200 Juta Gamer, Kenapa Game Lokal Belum Jadi Tuan Rumah?

Tim pengembang mengerjakan aset visual sebuah game. Pasar game Indonesia besar, tetapi developer lokal masih menikmati sebagian kecil nilainya. Foto: Thới Nam Cao/ Pexels.

Indonesia punya salah satu basis gamer terbesar di dunia dan pasar bernilai puluhan triliun rupiah. Namun, developer lokal baru menikmati sebagian kecil nilainya.

INDONESIA tidak kekurangan orang yang bermain game.

Lebih dari 200 juta gamer aktif berada di Indonesia. Nilai pasar game nasional diperkirakan sekitar US$2 miliar atau Rp34 triliun.

Angkanya sangat besar.

Masalahnya, sebagian besar nilai ekonomi itu belum dinikmati pembuat game Indonesia.

Kementerian Ekonomi Kreatif menyebut developer lokal baru menikmati sekitar 2,5 persen dari nilai pasar game nasional. Untuk game indie lokal, porsinya bahkan diperkirakan hanya sekitar 0,17–0,34 persen.

Indonesia sudah menjadi negeri para pemain.

Tantangannya sekarang adalah menjadi negeri para pembuat.

Pasarnya Ada, Produknya Belum Bertemu

Persoalannya bukan sekadar jumlah game lokal yang sedikit.

Ada ketidaksesuaian antara apa yang banyak dibuat developer Indonesia dan apa yang paling besar dimainkan pasar.

Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat nilai pasar game Indonesia sekitar US$1,9 miliar. Dari jumlah itu, sekitar US$1,5 miliar berasal dari mobile game.

Namun, sebagian besar developer lokal justru masih menghasilkan game berbasis PC. Ketimpangan ini bahkan mendorong program Gameseed 2026 membuka kategori khusus mobile.

Baca juga: Belajar AI Bukan Lagi Hanya untuk Anak Teknik

Ini menjadi pelajaran penting.

Membuat game bagus belum cukup. Developer juga harus memahami pemain, platform, distribusi, pemasaran, hingga cara sebuah game menghasilkan uang dan bertahan setelah diluncurkan.

Game adalah kreativitas.

Tetapi game juga bisnis.

Bukan Cuma Programmer

Di sinilah industri game menarik bagi anak muda.

Sebuah game tidak lahir hanya dari orang yang bisa coding.

Ada ilustrator yang membangun dunia visual. Penulis menciptakan cerita. Animator membuat karakter bergerak. Sound designer membangun suasana. Ada pula game designer, data analyst, pemasaran, community manager, hingga publisher.

Artinya, kebiasaan bermain game sebenarnya bersentuhan dengan industri yang membutuhkan banyak jenis keterampilan.

Baca juga: Influencer Sekali Posting Mulai Ditinggalkan Brand

Pemerintah kini mencoba memperkuat ekosistem tersebut melalui kerangka 3C: connectivity, catalyst, dan competency. Komdigi antara lain memperluas jaringan, membangun Garuda Sparks Innovation Hub di 20 wilayah, serta menyediakan berbagai program pengembangan talenta digital.

Namun, infrastruktur dan pelatihan baru permulaan.

Developer lokal tetap membutuhkan akses modal, kemampuan membaca pasar, distribusi, publisher, dan kesempatan membawa intellectual property atau IP mereka ke pasar yang lebih luas.

Dari Pemain Menjadi Pencipta

Indonesia sebenarnya sudah memiliki satu aset yang sulit dibeli, pasar yang sangat besar.

Ratusan juta orang sudah mengenal game. Mereka tahu pengalaman seperti apa yang menyenangkan, apa yang membuat pemain bertahan, dan bagaimana sebuah game menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan sebagai konsumen itu berkembang menjadi kemampuan menciptakan.

Baca juga: E-Sports dan Game, Karir Profesional di Era Digital

Bukan berarti setiap gamer harus menjadi developer.

Namun, anak muda perlu melihat game sebagai sesuatu yang lebih luas daripada aktivitas di depan layar.

Di balik satu permainan terdapat industri, pekerjaan, bisnis, teknologi, dan IP yang dapat bernilai jauh lebih besar daripada harga sebuah unduhan.

Indonesia sudah punya pemainnya.

Sudah punya pasarnya.

Sekarang tantangannya adalah memastikan lebih banyak game yang dimainkan jutaan orang itu juga dibuat, dimiliki, dan menghasilkan nilai dari Indonesia. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *