
JAKARTA, mulamula.id – Tanaman berkayu kini tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber kayu atau bahan bakar tradisional. Di tangan ilmuwan, tanaman mulai dirancang seperti “pabrik biologis” untuk menghasilkan energi hijau dan bioproduk ramah lingkungan.
Inilah arah baru yang sedang dikembangkan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN melalui rekayasa metabolik dinding sel tanaman.
Teknologi ini dinilai bisa menjadi jalan penting bagi Indonesia untuk mempercepat bioenergi, bioetanol, hingga industri rendah emisi berbasis biomassa.
Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Sri Hartanti, mengatakan biomassa tanaman sebenarnya menyimpan potensi besar untuk masa depan energi bersih. Namun selama ini, strukturnya terlalu kompleks sehingga sulit diolah secara efisien.
“Jawaban langsungnya, rekayasa metabolik memungkinkan biomassa tanaman lebih mudah diubah menjadi bioenergi dengan biaya dan energi yang lebih rendah,” ujarnya dalam orasi pengukuhan profesor riset di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Biomassa Tak Lagi Sekadar Limbah
Biomassa adalah material organik dari tumbuhan yang dapat diubah menjadi energi, bahan bakar, atau produk industri lain.
Di Indonesia, sumber biomassa sangat melimpah. Mulai dari limbah pertanian, residu kehutanan, hingga tanaman seperti sengon, akasia, bambu, dan kelapa sawit.
Masalahnya, biomassa tanaman berkayu memiliki kandungan lignin tinggi. Lignin adalah senyawa alami yang membuat struktur tanaman kuat dan keras. Namun dalam industri bioenergi, lignin justru menjadi hambatan karena membuat biomassa sulit diurai menjadi gula untuk produksi bioetanol.
Akibatnya, proses konversi menjadi mahal, boros energi, dan membutuhkan banyak bahan kimia.
Baca juga: Sensor Nano Ini Bisa Bongkar Pangan Palsu dan Polusi Lebih Cepat
Sri menjelaskan, pendekatan rekayasa metabolik dilakukan dengan memodifikasi komposisi lignin, selulosa, dan hemiselulosa agar biomassa lebih mudah diproses.
Hasilnya cukup signifikan.
Efisiensi konversi biomassa disebut bisa meningkat hingga 30–40 persen. Kebutuhan energi dan biaya produksi juga ikut turun.
Era Tanaman “By Design”
Perkembangan teknologi molekuler membuat tanaman kini bisa direkayasa secara lebih presisi.
Teknologi seperti CRISPR-Cas memungkinkan ilmuwan mengedit bagian tertentu dari genom tanaman untuk menghasilkan karakter biomassa yang lebih ideal bagi industri energi hijau.
Konsep ini dikenal sebagai biomass by design.
Artinya, biomassa tidak lagi hanya dipanen dari alam apa adanya, tetapi dirancang sejak awal agar sesuai kebutuhan industri bioenergi dan bioindustri modern.

Riset BRIN pada sengon, mangium, dan kelapa sawit menunjukkan biomassa dengan kadar lignin rendah dan selulosa tinggi lebih mudah dikonversi menjadi bioetanol.
Dalam beberapa eksperimen, efisiensi produksi bioetanol bahkan meningkat hingga 1,4 kali.
Pada sengon transgenik, peneliti berhasil menurunkan kadar lignin hingga sekitar 45 persen melalui modifikasi genetik tertentu.
Penurunan itu membuat biomassa lebih mudah diproses untuk kebutuhan pulp maupun energi.
Peluang Besar Ekonomi Hijau
Pengembangan bioenergi berbasis biomassa mulai dipandang strategis di tengah dorongan global menuju ekonomi rendah karbon.
Bioenergi adalah energi yang dihasilkan dari bahan biologis seperti tumbuhan dan limbah organik. Berbeda dengan bahan bakar fosil, sumber energi ini dapat diperbarui dan dinilai lebih rendah emisi.
Dalam konteks Indonesia, potensi ekonominya sangat besar.
Selain mendukung transisi energi, pemanfaatan biomassa juga dapat memperkuat hilirisasi sumber daya alam dan membuka industri baru seperti bioplastik, bioetanol, hingga bahan kimia hijau.
Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum Berbasis AI, Siap Tampil di Paris 2026
Sri menilai langkah ini dapat membantu Indonesia membangun bioekonomi berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Namun jalan menuju industrialisasi masih panjang.
Biaya produksi masih tinggi. Infrastruktur belum merata. Logistik biomassa juga menjadi tantangan besar karena sumber bahan baku tersebar di banyak wilayah.
Belum lagi persoalan sumber daya manusia, investasi, dan penerimaan publik terhadap rekayasa genetika.
Bukan Sekadar Teknologi
Di balik kemajuan itu, BRIN mengingatkan bahwa pengembangan bioindustri tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih.
Diperlukan sinergi kebijakan, riset multidisipliner, investasi jangka panjang, dan kolaborasi antara pemerintah, kampus, serta industri.
Baca juga: AI, Drone, dan Satelit Kini Dipakai Buru Ladang Ganja di Indonesia
Sri menilai masa depan energi hijau akan sangat bergantung pada kemampuan manusia memahami sistem biologis secara lebih bijak.
Sebab di era transisi energi, tanaman tidak lagi hanya tumbuh untuk pangan atau kayu. Tanaman mulai diposisikan sebagai fondasi baru ekonomi hijau Indonesia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.