
GAJI baru masuk, tetapi daftar keinginan sudah panjang. Ada sepatu yang muncul di video ulasan, tempat brunch yang dibagikan teman, sampai rencana liburan setelah melihat unggahan rekan kantor. Padahal, sebelum membuka media sosial, semuanya belum masuk rencana.
Pernah berada di situasi seperti ini? Kita bekerja dan menerima penghasilan sendiri, tetapi ukuran tentang hidup yang menyenangkan perlahan mengikuti apa yang lewat di layar.
Menikmati hasil kerja tentu sah-sah saja. Namun, ada baiknya sesekali memeriksa. Pengeluaran ini memang kita inginkan, atau baru terasa perlu setelah melihat kehidupan orang lain?
Keinginan Datang dari Layar
Bayangkan pagi yang dimulai dengan membuka linimasa. Seorang teman mengunggah kopi dari kafe baru. Berikutnya, kreator favorit memperlihatkan tas untuk bekerja. Beberapa geseran kemudian, muncul video liburan singkat dengan pemandangan yang menggoda.
Dalam perjalanan menuju kantor, kita sudah menyimpan beberapa tautan. Belum tentu langsung membeli, tetapi daftar keinginan bertambah sebelum pekerjaan hari itu dimulai.
Baca juga: Pura-pura Kaya di Media Sosial, Ini Tandanya
Satu unggahan memang hanya memperlihatkan sebagian kehidupan seseorang. Kita belum tentu mengetahui berapa lama ia menabung, apakah barang itu dipinjam, atau apakah perjalanan tersebut bagian dari pekerjaan.
Ketika potongan kehidupan banyak orang kita jadikan satu patokan, daftar pengeluaran yang ingin diikuti bisa terasa tidak ada habisnya.
Pengingat Terbaru dari OJK
Persoalan ini memiliki kaitan dengan pengingat Otoritas Jasa Keuangan pada Selasa, 27 Oktober 2026. Dalam kegiatan di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta, Friderica Widyasari Dewi mengingatkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai pemahaman dan perilaku keuangan yang sehat.
Ketua Dewan Komisioner OJK itu juga menyoroti bagaimana unggahan liburan, kendaraan mewah, dan gaya hidup dapat memunculkan dorongan mengikuti standar kehidupan di media sosial. OJK turut mengingatkan risiko pinjaman daring dan layanan beli sekarang bayar nanti atau paylater.
Pengingat tersebut bisa menjadi bahan refleksi sederhana: saat tertarik membeli sesuatu, sudahkah kita melihat dampaknya terhadap pengeluaran sendiri?
Pengeluaran Kecil Ikut Menumpuk
Coba bayangkan seseorang yang semula hanya berencana makan siang dari rumah. Setelah melihat rekomendasi tempat makan, ia memesan makanan. Sorenya, ada ajakan mencoba kafe baru. Malam hari, barang yang tersimpan di keranjang terasa sayang dilewatkan karena sedang diskon.
Setiap transaksi punya alasan yang terdengar masuk akal. Namun, ketika dikumpulkan, jumlahnya mungkin mengambil ruang yang sebelumnya disiapkan untuk kebutuhan lain.
Baca juga: HYROX Mengambil Alih Obrolan Anak Gym Jakarta
Karena itu, melihat kembali riwayat transaksi dapat membantu kita mengenali pola. Pembelian mana yang benar-benar dinikmati? Mana yang setelah sampai justru jarang dipakai?
Jawabannya bisa berbeda pada setiap orang. Sepatu baru mungkin berguna bagi seseorang, sementara orang lain lebih puas menyimpan uangnya untuk perjalanan yang sudah lama direncanakan.
Tentukan Ukuran Nyaman Sendiri
Sebelum checkout barang di luar rencana, coba beri jeda sampai besok. Gunakan waktu itu untuk memeriksa barang serupa yang sudah dimiliki dan kebutuhan yang masih harus dibayar.
Pertanyaan lain yang bisa diajukan, kalau barang ini tidak bisa difoto atau dibagikan, apakah kita masih menginginkannya?
Kita juga boleh melewatkan ajakan yang belum sesuai anggaran, memilih tempat bertemu yang lebih terjangkau, atau berhenti mengikuti akun yang terus membuat belanja terasa mendesak.
Baca juga: Pura-pura Bahagia Bisa Terbaca dari Media Sosial?
Pagi ini, sebelum menambah daftar keinginan, tengok lagi rencana yang dibuat ketika menerima gaji. Mungkin ada tabungan yang ingin diisi, kebutuhan keluarga yang ingin dipenuhi, atau sekadar ruang bernapas sampai akhir bulan.
Gaji sendiri layak digunakan untuk kehidupan yang kita pilih. Termasuk pilihan untuk menikmati sesuatu tanpa harus mengikuti seluruh isi linimasa.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.