Aplikasi Kencan dan Bahaya Percaya Terlalu Cepat

Perkenalan dari aplikasi kencan bisa terasa dekat, tetapi keselamatan tetap perlu menjadi batas pertama. Foto: Ilustrasi/ Pexels.

KASUS penyekapan perempuan di Bandung membuat kita kembali menatap satu hal yang sering terasa biasa dalam hidup hari ini, berkenalan lewat layar.

Seseorang muncul dari aplikasi kencan. Profilnya rapi. Fotonya meyakinkan. Chat-nya hangat. Cara bicaranya terasa memahami. Dalam beberapa hari, orang asing bisa terasa seperti orang yang sudah lama kita kenal.

Padahal, kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan yang aman.

Di ruang digital, seseorang bisa memilih bagian terbaik dari dirinya. Ia bisa mengatur foto, menyusun kata, membangun kesan, dan menampilkan perhatian yang terasa personal. Semua bisa terlihat tulus. Semua bisa tampak meyakinkan.

Namun, yang muncul di layar belum tentu utuh. Bahkan, bisa sangat jauh dari kenyataan.

Peringatan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid setelah kasus di Bandung penting dibaca dalam konteks ini. Ia mengingatkan agar pengguna aplikasi kencan tidak mudah percaya pada apa yang ditampilkan di media sosial. Termasuk di aplikasi seperti Tinder. Apa yang terlihat di layar bisa saja hanya ilusi.

Kata “ilusi” penting. Sebab, dalam relasi digital, rasa percaya kadang tumbuh lebih cepat daripada proses mengenal.

Layar Membuat Orang Terasa Dekat

Aplikasi kencan tidak selalu buruk. Banyak orang bertemu teman, pasangan, bahkan membangun hubungan sehat dari ruang digital. Masalahnya bukan pada teknologinya semata.

Masalahnya muncul ketika layar membuat kita merasa terlalu cepat aman.

Chat setiap malam bisa terasa seperti perhatian. Balasan cepat bisa terasa seperti keseriusan. Panggilan sayang bisa terasa seperti kedekatan. Cerita pribadi yang dibagikan terlalu awal bisa terasa seperti kejujuran.

Baca juga: Kita Sering Lupa Setelah Selamat

Pelan-pelan, jarak antara “baru kenal” dan “sudah percaya” menjadi kabur.

Di titik inilah literasi digital bertemu dengan literasi emosional. Kita tidak hanya perlu tahu cara memakai aplikasi. Kita juga perlu tahu cara menjaga diri saat perasaan mulai terlibat.

Karena yang berbahaya bukan hanya penipuan data. Bukan hanya akun palsu. Bukan hanya profil yang tidak sesuai kenyataan.

Yang juga berbahaya adalah ketika seseorang mulai masuk ke hidup kita, lalu perlahan mengambil alih kendali.

Percaya Bukan Bukti Cinta

Salah satu jebakan dalam relasi adalah anggapan bahwa percaya berarti menyerahkan semuanya.

Memberi lokasi real time. Membagikan kata sandi. Mengirim data pribadi. Menuruti permintaan bertemu di tempat yang tidak aman. Menjauh dari teman karena pasangan tidak suka. Diam ketika mulai dikontrol karena takut disebut tidak serius.

Padahal, batas pribadi bukan tanda tidak cinta.

Batas pribadi adalah cara seseorang menjaga keselamatan dirinya.

Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa

Orang yang sehat tidak akan memaksa kita membuka seluruh hidup hanya untuk membuktikan rasa sayang. Ia tidak akan membuat kita merasa bersalah karena ingin berhati-hati. Ia tidak akan menuntut akses penuh ke tubuh, waktu, akun, lokasi, dan keputusan kita.

Cinta yang sehat memberi ruang. Bukan mengambil alih ruang.

Karena itu, dalam hubungan yang bermula dari aplikasi kencan, proses mengenal harus tetap punya pagar. Bertemu boleh. Tapi beri tahu orang terdekat. Kenal lebih jauh boleh. Tapi jangan serahkan data sensitif. Merasa cocok boleh. Tapi jangan abaikan tanda bahaya.

Percaya boleh tumbuh. Tapi tidak perlu tumbuh dengan tergesa-gesa.

Red Flag Bukan Drama

Banyak orang mengabaikan tanda bahaya karena takut dianggap berlebihan.

Padahal, red flag bukan drama.

Seseorang yang terlalu cepat posesif perlu dicermati. Seseorang yang memaksa bertemu saat kita belum siap perlu dicermati. Seseorang yang marah ketika kita tidak segera membalas pesan perlu dicermati. Seseorang yang meminta kita merahasiakan hubungan dari teman dan keluarga perlu dicermati.

Begitu juga orang yang mulai mengatur pakaian, pergaulan, pekerjaan, unggahan, bahkan cara kita berbicara dengan orang lain.

Pada awalnya, kontrol sering datang dengan bahasa perhatian.

“Aku cuma khawatir.”

“Aku begini karena sayang.”

“Aku tidak mau kehilangan kamu.”

Kalimat seperti itu bisa terdengar manis. Tapi bila ujungnya membuat seseorang kehilangan kebebasan, kehilangan relasi sosial, dan kehilangan kendali atas diri sendiri, kita perlu berhenti dan membaca ulang.

Tidak semua yang terdengar romantis benar-benar aman.

Tidak semua perhatian adalah perlindungan.

Tidak semua cemburu adalah bukti cinta.

Keselamatan Harus Lebih Dulu

Ruang digital semestinya menjadi tempat yang aman. Platform punya tanggung jawab. Pemerintah punya peran pengawasan. Fitur pelaporan, pemblokiran, verifikasi, dan perlindungan pengguna perlu terus diperkuat.

Namun, pengguna juga perlu membawa naluri aman saat masuk ke ruang digital.

Jangan membagikan data pribadi terlalu cepat. Jangan memberikan akses akun. Jangan mengirim lokasi real time kepada orang yang belum benar-benar dikenal. Jangan bertemu di tempat tertutup pada pertemuan awal. Jangan memutus hubungan dengan teman dan keluarga hanya karena seseorang meminta.

Kalau ada perilaku mencurigakan, hentikan interaksi. Gunakan fitur blokir. Laporkan akun. Simpan bukti bila perlu. Beri tahu orang yang dipercaya.

Ini bukan sikap paranoid.

Ini cara bertahan di dunia yang semakin mudah mempertemukan orang, tetapi tidak selalu mudah memastikan siapa yang benar-benar aman.

Baca juga: Anak-anak yang Terlalu Cepat Mengenal Taruhan

Gen Z tumbuh di masa ketika hubungan bisa dimulai dari notifikasi. Dari swipe. Dari match. Dari pesan singkat yang terasa hangat.

Namun, keselamatan tidak boleh bergantung pada kesan pertama.

Profil bisa dibuat menarik. Kata-kata bisa disusun rapi. Perhatian bisa dipakai sebagai jalan masuk. Karena itu, mengenal seseorang tetap butuh waktu, jarak, dan keberanian untuk berkata tidak.

Aplikasi kencan bisa menjadi pintu pertemuan. Tapi kita tetap harus memegang kunci atas diri sendiri.

Sebab, cinta yang sehat tidak membuat kita kehilangan kendali.

Dan orang yang benar-benar baik tidak akan meminta kita mengorbankan keselamatan hanya untuk membuktikan kepercayaan.

Ruang digital bisa menjadi tempat bertemu. Tapi keselamatan tetap harus menjadi batas pertama. ***.

Salam literasi.

  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *