Kerja ke Jepang, Lulusan SMK Perlu Jalan yang Terjangkau

Ilustrasi pembelajaran bahasa Jepang. Kemampuan bahasa menjadi salah satu bekal untuk mengakses peluang kerja di Jepang. Foto: Gu Ko/ Pexels.

MENDAPAT pekerjaan pertama membutuhkan lebih dari ijazah. Ketika peluang bekerja ke Jepang mulai disiapkan, lulusan SMK juga membutuhkan jawaban yang praktis. Belajar bahasa di mana, mengikuti pelatihan apa, dan siapa yang membayar persiapannya?

Pertanyaan itu mengiringi penjajakan kerja sama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dengan Pemerintah Kota Bandung. Peluangnya menjanjikan. Namun, akses menuju pekerjaan tersebut masih perlu diperjelas.

Wakil Menteri P2MI Christina Aryani bertemu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada Sabtu (10/10/2026). Pembahasan mencakup penyiapan tenaga terampil untuk Jepang, terutama sektor caregiver atau perawatan dan konstruksi. Christina menekankan pelatihan teknis, bahasa Jepang, serta sertifikasi.

Bagi anak muda, kebutuhan itu berarti ada proses sebelum melamar dan berangkat. Kesempatan bekerja di luar negeri perlu diterjemahkan menjadi tahapan yang bisa mereka ikuti, termasuk ketika keuangan keluarga terbatas.

Peluang Kerja Belum Berarti Pendaftaran Dibuka

Christina menyatakan nota kesepahaman dengan Pemkot Bandung akan disiapkan. Artinya, kerja sama ini masih tahap penjajakan. Pengumuman tersebut belum merupakan pembukaan lowongan dengan jadwal, kuota, dan ketentuan pendaftaran.

Perbedaan ini penting. Calon pekerja membutuhkan informasi yang membantu mengambil keputusan, bukan sekadar kabar bahwa negara tujuan membutuhkan tenaga kerja.

Farhan menekankan agar penyiapan pekerja migran menjangkau lulusan vokasi dan warga berpenghasilan rendah. Ia melihat perguruan tinggi, politeknik, sekolah vokasi, serta lembaga pelatihan sebagai modal Bandung.

Baca juga: Kerja ke Luar Negeri, Peluang atau Jalan Terpaksa?

“Bandung memiliki potensi melalui perguruan tinggi, politeknik, sekolah vokasi, dan lembaga pendidikan lainnya untuk menyiapkan tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan pasar kerja internasional,” kata Farhan.

Arah tersebut perlu diikuti penjelasan tentang akses. Lokasi pelatihan, syarat peserta, waktu belajar, dan dukungan pembiayaan akan menentukan siapa yang benar-benar bisa mengikuti persiapan.

Tanpa kejelasan itu, calon peserta sulit menghitung apakah program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka.

Ada Ujian dan Biaya Sebelum Bekerja

Salah satu jalur bekerja di Jepang adalah Specified Skilled Worker (SSW), atau pekerja berketerampilan khusus. Jalur ini menjadi konteks untuk memahami persiapannya; belum ada kepastian bahwa seluruh rencana kerja sama Bandung akan menggunakan skema tersebut.

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia menjelaskan bahwa pemohon jalur SSW harus berusia minimal 18 tahun serta memenuhi persyaratan keterampilan dan kemampuan bahasa Jepang.

Badan Layanan Imigrasi Jepang menyebut calon pekerja SSW kategori pertama pada umumnya perlu lulus ujian bahasa dan keterampilan. Ada pengecualian tertentu bagi peserta yang telah menyelesaikan pemagangan teknis tingkat kedua. Ujian tersebut berbayar.

Baca juga: UU Ketenagakerjaan Baru, Kepastian Kerja Masih Jadi Taruhan

Karena itu, pembahasan keterjangkauan punya dasar konkret. Calon pekerja perlu mengetahui komponen biaya, pihak yang menanggungnya, serta ketentuan bantuan apabila tersedia.

Besaran biaya keseluruhan dan skema pembiayaan untuk rencana kerja sama Bandung belum dijelaskan dalam pemberitaan yang dirujuk. Program ini belum bisa diasumsikan gratis.

Lulus ujian pun belum sama dengan memperoleh pekerjaan. Panduan resmi Jepang menjelaskan bahwa calon pekerja masih harus melalui wawancara untuk mendapatkan kontrak dengan perusahaan.

Persiapan Harus Terhubung dengan Pekerjaan

Di sinilah mutu program akan terlihat. Pelatihan perlu terhubung dengan kebutuhan pemberi kerja, sehingga peserta memahami pekerjaan yang dituju dan kemampuan yang harus dikuasai.

Informasi tentang kontrak, penghasilan, potongan, tempat tinggal, dan saluran bantuan juga perlu tersedia sebelum calon pekerja mengambil keputusan. Mereka harus bisa menghitung kehidupan yang akan dijalani, bukan hanya membayangkan gaji di negara tujuan.

Baca juga: Tarif Transportasi Jakarta Akan Naik, Ongkos Kerja Makin Berat?

Penjajakan Bandung membuka harapan bagi lulusan SMK dan diploma. Langkah berikutnya adalah membuat harapan tersebut dapat diperiksa. Siapa yang menerima peserta, bagaimana seleksinya, dan berapa biaya yang harus disiapkan.

Anak muda yang ingin bekerja ke Jepang membutuhkan jalan yang jelas sejak di Indonesia. Keterampilan mereka perlu dibangun, tetapi kemampuan keluarga membiayai persiapan juga harus diperhitungkan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *