencatat rata-rata 36,5 µg/m³ pada hari kerja. Tangerang Selatan mencapai 48,3 µg/m³.
PM2.5 kini menjadi perhatian banyak kota besar karena ukurannya sangat kecil dan sulit terlihat. Namun justru partikel inilah yang paling mudah masuk ke sistem pernapasan manusia.
Bentuknya Tak Sama
Menariknya, tim BRIN juga menemukan bentuk partikel PM2.5 di tiap kota ternyata berbeda.
Di Bandung, partikel banyak berbentuk tidak beraturan dan menggumpal. Jakarta cenderung memiliki partikel semi-kristalin yang memanjang dan menyerupai persegi. Sedangkan Tangerang Selatan lebih banyak memiliki partikel berbentuk aglomerasi dengan sudut tajam.
Menurut Feni, bentuk partikel penting dipelajari karena bisa memberi petunjuk sumber pencemaran sekaligus potensi dampaknya terhadap kesehatan.
“Partikel yang tajam dan tidak beraturan bisa lebih mudah mengiritasi saluran pernapasan,” katanya.
Baca juga: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini Setiap Tahun
Tidak hanya itu, kandungan unsur kimia di masing-masing kota juga berbeda.
Bandung banyak dipengaruhi debu tanah, pembakaran biomassa, dan kendaraan bermotor. Jakarta Selatan menunjukkan pengaruh kuat emisi kendaraan serta udara laut. Sementara Tangerang Selatan memiliki kandungan sulfur dan timbal yang cukup tinggi.
Solusinya Tak Bisa Sama
Temuan ini memperlihatkan bahwa polusi udara di kota besar Indonesia ternyata semakin kompleks. Karena sumber pencemarnya berbeda, strategi penanganannya juga tidak bisa dibuat seragam.
Kota yang didominasi emisi kendaraan tentu membutuhkan pendekatan berbeda dibanding wilayah yang lebih dipengaruhi pembakaran biomassa atau aktivitas industri.
Baca juga: Polusi Udara: Bahaya Besar Kedua Setelah Tekanan Darah Tinggi
Artinya, kebijakan udara bersih ke depan perlu lebih spesifik dan menyesuaikan karakter pencemar di masing-masing daerah.
Feni berharap masyarakat mulai sadar bahwa ancaman polusi udara tidak selalu terlihat mata.
“Asap mungkin terlihat, tetapi partikel kecil tak kasatmata justru bisa memberi dampak besar bagi kesehatan,” ujarnya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.