
BATUK di sebelah meja kerja. Teman sekelas mendadak demam. Grup keluarga meneruskan pesan tentang “super flu”. Dalam hitungan menit, gejala yang biasa ditemui sehari-hari bisa berubah menjadi pertanyaan besar, apakah ini flu biasa atau sesuatu yang lebih berbahaya?
Istilah “super flu” sedang dipakai untuk menyebut influenza A(H3N2) subclade K. Namanya terdengar seperti virus baru. Padahal, H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Yang perlu diperhatikan adalah penularan dan kondisi orang yang sakit, bukan kesan menakutkan dari julukannya.
Angkanya Naik, Apa Artinya?
Laporan pengawasan Kementerian Kesehatan yang diperbarui pada 26 September mencatat 148 hasil positif influenza dari 265 spesimen yang diperiksa pada pekan ke-37. Proporsinya sekitar 56 persen, naik dari 44 persen pada pekan sebelumnya. Namun, angka itu menunjukkan hasil pada spesimen yang diperiksa, bukan berarti 56 persen penduduk Indonesia terkena flu. Kemenkes juga menyebut data beberapa pekan terakhir masih sementara.
Ada detail yang mudah terlewat ketika semua kasus disebut “super flu”. Dari 148 hasil positif tersebut, laporan Kemenkes mencatat 135 kasus influenza A(H1N1)pdm09 dan sembilan kasus A(H3N2). Jadi, kenaikan hasil positif influenza pada pekan itu tidak bisa langsung dianggap sebagai lonjakan subclade K. Untuk subclade K sendiri, Kemenkes mencatat 22 kasus sepanjang pekan pertama hingga ke-37 tahun 2026, tersebar di enam provinsi.
Baca juga: Superflu Bukan COVID-19, Ini Penjelasan Menkes yang Perlu Diketahui
Sinyal untuk tetap waspada memang ada. Pada pekan yang sama, proporsi pasien dengan gejala mirip influenza di puskesmas pemantau naik dari 0,40 menjadi 0,51 persen dari seluruh kunjungan. Proporsi infeksi saluran pernapasan akut berat di rumah sakit pemantau juga naik dari 1,22 menjadi 1,71 persen dari seluruh pasien rawat inap. Meski begitu, Kemenkes masih menggolongkan aktivitas influenza nasional sebagai rendah. Dua hal itu bisa benar sekaligus: indikator tertentu meningkat, tetapi situasi nasional belum dinyatakan melonjak ke tingkat tinggi.
Jangan Menebak dari Gejala
Demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri badan, dan lelah dapat muncul pada influenza. Infeksi pernapasan lain pun bisa memberi gejala serupa. Karena itu, seseorang tidak dapat memastikan dirinya terkena subclade K hanya dari rasa sakit yang dialami atau dari pesan yang beredar di media sosial. Diagnosis yang pasti memerlukan pemeriksaan yang sesuai.
Bagi kebanyakan orang, langkah awalnya sederhana: beristirahat, cukup minum, dan mengurangi kontak dengan orang lain saat sakit. Jika harus keluar untuk berobat, memakai masker dan menjaga kebersihan tangan membantu mengurangi risiko menularkan virus. Orang yang sedang sakit dapat kembali beraktivitas ketika gejalanya membaik dan sudah bebas demam setidaknya 24 jam tanpa obat penurun panas.
Baca juga: Super Flu Sudah Masuk Indonesia, Apa yang Perlu Dilakukan?
Perhatian lebih diperlukan untuk anak kecil, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh lemah. Mereka sebaiknya menghubungi tenaga kesehatan lebih awal ketika mengalami gejala. Keluhan yang berat juga perlu dinilai oleh tenaga medis. Obat antivirus bukan sesuatu yang diminum ramai-ramai hanya karena sebuah istilah sedang viral; penggunaannya perlu keputusan klinis.
Pagi ini, pertanyaan yang lebih berguna daripada “apakah super flu sudah dekat?” ialah, jika sedang sakit, apakah kita memberi tubuh waktu pulih dan melindungi orang di sekitar? Waspada dimulai dari membaca data dengan benar, lalu bertindak sesuai kondisi—bukan dari menebak jenis virus lewat gejala. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.