
ADA dua kabar yang datang hampir bersamaan pekan ini. Sekilas keduanya tidak saling berkaitan. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, keduanya berbicara tentang satu hal yang sama.
Pertama, lebih dari 12 ribu warga negara Indonesia di Kamboja mengajukan fasilitasi kepulangan setelah terjerat jaringan online scam. Banyak dari mereka berangkat karena tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi yang ternyata menjadi pintu masuk ke industri penipuan digital.
Kedua, Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa kecerdasan buatan kini mampu meniru suara seseorang. Modus ini membuat pelaku penipuan bisa menyamar sebagai anak, keluarga, teman, bahkan pejabat, untuk meyakinkan korban agar mengirim uang atau memberikan data pribadi. Lansia menjadi kelompok yang paling rentan.
Dua peristiwa itu berbeda tempat, berbeda korban, bahkan berbeda teknologi.
Namun akar persoalannya ternyata sama.
Kepercayaan.
Baca juga: Aplikasi Kencan dan Bahaya Percaya Terlalu Cepat
Selama ini kita sering menganggap korban penipuan adalah orang yang ceroboh. Padahal sebelum menjadi korban, mereka hanya melakukan sesuatu yang setiap manusia lakukan setiap hari, yaitu mempercayai orang lain.
Seorang anak muda percaya sebuah lowongan kerja yang tampak meyakinkan. Seorang ibu percaya suara yang terdengar persis seperti anaknya. Seorang pensiunan percaya seseorang yang mengaku petugas bank. Seorang pencari kerja percaya janji kehidupan yang lebih baik di negeri orang.
Tidak ada yang memulai semua itu dengan niat menjadi korban.
Mereka memulainya dengan harapan.
Itulah mengapa penipuan selalu menemukan jalannya. Penipuan tidak bekerja terutama dengan memanfaatkan kebodohan. Penipuan bekerja dengan memanfaatkan kebutuhan, harapan, rasa sayang, dan kepercayaan.

Teknologi kemudian membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.
Jika dulu seseorang harus datang langsung untuk menipu, kini wajah bisa dipalsukan, nomor telepon bisa disamarkan, dokumen bisa dibuat sangat meyakinkan, bahkan suara pun dapat ditiru oleh kecerdasan buatan hanya dari beberapa detik rekaman.
Kebohongan tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang mencurigakan.
Kebohongan justru tampil sebagai sesuatu yang terasa sangat akrab.
Di sinilah tantangan terbesar masyarakat digital sebenarnya berada.
Bukan sekadar belajar menggunakan teknologi, melainkan belajar mempertanyakan apa yang tampak benar.
Baca juga: Kita Sering Lupa Setelah Selamat
Kita hidup pada masa ketika verifikasi menjadi bagian dari keterampilan hidup. Sebelum mentransfer uang, sebelum menerima pekerjaan, sebelum menyerahkan identitas, sebelum mempercayai sebuah panggilan telepon, kita dituntut untuk berhenti sejenak dan memastikan semuanya benar.
Ironisnya, kebiasaan itu tidak pernah diajarkan kepada generasi-generasi sebelumnya.
Mereka tumbuh di zaman ketika suara seseorang adalah identitasnya. Ketika surat resmi sulit dipalsukan. Ketika bertatap muka menjadi jaminan kepercayaan.
Kini semua itu berubah.
Dunia digital menghadirkan peluang yang luar biasa. Namun, pada saat yang sama, ia juga menghadirkan kemampuan baru untuk meniru kenyataan.
Karena itu, literasi digital hari ini bukan lagi sekadar mengajarkan cara memakai aplikasi atau membuat kata sandi yang kuat. Literasi digital adalah kemampuan menjaga kepercayaan tanpa kehilangan kewaspadaan.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari dua peristiwa yang kita lihat pekan ini.
Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa
Manusia tidak mungkin hidup tanpa percaya kepada manusia lain. Dunia akan berhenti jika setiap orang selalu curiga kepada semua orang.
Namun, di zaman ketika kebohongan bisa dibuat sangat meyakinkan, percaya saja tidak lagi cukup.
Kita juga harus belajar memeriksa kembali apa yang kita percaya. Sebab tidak semua yang terdengar akrab benar-benar datang dari orang yang kita kenal.
Tidak semua lowongan kerja membawa masa depan yang lebih baik.
Dan tidak semua yang tampak meyakinkan benar-benar layak dipercaya.
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA