Hidup Bukan Lomba, Berhenti Mengukur Diri dari Orang Lain

Media sosial sering menampilkan bagian terbaik dari hidup seseorang. Tanpa disadari, kita lalu membandingkannya dengan seluruh proses hidup sendiri. Foto: SHVETS production / Pexels.

PERNAH membuka media sosial hanya untuk mencari hiburan, tetapi malah merasa hidup sendiri tertinggal?

Teman sudah mendapat pekerjaan baru. Orang lain memamerkan wisuda, liburan, pasangan, rumah, atau tubuh yang terlihat ideal. Dalam beberapa menit, suasana hati bisa berubah. Kehidupan yang sebelumnya terasa baik-baik saja mendadak terlihat kurang.

Kebiasaan ini dikenal sebagai perbandingan sosial. Manusia memang kerap menilai kondisi dirinya dengan melihat orang lain. Namun, media sosial membuat proses tersebut terjadi lebih sering, cepat, dan tanpa batas.

Masalahnya, yang dibandingkan sering kali tidak seimbang. Kita membawa seluruh kekhawatiran, kegagalan, dan proses hidup sendiri. Sementara itu, yang terlihat dari orang lain hanyalah beberapa detik terbaik mereka.

Riset menunjukkan bahwa perbandingan ke atas di media sosial, yakni melihat orang yang dianggap lebih sukses, menarik, atau bahagia, berkaitan dengan menurunnya rasa percaya diri dan kepuasan hidup. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang. Cara menggunakan media sosial dan jenis konten yang dikonsumsi ikut menentukan.

Kita Melihat Panggung Depan

Media sosial adalah ruang kurasi.

Orang memilih foto terbaik, pencapaian paling membanggakan, serta momen yang layak dibagikan. Pertengkaran, kegagalan, utang, rasa takut, dan malam-malam penuh keraguan biasanya tetap berada di luar layar.

Karena itu, membandingkan kehidupan nyata dengan unggahan orang lain hampir selalu tidak adil.

Kita sedang membandingkan rekaman penuh kehidupan sendiri dengan cuplikan terbaik kehidupan seseorang. Kesuksesan mereka terlihat cepat karena proses panjangnya tidak ikut masuk ke layar.

Ketika melihat seseorang berada di tempat yang kita inginkan, ingatlah bahwa unggahan tersebut tidak menceritakan seluruh perjalanan.

Setiap Orang Punya Waktu

Ada teman yang menemukan pekerjaan impian pada usia 22 tahun. Ada yang baru memahami arah hidupnya setelah usia 30 tahun. Ada yang cepat menikah, tetapi lambat membangun karier. Ada pula yang terlihat mapan, tetapi masih berjuang berdamai dengan dirinya sendiri.

Kehidupan tidak berjalan menggunakan satu jadwal bersama.

Baca juga: Pura-pura Kaya di Media Sosial, Ini Tandanya

Masalah muncul ketika kita membandingkan bab pertama hidup sendiri dengan bab kesepuluh milik orang lain. Kita hanya melihat posisi mereka hari ini, tanpa mengetahui modal, kesempatan, dukungan, kegagalan, dan keputusan yang mengantar mereka ke sana.

Perbedaan waktu bukan bukti bahwa seseorang kalah. Bisa jadi, jalurnya memang berbeda.

Pencapaian Bukan Harga Diri

Prestasi tentu penting. Nilai bagus, pekerjaan, penghasilan, tubuh sehat, atau bisnis yang berkembang layak dirayakan.

Namun, pencapaian tidak menentukan seluruh nilai seseorang.

Harga diri yang hanya bergantung pada prestasi akan mudah naik dan jatuh. Kita merasa berharga ketika lebih unggul. Sebaliknya, kita merasa gagal ketika melihat orang lain bergerak lebih cepat.

Baca juga: Pura-pura Bahagia Bisa Terbaca dari Media Sosial?

Padahal, nilai seseorang juga tumbuh dari integritas, keberanian, kepedulian, dan caranya memperlakukan orang lain. Hal-hal itu tidak selalu terlihat dalam CV atau unggahan Instagram.

Kamu tetap berharga meski belum sampai ke tujuan.

Ubah Iri Menjadi Informasi

Merasa iri bukan berarti kita buruk. Perasaan tersebut bisa menjadi petunjuk tentang sesuatu yang sebenarnya kita inginkan.

Ketika iri melihat karier seseorang, tanyakan bagian mana yang menarik. Apakah kebebasan finansialnya, keterampilannya, atau keberaniannya mengambil peluang?

Setelah itu, ubah rasa iri menjadi langkah kecil. Cari kursus. Rapikan portofolio. Hubungi orang yang bisa memberi perspektif. Susun target yang sesuai dengan kebutuhan sendiri.

Pencapaian orang lain dapat menjadi peta. Namun, hidup mereka tidak harus menjadi tujuan kita.

Atur Ulang Ruang Digital

Berhenti membandingkan diri tidak berarti harus menghapus semua aplikasi. Kita bisa memulai dengan mengatur apa yang masuk ke layar.

Berhenti mengikuti akun yang terus memicu rasa tidak cukup. Batasi kebiasaan menggulir tanpa tujuan. Cari konten yang memberi pengetahuan, kedekatan, atau inspirasi yang realistis.

Baca juga: 4 Kalimat yang Bisa Jadi Tanda Kamu Sedang Kehilangan Percaya Diri

Sebuah penelitian yang dipublikasikan American Psychological Association menemukan bahwa remaja dan dewasa muda yang mengurangi penggunaan media sosial selama beberapa minggu mengalami perbaikan dalam penilaian terhadap berat badan dan penampilan mereka.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan dengan seluruh orang di internet.

Ukuran yang lebih sehat adalah membandingkan diri hari ini dengan diri sendiri beberapa waktu lalu. Tidak harus selalu lebih sukses. Cukup lebih sadar, lebih berani, atau satu langkah lebih dekat dengan kehidupan yang benar-benar kita inginkan.***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *