Mengapa Kita Selalu Melihat ke Luar?

Belajar ke luar negeri dapat membuka cakrawala, tetapi nilainya baru teruji ketika pengetahuan itu pulang dan memperbaiki pelayanan publik. Ilustrasi: AI-generated/ mulamula.id.

ADA kebiasaan yang terus berulang setiap kali kita ingin belajar memperbaiki negeri.

Kita melihat ke luar.

Ketika ingin membangun transportasi yang lebih baik, kita belajar ke Jepang. Saat berbicara tentang pelayanan publik, Singapura hampir selalu menjadi tujuan. Untuk pendidikan, Finlandia menjadi rujukan. Untuk digitalisasi, kita melirik Korea Selatan atau Estonia.

Belajar dari negara lain tentu bukan sesuatu yang keliru. Justru bangsa yang ingin maju harus terbuka terhadap pengalaman dunia. Masalahnya, belajar sering kali berhenti pada perjalanan, bukan pada perubahan.

Pekan ini, perhatian publik tertuju pada keberangkatan 25 kepala daerah ke Singapura dalam rangka Kursus Pemantapan Pimpinan Pemerintahan Daerah yang diselenggarakan Lemhannas. Program tersebut memang merupakan bagian dari kurikulum resmi yang memadukan pembelajaran di kelas dengan kunjungan lapangan.

Namun, di tengah seruan efisiensi anggaran yang terus digaungkan pemerintah, perjalanan itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah peningkatan kualitas kepemimpinan memang harus selalu dicari di luar negeri? Atau justru ini saatnya kita meninjau kembali cara kita belajar sebagai bangsa?

Belajar atau Berkunjung?

Perdebatan tentang studi banding sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap tahun muncul pertanyaan yang sama, apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang dibawa pulang?

Pertanyaan itu bukan berarti menolak pembelajaran internasional. Yang dipersoalkan adalah ukuran keberhasilannya.

Baca juga: Mengapa Kita Masih Mudah Percaya

Sebuah perjalanan tidak otomatis melahirkan perubahan. Sertifikat tidak selalu berbanding lurus dengan pelayanan publik yang lebih baik. Bahkan kunjungan ke negara yang paling maju sekalipun tidak akan berarti banyak jika pengalaman itu berhenti sebagai laporan kegiatan.

Ukuran sesungguhnya baru terlihat ketika masyarakat merasakan perubahan setelah para peserta kembali bekerja.

Belajar dari Rumah Sendiri

Indonesia sebenarnya bukan negeri yang kekurangan contoh.

Berbagai daerah telah melahirkan inovasi pelayanan publik, digitalisasi birokrasi, pengelolaan lingkungan, hingga reformasi administrasi yang menjadi rujukan nasional. Banyak pemerintah daerah berhasil menghadirkan layanan yang cepat, sederhana, dan dekat dengan masyarakat melalui kreativitas yang lahir dari kebutuhan lokal.

Ironisnya, keberhasilan seperti itu sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan praktik yang datang dari luar negeri.

Seolah-olah sebuah gagasan baru terasa lebih meyakinkan ketika disampaikan dengan bahasa asing atau dipelajari melalui perjalanan ke negara lain.

Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa

Padahal, tantangan terbesar pemerintahan bukanlah menemukan ide baru. Tantangannya adalah menerapkan ide yang tepat sesuai dengan kondisi masyarakat yang dilayani.

Apa yang berhasil di Singapura belum tentu dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Struktur pemerintahannya berbeda, luas wilayahnya berbeda, jumlah penduduknya berbeda, bahkan tantangan sosial dan fiskalnya pun tidak sama.

Belajar memang penting. Tetapi memahami konteks jauh lebih penting.

Kepercayaan Diri Bangsa

Barangkali yang perlu kita bangun bukan hanya kemampuan belajar dari dunia, tetapi juga kepercayaan diri untuk menghargai pengalaman sendiri.

Bangsa yang matang tidak pernah menutup diri terhadap pengetahuan dari luar. Namun, bangsa yang matang juga tidak merasa rendah di hadapan pengalaman yang dimilikinya sendiri.

Kita tentu perlu membuka jendela agar dapat melihat dunia. Tetapi kita juga perlu sesekali menoleh ke halaman rumah sendiri. Sebab, tidak sedikit solusi yang sesungguhnya telah tumbuh di sana.

Kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa sering para pejabatnya bepergian ke luar negeri. Kemajuan diukur dari kemampuan mengubah pengetahuan menjadi kebijakan yang benar-benar memperbaiki kehidupan masyarakat.

Baca juga: Aksara | Harga Sebuah Kursi

Di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan harapan publik terhadap pelayanan yang semakin baik, ukuran keberhasilan sebuah perjalanan seharusnya menjadi semakin sederhana.

Bukan berapa banyak tempat yang dikunjungi.

Bukan pula berapa banyak foto yang dibawa pulang.

Melainkan berapa banyak perubahan yang akhirnya dirasakan oleh masyarakat.

Karena pada akhirnya, perjalanan paling penting bukanlah menuju negeri lain.

Melainkan perjalanan membawa pengetahuan itu pulang, lalu mengubahnya menjadi manfaat bagi negeri sendiri.

Salam literasi.

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *