
KEBAYA dulu lebih sering keluar dari lemari ketika undangan pernikahan datang.
Kebaya dikenakan untuk wisuda, peringatan Hari Kartini, acara keluarga, atau upacara resmi. Setelah itu, kebaya kembali disimpan dan menunggu momen besar berikutnya.
Namun, pemandangan tersebut mulai berubah.
Anak muda memadukan kebaya dengan celana panjang, rok sederhana, sneakers, bahkan tote bag. Mereka memakainya untuk datang ke kampus, bekerja, mengunjungi pameran, berjalan-jalan, hingga membuat konten di media sosial.
Kebaya tidak lagi hanya hadir di pelaminan. Tapi, mulai masuk ke kehidupan sehari-hari.
Perubahan kecil itu menjadi penting ketika Indonesia memperingati Hari Kebaya Nasional pada Jumat, 24 Juli 2026.
Peringatan tahun ini menjadi yang ketiga sejak pemerintah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.
Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung di Hall Ballroom Senayan City, Jakarta. Sekitar 1.300 peserta akan hadir dengan berbagai gaya kebaya dan wastra Nusantara.
Namun, masa depan kebaya mungkin tidak hanya ditentukan oleh acara besar. Kebaya juga tumbuh melalui keputusan sederhana anak muda yang memilih mengenakannya tanpa harus menunggu undangan.
Tradisi Menemukan Gaya Baru
Bagi sebagian generasi muda, kebaya pernah dianggap terlalu formal, rumit, atau identik dengan penampilan orang tua.
Cara memakainya dinilai memiliki terlalu banyak aturan. Modelnya juga dianggap kurang praktis untuk aktivitas sehari-hari.
Media sosial perlahan mengubah persepsi tersebut.
Berbagai video memperlihatkan kebaya dipadukan dengan pakaian yang lebih kasual. Kain tradisional tidak selalu dililit dalam bentuk klasik. Pilihan warna, aksesori, dan alas kaki pun semakin personal.
Baca juga: Kebaya, Warisan Budaya Indonesia yang Mendunia
Kebaya kemudian tidak hanya berbicara tentang kepatuhan pada tata busana. Sebaliknya, menjadi alat untuk menunjukkan identitas.
Sebuah kajian Universitas Negeri Yogyakarta mengenai tren berkain di kalangan Gen Z mencatat bahwa media sosial ikut memperluas penggunaan kain tradisional dalam aktivitas harian.
Generasi muda tertarik karena busana tradisional menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan pada pakaian produksi massal: keunikan, cerita, serta hubungan dengan identitas budaya.
Mereka tidak selalu ingin terlihat sepenuhnya tradisional. Namun, mereka juga tidak ingin kehilangan jejak dari mana gaya itu berasal.
Di titik itulah kebaya menemukan ruang baru.
Kebaya dapat tetap membawa sejarah, tetapi hadir dengan cara yang lebih lentur.

Diakui Dunia, Dimiliki Bersama
Posisi kebaya semakin kuat setelah UNESCO memasukkan “Kebaya: Knowledge, Skills, Traditions and Practices” ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada Desember 2024.
Pengakuan tersebut diajukan bersama oleh Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Artinya, kebaya bukan hanya hidup dalam satu negara atau satu kelompok etnis. Busana ini tumbuh melalui perjumpaan budaya yang panjang di Asia Tenggara.
Pengakuan bersama itu tidak mengurangi arti kebaya bagi Indonesia. Sebaliknya, kebaya menunjukkan bahwa sebuah warisan dapat menjadi bagian dari identitas nasional sekaligus menghubungkan masyarakat lintas batas.
Baca juga: Sejarah Kebaya, dari Tradisi hingga Modernitas
UNESCO juga tidak hanya mengakui bentuk pakaiannya.
Yang dinilai sebagai warisan mencakup pengetahuan, keterampilan membuat kebaya, tradisi mengenakannya, serta proses mewariskan pengetahuan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, pelestarian kebaya tidak berhenti pada banyaknya orang yang mengenakannya.
Ada penjahit, pembuat pola, penyulam, pengrajin aksesori, pembuat kain, hingga pelaku usaha kecil yang menjaga kebaya tetap hidup.
Tanpa mereka, kebaya dapat populer sebagai tampilan, tetapi perlahan kehilangan pengetahuan yang membentuknya.
Mengapa Diperingati Setiap 24 Juli?
Pemilihan 24 Juli bukan sekadar mengambil tanggal kosong dalam kalender.
Tanggal tersebut merujuk pada Kongres Wanita Indonesia X yang berlangsung pada 1964. Presiden pertama RI Soekarno hadir dalam pembukaan kongres yang diikuti perempuan Indonesia dengan mengenakan kain dan kebaya.
Pemerintah kemudian menilai kebaya sebagai identitas nasional yang bersifat lintas etnis dan telah berkembang menjadi aset budaya penting.
Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional, tetapi bukan sebagai hari libur.
Pesannya cukup jelas. Kebaya tidak diminta hidup hanya di dalam museum atau perayaan seremonial. Kebaya diharapkan tetap hadir di tengah masyarakat yang terus berubah.
Jangan Berhenti Menjadi Tren
Kembalinya kebaya ke ruang anak muda membawa peluang besar.
Desainer muda dapat menciptakan model yang lebih nyaman. UMKM memperoleh pasar baru. Penjahit dan perajin memiliki kesempatan menjangkau konsumen melalui platform digital.
Namun, popularitas juga membawa tantangan.
Ketika kebaya hanya diperlakukan sebagai tren visual, orang dapat mengenakan bentuknya tanpa memahami cerita, proses, atau orang-orang yang membuatnya.
Baca juga: Perjalanan Kebaya: Melestarikan Tradisi di Tengah Modernisasi
Inovasi juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Kebaya boleh berubah mengikuti zaman, tetapi jangan sampai perajin tradisional tersingkir dari rantai nilai yang tumbuh di sekitarnya.
Anak muda tidak harus mengenakan kebaya dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya. Tradisi memang bertahan karena diwariskan, tetapi juga karena diberi ruang untuk berkembang.
Yang perlu dijaga bukan hanya aturan cara berpakaian. Lebih penting dari itu adalah hubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan manusia di baliknya.
Karena masa depan kebaya tidak ditentukan oleh seberapa sering muncul dalam seremoni.
Masa depannya justru terlihat ketika seseorang merasa tidak memerlukan acara khusus untuk mengenakannya.
Kebaya telah keluar dari lemari. Kini, kebaya berjalan bersama generasi baru. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.