
ADA momen ketika kita tertawa bersama.
Di grup chat, di lingkar pertemanan, di ruang yang terasa aman.
Candaan mengalir. Balasan cepat. Tidak banyak yang dipikirkan.
Semuanya terasa ringan.
Sampai suatu hari, kita menyadari
tidak semua yang kita anggap lucu, dirasakan sama oleh orang lain.
Ruang yang Terasa Aman
Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa pertemanan adalah tempat paling bebas.
Di sanalah kita bisa menjadi diri sendiri.
Bicara tanpa banyak filter.
Bercanda tanpa takut disalahpahami.
Baca juga: Ada Harga yang Tak Kita Hitung
Grup chat sering menjadi perpanjangan dari itu.
Ruang kecil yang terasa dekat. Cepat. Hangat.
Namun justru karena terasa aman, kita sering merasa tidak perlu berhati-hati.
Seolah semua orang di dalamnya akan selalu mengerti.
Padahal, tidak semua orang datang dengan rasa yang sama.
Batas yang Mengabur
Bercanda tidak pernah punya garis batas yang benar-benar jelas.
Apa yang terasa biasa bagi satu orang, bisa terasa berlebihan bagi yang lain.
Apa yang dianggap ringan, bisa menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Masalahnya, kita jarang berhenti untuk memeriksa.
Baca juga: Saat Ide Dinilai Nol Persen
Karena semua terjadi cepat.
Karena tawa datang lebih dulu daripada refleksi.
Dan sering kali, kita baru menyadari ada yang salah
bukan ketika candaan itu dikirim
tetapi ketika dampaknya mulai terasa.
Yang Tidak Semua Orang Rasakan
Di dalam satu percakapan yang sama, bisa ada banyak perasaan yang berbeda.
Ada yang tertawa.
Ada yang ikut membalas.
Ada yang memilih diam.
Kita sering mengira diam adalah tanda setuju.
Padahal, bisa jadi itu cara paling sederhana untuk bertahan.
Baca juga: Aksara | Harga Sebuah Kursi
Tidak semua orang punya ruang untuk menolak.
Tidak semua orang merasa cukup aman untuk berkata “tidak”.
Dan mungkin, justru di situlah kita perlu lebih peka,
bukan pada yang paling keras terdengar,
tapi pada yang tidak pernah diucapkan.
Belajar Mendengar Ulang
Mungkin ini bukan hanya tentang siapa yang benar atau salah.
Ini tentang bagaimana kita melihat ulang cara kita berinteraksi.
Cara kita bercanda. Cara kita membaca satu sama lain.
Tidak semua tawa berarti semua orang merasa aman.
Tidak semua niat baik berakhir tanpa luka.
Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli
Dan mungkin, yang paling sulit bukan berhenti bercanda,
tetapi menyadari bahwa sebagian dari tawa kita
pernah meninggalkan sesuatu pada orang lain.
Sesuatu yang tidak selalu terlihat.

Mungkin kita semua pernah ada di sana.
Menjadi bagian dari tawa.
Atau mungkin, menjadi bagian yang memilih diam.
Dan di antara keduanya, ada satu pertanyaan yang mungkin belum sempat kita jawab,
Baca juga: Aksara | Ketika Plastik Menjadi Warisan
Ketika kita tertawa bersama,
apakah semua orang benar-benar merasa aman,
atau hanya terbiasa untuk tidak bersuara?
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA