
ADA percakapan yang berhenti pada jawaban, “Nggak apa-apa.”
Kita bertanya sambil melihat ponsel. Ia menjawab sambil tersenyum. Setelah itu, pembicaraan beralih ke pekerjaan, makanan, atau rencana akhir pekan. Kita merasa sudah menanyakan kabarnya. Ia belum tentu merasa punya kesempatan untuk menjawab.
Tentu, jawaban itu bisa berarti seseorang memang baik-baik saja. Kita tidak perlu mencurigai setiap senyum atau menerjemahkan setiap diam sebagai masalah. Namun, dalam hubungan yang dekat sekalipun, ada hal-hal yang sulit diceritakan. Kedekatan tidak otomatis membuat semua percakapan terasa aman.
Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober membawa persoalan ini kembali ke ruang publik. Di tengah pembicaraan tentang layanan dan akses pertolongan, ada bagian yang layak kita renungkan pada Minggu ini. Apa yang terjadi ketika seseorang mencoba bercerita kepada orang terdekatnya?
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie mengingatkan bahwa keluarga berperan penting dalam pemulihan kesehatan mental. Ketika seseorang menarik diri, menurutnya, keluarga sebaiknya tidak memaksa ia bercerita. Bisa jadi, ia belum merasa cukup aman untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaannya.
Pernyataan itu mengajak kita memeriksa sesuatu yang sering luput. Kita ingin orang terdekat terbuka. Tetapi bagaimana kita biasanya menerima keterbukaan mereka?
Percakapan yang Cepat Menjadi Nasihat
Bayangkan seorang teman bercerita tentang lamaran kerja yang belum berbalas. Kalimatnya belum selesai ketika kita menyarankan memperbaiki CV, mengikuti kursus, atau mencoba bidang lain.
Saran itu mungkin berguna. Ia bahkan mungkin sudah melakukan semuanya. Tetapi, kita belum menanyakan bagian mana yang paling membuatnya kewalahan. Kehilangan pemasukan, perasaan tertinggal, atau menghadapi pertanyaan keluarga setiap hari.
Di rumah, percakapan serupa bisa terjadi. Anak mengaku kelelahan, lalu orang tua menceritakan betapa berat kehidupan mereka dahulu. Orang tua sedang ingin memberi perspektif. Anak mungkin menangkap pesan bahwa kesulitannya belum cukup besar untuk dibicarakan.
Baca juga: Nama Berganti, Apa yang Berubah?
Begitu juga ketika pasangan mengeluhkan pekerjaan. Kita buru-buru menjelaskan apa yang seharusnya ia lakukan. Percakapan berubah menjadi evaluasi, padahal ia baru mulai mengurai hari yang buruk.
Niat baik tidak selalu sampai dalam bentuk yang kita harapkan. Kalimat “masih banyak yang lebih susah” mungkin dimaksudkan untuk menghibur. Bagi yang mendengarnya, kalimat itu bisa terasa seperti permintaan untuk segera menutup cerita.
Lalu, pada kesempatan berikutnya, ia menjawab lebih singkat. Kita mengira persoalannya sudah selesai karena ia tidak membahasnya lagi. Padahal, kita belum tahu.
Mendengarkan membutuhkan kesediaan untuk menunda jawaban. Membiarkan seseorang menyelesaikan kalimatnya. Menanyakan hal yang belum kita pahami. Mengakui bahwa pengalaman kita sendiri tidak selalu cukup untuk menjelaskan pengalaman orang lain.

Beban yang Ikut Pulang
Percakapan tentang kesehatan mental juga perlu melihat kehidupan di luar rumah.
Dalam siaran pers pada 9 Oktober, Sekretaris Jenderal FAKTA Indonesia Tubagus Haryo Karbyanto meminta pembangunan kota memperhitungkan beban perjalanan harian, keterjangkauan hunian, dan akses pertolongan. Organisasi itu mendorong kesehatan mental warga menjadi salah satu ukuran pembangunan kota.
Pandangan ini memberi konteks pada keluhan yang mudah kita anggap sebagai sikap kurang tangguh.
Seseorang bisa pulang dalam keadaan lelah setelah menghabiskan waktu panjang di perjalanan. Penghasilannya terserap biaya tempat tinggal dan transportasi. Di kantor, ia menghadapi ketidakpastian pekerjaan. Setibanya di rumah, masih ada tanggung jawab yang menunggu.
Baca juga: Ketika Pintu Lapas Terbuka untuk yang Berpunya
Dalam keadaan seperti itu, nasihat tentang mengatur pikiran hanya menjangkau sebagian persoalan. Ada beban yang membutuhkan perubahan kondisi kerja, transportasi yang lebih layak, atau layanan kesehatan yang terjangkau.
Kita tidak bisa menyimpulkan kondisi mental seseorang hanya dari cerita tentang perjalanan atau pekerjaan. Namun, kita juga tidak semestinya melepaskan ceritanya dari keadaan yang ia hadapi setiap hari.
Refleksi ini berlaku bagi keluarga, tempat kerja, dan pembuat kebijakan. Ketika keluhan berulang, ada baiknya memeriksa keadaan yang melahirkan keluhan tersebut sebelum meminta orang menyesuaikan diri sekali lagi.
Setelah Seseorang Mau Bercerita
Menerima cerita membawa tanggung jawab sederhana, menjaga kepercayaan.
Pengakuan tentang kesulitan pribadi tidak pantas menjadi bahan obrolan grup. Cerita yang dibagikan saat seseorang rapuh juga tidak layak dipakai untuk menyerangnya dalam pertengkaran berikutnya.
Kita tetap memiliki batas. Orang terdekat tidak selalu tahu cara membantu, dan tidak harus menanggung semuanya sendiri. WHO menganjurkan mendengarkan dengan pikiran terbuka, menawarkan dukungan, serta mendorong orang yang mengalami depresi mencari bantuan profesional.
Baca juga: Saat Bumi Bergerak, Siapa yang Kita Cari?
Ada pula orang yang belum ingin bercerita. Ia berhak menentukan waktu dan kepada siapa ia akan terbuka. Perhatian tidak perlu berubah menjadi desakan.
Mungkin kita bisa mulai dengan meletakkan ponsel ketika menanyakan kabar. Menyediakan waktu yang cukup untuk menerima jawaban panjang. Atau bertanya apakah ia ingin didengarkan dahulu atau dibantu memikirkan jalan keluar.
Pada Minggu ini, mungkin ada seseorang yang terlintas dalam ingatan kita. Teman yang belakangan jarang menghubungi. Pasangan yang beberapa kali mencoba membicarakan pekerjaannya. Anggota keluarga yang ceritanya pernah kita potong karena merasa sudah tahu jawabannya.
Kita bisa menghubunginya kembali. Membuka percakapan tanpa menagih penjelasan mengapa ia selama ini diam.
Jika ia mulai bercerita, kali ini biarkan sampai selesai. ***
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA