
Wajah yang Berganti, Ruang yang Sama
DI PENGHUJUNG tahun, Bundaran HI, Jakarta, bersinar dengan ornamen Natal. Lampu tematik dan dekorasi musiman menghiasi ruang yang setiap hari menjadi titik temu ribuan orang.
Waktu berlalu. Memasuki Februari, kawasan yang sama berubah menyambut Imlek. Lampion dan warna merah hadir, memberi suasana baru pada ruang publik yang tak pernah benar-benar sepi.
Tak lama kemudian, menjelang Ramadan, dekorasi kembali berganti.
Satu lokasi.
Tiga momentum.
Ruang yang sama.
Kota berganti rupa, tetapi tidak berganti pemilik.
Ruang Publik dan Rasa Memiliki
Ruang publik bukan sekadar tempat melintas. Ini adalah pernyataan tanpa kata tentang siapa saja yang diakui keberadaannya.
Ketika satu ruang memberi tempat bagi berbagai perayaan secara bergantian, pesan yang muncul sederhana, kota ini cukup luas untuk banyak warna.
Tidak ada simbol yang menetap selamanya.
Tidak ada satu wajah yang mendominasi sepanjang waktu.
Baca juga: Aksara | Satu Pekan, Dua Momentum
Yang ada adalah pergantian.
Dan kesediaan untuk memberi ruang.
Guyub yang Terlihat
Guyub tidak selalu lahir dari pidato panjang. Harmoni hadir lewat praktik yang berulang dan konsisten.
Dekorasi yang berganti.
Simbol yang datang dan pergi.
Ruang yang tetap terbuka.
Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli
Kehidupan berdampingan tidak harus seragam. Namun, cukup saling memberi tempat.
Indonesia terlalu beragam untuk hidup dalam satu warna saja. Maka ruang publik yang lapang adalah salah satu cara merawat kebersamaan.

Lebih dari Sekadar Hiasan
Barangkali pelajaran terbesarnya bukan pada lampion atau lampu tematiknya. Melainkan pada kesediaan kota untuk terus berganti tanpa merasa terancam.
Berdampingan bukan berarti menyamakan.
Harmoni berarti memahami bahwa ruang ini cukup luas untuk semua.
Baca juga: Aksara: Hari Pertama Tahun
Dan mungkin, dari sebuah bundaran yang berganti hiasan, kita belajar bahwa guyub tidak harus dirayakan dengan gaduh. Cukup dijalankan dengan konsisten. ***
Salam literasi.
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA