Tak Ada yang Benar-benar Milik Kita

Dokumentasi pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Listyo Sigit Prabowo. Jabatan membawa kepercayaan yang harus dijaga dan kewenangan yang perlu dipertanggungjawabkan. Foto arsip: BPMI Setpres/ setkab.go.id.

PULUHAN tahun lalu, saya menulis kalimat pendek di bio media sosial, Nothing is really ours. Tak ada yang benar-benar milik kita.

Kalimat itu masih di sana. Kehidupan bergerak, pekerjaan berganti, usia bertambah. Namun, sesekali sebuah peristiwa membuat saya membacanya kembali, lalu bertanya, sudahkah saya menjalani apa yang saya tuliskan sendiri?

Pekan ini, pertanyaan itu muncul setelah membaca berita tentang mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia menjadi tersangka dugaan penyadapan ilegal yang disebut menyasar Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pihak lain. Hingga pengumuman kepolisian pada Kamis, 5 November 2026, empat jenderal telah ditetapkan sebagai tersangka. Tiga ditahan, seorang lainnya belum ditahan karena kondisi kesehatan.

Perkara tersebut masih berproses. Status tersangka bukan putusan bersalah. Kita perlu menjaga batas itu, termasuk ketika sebuah berita mengguncang perasaan dan mengundang begitu banyak penilaian.

Namun, tanpa mendahului pengadilan, ada ruang untuk bercermin, seberapa jauh kita mengenali diri sendiri di luar jabatan?

Penghormatan kepada Siapa

Ada penghormatan yang datang sebelum orang mengenal kita. Pintu dibukakan. Kursi disiapkan. Telepon segera dijawab. Permintaan lekas dikerjakan.

Bila berlangsung lama, perlakuan itu dapat terasa sebagai sesuatu yang sewajarnya kita terima. Kita mulai sulit membedakan mana penghargaan kepada pribadi, mana pelayanan kepada jabatan.

Baca juga: Nama Berganti, Apa yang Berubah?

Barangkali kita baru menyadari perbedaannya setelah tidak lagi menduduki kursi yang sama. Pesan menunggu balasan. Undangan berkurang. Pendapat yang dahulu disambut antusias kini harus mencari kesempatan untuk didengar.

Pada saat seperti itu, kita berhadapan dengan pertanyaan yang selama ini tertutup kesibukan, siapa saya ketika orang tidak lagi membutuhkan kewenangan saya?

Kuasa Memerlukan Batas

Jabatan memberi kemampuan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan orang lain. Karena itu, jabatan selalu membawa tanggung jawab yang lebih besar daripada fasilitasnya.

Baca juga: Kita Sering Lupa Setelah Selamat

Di kantor, seseorang dapat menentukan promosi bawahannya. Di perusahaan, keputusan seorang pemimpin menyangkut penghasilan banyak keluarga. Di ruang redaksi, pilihan menerbitkan sebuah berita dapat memengaruhi nama baik seseorang.

Kita semua memiliki wilayah kuasa, meskipun ukurannya berbeda.

Kesadaran bahwa jabatan hanya sementara seharusnya membuat kita lebih bersedia diperiksa, dikoreksi, dan diingatkan. Kita membutuhkan orang yang dapat mengatakan bahwa keputusan kita keliru, bahkan ketika orang lain memilih diam.

Kesediaan mendengar koreksi perlu dirawat selama kita masih mempunyai kesempatan untuk mengubah keputusan.

Amanah dalam Genggaman

Ungkapan “tak ada yang benar-benar milik kita” mudah terdengar pasrah. Padahal, bagi saya, kalimat itu justru menuntut kehati-hatian.

Sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dijaga. Kewenangan mesti digunakan sesuai batasnya. Kepercayaan perlu dibalas dengan kejujuran. Kesempatan memimpin menuntut kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan.

Baca juga: Generasi Paling Terhubung yang Kehilangan Teman

Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut memang menyimpan rahasia Ilahi. Kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan. Tetapi ketidaktahuan tentang hari esok tidak menghapus tanggung jawab atas pilihan hari ini.

Ada yang berada di luar kendali kita. Ada pula yang setiap hari menunggu keputusan kita. Mendengar atau mengabaikan, menahan diri atau melampaui batas, mengakui kesalahan atau terus mencari pembenaran.

Membaca Diri Kembali

Berita tentang orang yang berhadapan dengan hukum mudah membuat kita merasa berada di tempat yang lebih baik. Dari kejauhan, kita lekas menilai hidup seseorang melalui beberapa potong kabar.

Saya ingin menahan diri di sana. Proses hukum harus menguji dugaan terhadap para tersangka secara terbuka dan adil. Sementara itu, refleksi membawa saya kembali kepada kalimat di bawah foto profil sendiri.

Nothing is really ours.

Puluhan tahun setelah menuliskannya, saya masih belajar. Terutama untuk tidak terlalu menggenggam sesuatu yang memang hanya dipercayakan sementara.

Sebab suatu hari, jabatan akan diserahkan. Yang tersisa pada orang-orang yang pernah bekerja bersama kita adalah ingatan tentang bagaimana kita memperlakukan mereka ketika masih berkuasa. ***

Salam literasi

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *