Mengapa Kita Menunggu Piala Dunia

Untuk sesaat, dunia menaruh harapan pada cerita yang sama. Foto: AI-generated/ mulamula.id.

ADA banyak hal yang berubah dalam hidup.

Pekerjaan berganti.
Kota tempat tinggal berubah.
Orang-orang datang dan pergi.

Bahkan dunia yang kita kenal hari ini terasa jauh berbeda dibanding empat tahun lalu.

Namun, ada satu hal yang terus kembali.

Piala Dunia.

Dan entah mengapa, setiap kali ia datang, miliaran orang di berbagai penjuru bumi seolah melakukan hal yang sama: menunggu.

Penantian yang Aneh

Jika dipikir-pikir, Piala Dunia adalah salah satu penantian paling aneh yang dimiliki manusia.

Tidak semua orang bermain sepak bola.

Tidak semua orang memahami aturan offside.

Bahkan tidak semua orang mendukung tim yang sama.

Baca juga: Anak-anak yang Terlalu Cepat Mengenal Taruhan

Namun, ketika turnamen itu mendekat, sesuatu mulai bergerak.

Jadwal pertandingan dicari.
Prediksi mulai bermunculan.
Percakapan di warung kopi, kantor, kampus, hingga grup keluarga perlahan berubah arah.

Dunia seperti sedang menyiapkan diri untuk sesuatu.

Padahal, yang ditunggu hanyalah pertandingan sepak bola.

Atau mungkin, bukan itu yang sebenarnya kita tunggu.

Lebih dari Sebuah Turnamen

Mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, Piala Dunia akan kembali digelar.

Selama lebih dari sebulan, manusia dari berbagai negara akan memandang layar yang sama.

Mereka mungkin berbeda bahasa.

Berbeda warna kulit.

Berbeda agama.

Berbeda pandangan politik.

Tetapi pada malam tertentu, mereka akan sama-sama menahan napas ketika bola meluncur ke depan gawang.

Tidak banyak peristiwa di dunia modern yang masih mampu melakukan itu.

Di saat banyak hal memisahkan manusia, Piala Dunia justru menghadirkan sesuatu yang semakin langka, pengalaman bersama.

Kebutuhan untuk Berharap

Mungkin alasan kita menunggu Piala Dunia bukan semata karena sepak bola.

Mungkin manusia memang membutuhkan sesuatu untuk ditunggu.

Kita membutuhkan alasan untuk berharap.

Kita membutuhkan cerita yang belum selesai.

Kita membutuhkan kemungkinan.

Karena hidup sehari-hari sering kali berjalan dalam pola yang sama.

Pekerjaan.
Kemacetan.
Tagihan.
Rutinitas.

Lalu datanglah sebuah turnamen yang memberi ruang bagi sesuatu yang tidak bisa diprediksi.

Baca juga: Tidak Ada yang Terjadi Sendiri

Tim kecil bisa mengalahkan unggulan.

Pemain yang tidak dikenal bisa menjadi pahlawan.

Negara yang tidak diperhitungkan bisa membuat dunia terkejut.

Dan selama kemungkinan itu masih ada, harapan tetap hidup.

Mungkin itu sebabnya kita menunggu.

Tentang Menjadi Bagian dari Sesuatu

Di era media sosial, kita terhubung dengan semua orang, tetapi sering merasa sendirian.

Kita berbicara lebih banyak daripada sebelumnya.

Namun, belum tentu merasa lebih dekat.

Piala Dunia menawarkan sesuatu yang berbeda.

Untuk sesaat, seseorang di Jakarta, Buenos Aires, Lagos, Seoul, atau Casablanca bisa merasakan emosi yang sama pada waktu yang sama.

Mereka mungkin tidak pernah bertemu.

Tidak saling mengenal.

Tetapi mereka tertawa, kecewa, berteriak, dan berharap dalam momen yang sama.

Dan mungkin, jauh di dalam diri kita, ada kebutuhan sederhana untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Empat tahun adalah waktu yang cukup lama.

Cukup lama untuk mengubah hidup seseorang.

Cukup lama untuk mengubah sebuah negara.

Cukup lama untuk membuat dunia menjadi tempat yang berbeda.

Namun setiap empat tahun sekali, manusia kembali melakukan ritual yang sama.

Baca juga: Aksara | Ketika Jauh Menjadi Dekat

Mereka menunggu.

Bukan hanya menunggu pertandingan.

Bukan hanya menunggu gol.

Tetapi menunggu cerita.

Menunggu kejutan.

Menunggu harapan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk dan terpecah, itulah yang membuat Piala Dunia tetap istimewa.

Piala Dunia mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari apa yang sudah terjadi.

Tetapi juga dari sesuatu yang masih mereka nantikan.

Salam literasi.

  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *