AI Mulai Membaca Wajah Kumuh Kota, tapi Warga Tetap Jadi Penentu

Permukiman padat di kawasan Kota Bandung menjadi bagian dari riset BRIN yang memadukan AI, citra satelit, dan pengetahuan warga untuk memetakan kawasan perkotaan secara lebih akurat. Foto: Hartono Subagio/ Pexels. 

JAKARTA, mulamula.id Kawasan kumuh selama ini identik dengan gang sempit, bangunan padat, dan lingkungan yang luput dari perhatian. Namun kini, kawasan seperti itu mulai dibaca dari langit lewat kombinasi satelit dan kecerdasan artifisial (AI).

Masalahnya, data visual saja ternyata belum cukup.

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mulai mengembangkan pendekatan baru untuk memetakan kawasan kumuh perkotaan dengan memadukan AI dan pengetahuan lokal masyarakat. Pendekatan itu diuji dalam riset pemetaan kawasan kumuh di Kota Bandung.

Langkah ini bukan sekadar soal teknologi. Ini tentang bagaimana kota membaca masalahnya sendiri dengan lebih presisi.

Baca juga: BRIN Mulai Andalkan AI untuk Membaca Ancaman dari Matahari

Kawasan kumuh adalah area permukiman dengan bangunan tidak teratur, kepadatan tinggi, dan fasilitas dasar yang tidak memadai. Dalam banyak kasus, kondisi ini berkaitan langsung dengan risiko kesehatan, kerentanan bencana, hingga kesenjangan sosial.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Orbita Roswintiarti, mengatakan pendekatan berbasis AI mampu mempercepat identifikasi wilayah dalam skala besar. Namun akurasi pemetaan akan jauh lebih kuat jika digabung dengan pengalaman masyarakat dan data pemerintah daerah.

“AI bisa membaca pola. Tapi warga memahami realitas di lapangan,” kira-kira itu inti pendekatan yang kini mulai didorong.

Kota Dibaca dari Satelit

Dalam penelitian tersebut, tim BRIN memakai citra satelit SPOT-6 beresolusi 1,5 meter yang direkam pada Agustus 2021. Data itu kemudian dipadukan dengan OpenStreetMap, data pemerintah daerah, dan verifikasi lapangan di 25 titik di Kota Bandung.

Tim menggunakan algoritma Random Forest, salah satu metode machine learning yang banyak dipakai untuk membaca pola spasial dan klasifikasi wilayah.

AI kemudian mengolah berbagai variabel. Mulai dari kepadatan bangunan, pola permukiman, hingga struktur kawasan. Tetapi hasil akhirnya tidak langsung dianggap mutlak.

Baca juga: Robotaxi Tak Lagi Kebal Hukum, California Siap Tilang Mobil Tanpa Sopir

Pengetahuan lokal masyarakat tetap dipakai sebagai lapisan verifikasi.

Di sinilah pendekatan hibrida menjadi menarik. Teknologi dipakai untuk mempercepat kerja. Warga dipakai untuk menjaga konteks sosialnya.

Mengutip laman resmi BRIN, pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan kerangka kerja yang lebih operasional untuk identifikasi kawasan kumuh perkotaan.

Pendekatan berbasis machine learning dinilai mampu membantu identifikasi kawasan kumuh perkotaan lebih cepat, terutama ketika dipadukan dengan data lapangan dan pengetahuan lokal masyarakat. Foto: Rudy Farid Sagir/ Pexels.
AI Tak Selalu Tahu Kondisi Sosial

Dalam banyak proyek smart city, AI sering dianggap solusi utama. Padahal kota bukan hanya kumpulan data visual.

Dua kawasan bisa terlihat mirip dari citra satelit, tetapi punya persoalan sosial berbeda. Ada kawasan yang padat karena ekonomi tumbuh cepat. Ada juga yang tumbuh tanpa infrastruktur dasar.

Karena itu, pemetaan berbasis AI tanpa pengetahuan lokal berisiko menghasilkan kesimpulan yang terlalu teknis.

BRIN mencoba menjembatani dua dunia itu. Teknologi dan pengalaman warga diposisikan sebagai partner, bukan saling menggantikan.

Baca juga: AI Mulai Belajar Memahami Emosi Publik Indonesia

Pendekatan seperti ini mulai penting ketika kota-kota besar Indonesia menghadapi tekanan urbanisasi yang makin cepat. Bandung hanya salah satu contoh.

Menurut berbagai studi global, kawasan kumuh perkotaan akan menjadi tantangan besar negara berkembang dalam beberapa dekade ke depan. Tekanan populasi, perubahan iklim, dan ketimpangan ekonomi membuat kota makin kompleks dibaca hanya lewat pendekatan konvensional.

Bukan Sekadar Peta Digital

Riset tersebut juga dikaitkan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan.

Artinya, pemetaan kawasan kumuh kini tidak lagi sekadar membuat peta digital. Data mulai dipakai untuk membantu kebijakan kota lebih tepat sasaran.

Semakin akurat sebuah kawasan dipetakan, semakin besar peluang intervensi pemerintah menjadi efektif. Mulai dari sanitasi, mitigasi banjir, penataan permukiman, hingga layanan kesehatan lingkungan.

Hasil riset itu dipresentasikan dalam forum Training and Workshop serta Youth Forum on Artificial Intelligence and Spatiotemporal Data for Flood Impact Analysis di Universitas Gadjah Mada.

Baca juga: Daerah Tambang Tetap Tertinggal, Dedi Mulyadi Soroti Pajak yang Tak Kembali

Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan generasi muda untuk membahas pemanfaatan AI dan data spasial dalam pengelolaan kawasan perkotaan dan analisis dampak bencana.

Di tengah tren kota pintar dan ledakan AI global, riset seperti ini memperlihatkan satu hal penting: masa depan kota mungkin dibaca mesin, tetapi tetap harus dipahami manusia. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *