Jangan Bunuh Pertanyaan dengan Sebuah Label

Foto: Ilustrasi/ AI-generated/ Mulamula.id.

SEBUAH pertanyaan meluncur di tengah konferensi pers.

Mungkin susunan katanya tidak sempurna. Mungkin terdengar tajam. Mungkin pula datang pada saat orang yang ditanya sedang berada dalam tekanan.

Namun, pertanyaan itu tidak dijawab dengan penjelasan.

Lu punya otak enggak?”

Kalimat tersebut disampaikan advokat Hotman Paris Hutapea kepada seorang wartawan yang sedang meminta tanggapan mengenai dugaan kriminalisasi terhadap kliennya. Dewan Pers kemudian menyayangkan respons tersebut karena dinilai bernada merendahkan profesi wartawan. Ketidaksenangan terhadap sebuah pertanyaan, menurut Dewan Pers, semestinya disampaikan secara rasional dan beretika.

Hotman belakangan meminta maaf.

Kegaduhan mungkin dianggap selesai. Namun, persoalan yang tertinggal tidak sesederhana permintaan maaf atau satu kalimat yang terucap dalam suasana panas.

Beberapa hari kemudian, Presiden Prabowo Subianto berbicara mengenai orang-orang Indonesia yang dinilainya mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Ia menggunakan istilah londo ireng, lalu menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat dalam rangkaian pidatonya di puncak peringatan hari lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa.

Baca juga: Ketika Semua Orang Bicara

Presiden juga menyinggung media yang dianggap hanya menampilkan sekolah yang belum diperbaiki, meskipun pemerintah menyatakan telah merenovasi puluhan ribu sekolah.

Dua peristiwa itu berbeda. Kedudukan orang yang berbicara juga tidak sama. Kita tidak perlu memaksakan keduanya sebagai peristiwa yang sepenuhnya sebanding.

Namun, keduanya memperlihatkan gejala yang patut direnungkan.

Ketika pertanyaan terasa tidak menyenangkan, kita semakin mudah berhenti membicarakan isi pertanyaan. Perhatian kemudian dialihkan kepada kecerdasan orang yang bertanya, profesinya, motifnya, siapa yang membiayainya, atau kepada siapa kesetiaannya diberikan.

Pertanyaan tidak lagi diperiksa.

Penanyanya yang diadili.

Pertanyaan Memang Tidak Selalu Nyaman

Tidak semua pertanyaan wartawan bermutu.

Ada pertanyaan yang terlalu panjang, tidak memiliki dasar yang cukup, mengandung asumsi, atau sengaja dibentuk untuk memancing sensasi. Media juga dapat keliru, dapat kehilangan konteks, menyederhanakan persoalan, atau terlalu bersemangat mengejar konflik.

Wartawan tidak kebal dari kritik.

Namun, pertanyaan yang buruk tetap dapat dijawab dengan jawaban yang baik. Kekeliruan dapat dikoreksi. Asumsi dapat diluruskan. Data dapat dibuka. Narasi dapat diperdebatkan.

Yang tidak perlu dilakukan adalah merendahkan manusianya.

Sebab ketika sebuah pertanyaan dibalas dengan penghinaan, yang sedang dipertontonkan bukan kekuatan argumentasi. Justru terlihat ketidakmampuan untuk memisahkan ketidaknyamanan dari permusuhan.

Baca juga: Mengapa Kita Selalu Melihat ke Luar?

Kita sering menginginkan pertanyaan yang sopan, lembut, dan sesuai dengan arah jawaban yang telah disiapkan. Padahal, pertanyaan tidak selalu hadir untuk membuat seseorang merasa nyaman.

Kadang-kadang, tugasnya justru mengganggu kenyamanan.

Ia mengetuk pintu yang ingin tetap tertutup. Ia menunjukkan celah di balik cerita keberhasilan. Ia meminta penjelasan mengenai hal yang belum selesai.

Capaian dan Kekurangan Bisa Sama-sama Benar

Pemerintah dapat benar ketika menyatakan telah memperbaiki puluhan ribu sekolah.

Media juga belum tentu salah ketika menampilkan sebuah sekolah yang atapnya bocor, ruang kelasnya rusak, atau muridnya belajar dalam keadaan yang tidak layak.

Kedua kenyataan itu dapat hidup pada waktu yang sama.

Menunjukkan yang belum selesai bukan berarti meniadakan yang sudah dikerjakan.

Di situlah kritik sering disalahpahami. Kritik dianggap sebagai penolakan terhadap seluruh capaian. Orang yang bertanya tentang kekurangan segera dicurigai tidak menghargai keberhasilan.

Padahal, sebuah negara tidak menjadi kuat hanya karena mampu menceritakan pencapaiannya. Negara menjadi lebih kuat ketika berani melihat bagian yang belum tersentuh oleh pencapaian itu.

Enam puluh tujuh ribu sekolah yang diperbaiki layak diapresiasi. Namun, satu sekolah yang belum layak tetap penting bagi anak-anak yang belajar di dalamnya.

Bagi mereka, statistik nasional tidak dapat menggantikan atap yang aman.

Label Mematikan Percakapan

Label bekerja lebih cepat daripada argumentasi.

Kita tidak perlu menjawab seseorang setelah berhasil menamainya sebagai bodoh, pembenci, pengkhianat, pesanan, antek asing, tidak nasionalis, atau tidak tahu berterima kasih.

Begitu label ditempelkan, isi pertanyaan menjadi mudah diabaikan.

Inilah bahaya sebenarnya.

Label bukan sekadar kata. Label dapat menciptakan jarak, menutup telinga, dan memberi alasan kepada orang lain untuk ikut merendahkan pihak yang telah ditandai.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan itu tidak hanya terjadi antara pejabat dan wartawan.

Seorang bawahan dianggap melawan karena meminta alasan di balik keputusan atasannya. Mahasiswa dicap tidak sopan karena mempertanyakan kebijakan kampus. Anak disebut kurang ajar ketika ingin mengetahui mengapa orang tuanya membuat sebuah aturan. Warga dianggap tidak bersyukur karena menunjukkan jalan rusak di tengah banyaknya pembangunan.

Kita terbiasa menilai keberanian bertanya sebagai tanda pembangkangan.

Akibatnya, orang belajar untuk diam. Bukan karena sudah memahami jawabannya, melainkan karena tidak ingin menerima label berikutnya.

Jangan Membuat Orang Takut Bertanya

Demokrasi tidak mensyaratkan bahwa semua pertanyaan harus menyenangkan pemerintah. Pers juga tidak ditugaskan hanya untuk mendokumentasikan keberhasilan.

Pers hadir untuk memeriksa, membandingkan, mengonfirmasi, dan kadang-kadang mempertanyakan cerita resmi.

Tentu, pers juga wajib menjaga akurasi, independensi, serta martabat orang yang diberitakan. Kebebasan bertanya tidak menghapus tanggung jawab untuk bertanya dengan dasar yang jelas dan itikad yang baik.

Namun, tanggung jawab itu harus dijawab dengan koreksi, data, hak jawab, dan perdebatan terbuka. Bukan dengan penghinaan atau tuduhan yang menggantung tanpa bukti.

Baca juga: Ketika Percakapan Menghilang

Sebuah masyarakat tidak akan kehilangan wibawa hanya karena banyak orang bertanya.

Ia justru kehilangan sesuatu yang lebih berharga ketika orang-orang mulai takut mengangkat tangan, menyalakan perekam, atau mengucapkan kalimat, “Mengapa?”

Hari ini, yang menerima label mungkin seorang wartawan.

Besok, bisa jadi guru, peneliti, mahasiswa, pegawai, aktivis, tetangga, atau kita sendiri.

Karena itu, jangan buru-buru membunuh pertanyaan hanya karena kita tidak menyukai bunyinya.

Dengarkan lebih dahulu. Periksa isinya. Luruskan apabila keliru. Jawablah apabila mampu.

Sebab kebesaran seseorang tidak terlihat dari seberapa keras ia membuat penanya terdiam.

Ia terlihat dari seberapa tenang menjawab pertanyaan yang paling tidak ingin didengarnya. ***

Salam literasi

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *