
PUKUL 04.23 WIB (Selasa 12/9/2026), ketika sebagian kota masih terlelap, tempat tidur terasa bergerak. Lampu bergoyang. Pintu berderak pelan. Beberapa orang terbangun dan bertanya dalam hati, gempa atau hanya mimpi?
Tangan lalu meraih benda yang hampir selalu berada paling dekat saat kita tidur, ponsel.
Bukan hanya untuk membuka informasi BMKG. Ada nama-nama tertentu yang ingin segera dicari. Orang tua yang tinggal sendiri. Anak yang sedang jauh dari rumah. Pasangan di kota lain. Teman yang menghuni lantai tinggi apartemen.
“Kamu aman?”
Pesannya pendek. Tetapi, barangkali itulah kalimat paling jujur yang lahir pada pagi itu.
Gempa bermagnitudo 5,9 mengguncang sekitar Kepulauan Seribu, Sabtu, 12 September 2026. BMKG mencatat pusat gempa berada pada kedalaman 376 kilometer dan tidak berpotensi tsunami. Getarannya dirasakan di Jakarta dan sejumlah wilayah lain.
Karena terjadi jauh di bawah permukaan bumi, energinya dapat merambat hingga kawasan yang luas. Bagi penghuni bangunan tinggi, ayunan bahkan bisa terasa lebih kentara dan berlangsung sedikit lebih lama.
Namun, angka tidak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang dialami orang ketika terbangun mendadak dalam gelap.
Baca juga: Generasi Paling Terhubung yang Kehilangan Teman
Otak membutuhkan waktu untuk berpindah dari tidur menuju kesadaran penuh. Ada fase yang disebut sleep inertia, yakni beberapa saat ketika kewaspadaan, orientasi, dan kemampuan mengambil keputusan belum bekerja seperti biasanya.
Kita mendengar bunyi, tetapi belum memahami asalnya. Kita merasakan gerakan, tetapi tidak segera tahu apakah tubuh, tempat tidur, atau seluruh bangunan yang sedang bergoyang.
Beberapa detik pun terasa lebih panjang.
Pada siang hari, getaran kecil bisa tersamarkan oleh suara kendaraan, orang berjalan, kursi bergeser, dan berbagai kesibukan. Dini hari memberi pengalaman berbeda. Lingkungan begitu sunyi sehingga gerakan lampu atau derit jendela terasa lebih jelas.

Di tengah ketidakpastian itu, ponsel menjadi alat pencari kepastian. Kita membuka lini masa dan menemukan banyak orang menuliskan pertanyaan serupa: “Ada yang merasakan gempa?”
Internet yang sehari-hari dipenuhi perdebatan mendadak berubah menjadi ruang untuk saling memastikan keselamatan. Orang asing menjawab orang asing. Kabar dari satu wilayah disambut laporan dari wilayah lain.
Tetapi setelah mengetahui bahwa kita aman, perhatian biasanya bergerak kepada orang lain.
Ada alasan mengapa nama tertentu muncul lebih dahulu daripada nama-nama lain. Dalam keadaan genting, kita tidak sempat menyusun daftar berdasarkan sopan santun atau kewajiban. Ingatan langsung menuju orang yang keberadaannya paling berarti.
Bencana kecil sekalipun seperti menyingkap peta hubungan yang selama ini tersembunyi. Siapa yang kita pikirkan saat rasa aman mendadak hilang? Siapa yang kita harapkan menghubungi kita lebih dahulu? Dan siapa yang ternyata tidak terpikirkan sama sekali?
Baca juga: Kita Berlari, tetapi ke Mana?
Barangkali bumi tidak hanya membangunkan tubuh pada pagi itu. Tapi, juga membangunkan kesadaran bahwa banyak hal yang terlihat kokoh sebenarnya dapat bergerak. Mulai lantai tempat kita berdiri, dinding yang melindungi, juga hidup yang kita anggap akan selalu berjalan seperti biasa.
Gempa itu berlangsung singkat. Setelahnya, lampu berhenti bergoyang. Orang-orang kembali ke tempat tidur. Kota perlahan memulai Sabtu seperti biasanya.
Namun, sebuah pesan telanjur terkirim.
“Kamu aman?”
Mungkin kita tidak harus menunggu bumi bergerak untuk mengirimkannya. ***
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA