
YOGYAKARTA, mulamula.id – Usia muda sering dianggap masa untuk mencoba banyak hal. Tapi bagi Fulviana Ramadlonia Agung Putri, usia muda juga bisa menjadi fase untuk menata mimpi besar dengan disiplin./
Mahasiswi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada atau FK-KMK UGM itu berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran pada usia 20 tahun 4 bulan 27 hari.
Capaian itu membuat Fulviana menjadi salah satu lulusan termuda dalam wisuda Program Sarjana UGM pada 21 Mei lalu. Sebagai perbandingan, rata-rata usia 1.644 lulusan sarjana yang diwisuda saat itu adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Namun, kisah Fulviana bukan sekadar soal angka usia. Di balik toga dan gelar sarjana kedokteran, ada proses panjang tentang adaptasi, tekanan akademik, ritme belajar, dan keberanian mengenali diri sendiri.
Masuk Kuliah Usia 16 Tahun
Fulviana merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun 8 bulan. Setelah itu, ia mengikuti program akselerasi saat SMP dan menyelesaikan pendidikan menengah pertama dalam dua tahun.
Jalur pendidikan yang lebih cepat itu membuat Fulviana masuk perguruan tinggi pada usia 16 tahun 8 bulan. Usia ketika banyak remaja masih menimbang pilihan jurusan, ia sudah menghadapi dunia kuliah kedokteran yang dikenal padat dan menuntut konsistensi tinggi.
Baca juga: Doktor UGM Lulus 2,5 Tahun, Risetnya Dorong Kit DNA Lokal Kurangi Impor
Menjadi lulusan termuda bukan target yang sejak awal ia bayangkan. Fulviana melihat capaian itu sebagai hasil dari proses belajar yang dijalani pelan-pelan, tetapi konsisten.
“Sebenarnya, di awal kuliah saya sempat merasa tertekan karena harus terus belajar dan menjaga konsistensi. Tapi, dengan capaian ini, saya tentu merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka akan menjadi lulusan termuda,” katanya, Rabu (3/6).
Tantangan Bukan Cuma Akademik
Kuliah kedokteran bukan hanya soal membaca buku tebal atau mengejar nilai. Bagi Fulviana, tantangan terbesarnya justru datang dari proses menyesuaikan diri.
Ia masuk kampus dalam usia yang masih sangat muda. Pada saat yang sama, ia tetap punya keinginan untuk menikmati masa remaja seperti teman-teman seusianya. Di sisi lain, pendidikan kedokteran menuntut jadwal padat, daya tahan mental, dan ritme belajar yang stabil.
“Di usiaku yang masih muda ini, aku masih ada keinginan buat bermain atau menikmati masa remaja seperti teman-teman lain. Tekanan akademik saat aku menempuh studi juga cukup berat bagiku,” ujarnya, mengutip laman resmi UGM.
Baca juga: Rahasia Mia Yunita Lulus Sarjana UGM di Usia 20 Tahun
Tekanan itu sempat membuat masa awal kuliah terasa berat. Namun, Fulviana tidak berhenti di sana. Ia belajar membaca situasi. Ia juga mulai memahami bahwa tekanan tidak selalu harus dilawan dengan memaksa diri terus belajar.
Baginya, tekanan bisa diubah menjadi energi untuk tumbuh, asal tetap dikelola dengan sehat.
Belajar Mengenali Diri
Salah satu pelajaran penting dari perjalanan Fulviana adalah kemampuan memahami diri sendiri. Ia tidak menjadikan belajar lama sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Fulviana memilih mencari metode belajar yang paling cocok untuk dirinya. Ia belajar kapan harus fokus. Ia juga belajar kapan harus berhenti sejenak agar tubuh dan pikiran tidak kelelahan.

Kesadaran ini penting, terutama bagi mahasiswa Gen Z yang hidup di tengah tekanan prestasi, ekspektasi sosial, dan budaya produktivitas tanpa jeda.
Burnout atau kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres berkepanjangan bisa terjadi ketika seseorang terus memaksa diri tanpa ruang istirahat. Fulviana mencoba menghindari itu dengan menjaga ritme belajar.
“Bagiku, tidak harus selalu belajar terlalu lama, tapi bagaimana bisa disiplin dan menjaga ritme belajar dengan baik,” katanya.
Kalimat itu menjadi inti dari kisah Fulviana. Prestasi akademik tidak selalu lahir dari belajar tanpa henti. Kadang, ia tumbuh dari kemampuan mengatur tenaga, memilih prioritas, dan tahu kapan harus beristirahat.
Belajar dari Teman yang Lebih Dewasa
Meski menjadi wisudawan termuda, Fulviana tidak melihat usia sebagai jarak yang membuatnya tertinggal. Ia justru banyak belajar dari teman-teman kuliah yang lebih dewasa.
Menurutnya, teman-teman yang lebih matang secara usia sering memiliki pengalaman hidup dan cara menghadapi tekanan yang berbeda. Dari mereka, Fulviana belajar bukan hanya soal akademik, tetapi juga cara bertahan di tengah tuntutan kuliah kedokteran.
Baca juga: Ravidho Ramadhan, Doktor Termuda UGM dengan IPK Sempurna
“Saya banyak belajar dari teman-teman saya, baik dalam hal akademik maupun cara menghadapi tekanan selama kuliah kedokteran,” ujarnya.
Pengalaman itu menunjukkan satu hal. Lingkungan belajar yang sehat tidak hanya berisi kompetisi. Ia juga berisi dukungan, ruang bertukar cerita, dan kesempatan untuk saling menguatkan.
Dukungan yang Membuat Bertahan
Fulviana menyebut dukungan orang-orang terdekat sebagai bagian penting dari perjalanannya. Orang tua, teman, dan lingkungan kampus menjadi sistem pendukung yang membantunya menjaga keseimbangan.
Bagi Fulviana, pencapaian ini tidak hanya tentang menjadi paling muda. Ia melihatnya sebagai hasil dari proses panjang yang dijalani bersama banyak orang.
“Menurutku, ini semua bukan tentang usia atau menjadi wisudawan termuda, tapi juga hasil dari proses panjang dengan dukungan hangat dari banyak orang,” ungkapnya.
Baca juga: Lulus S2 Cuma 1 Tahun, Ini Cara Tania “Ngebut” Tanpa Asal Cepat
Setelah wisuda, Fulviana akan melanjutkan perjalanan ke tahap profesi dokter. Ia berharap bisa menjadi dokter yang tidak hanya kuat secara ilmu, tetapi juga punya empati terhadap pasien.
Pesannya untuk teman-teman seusia juga sederhana. Jangan takut mencoba. Jangan membatasi diri hanya karena usia atau rasa tidak percaya diri.
“Buat teman-teman seusiaku, jangan takut mencoba dan jangan membatasi diri karena usia atau rasa kurang percaya diri,” katanya.
Kisah Fulviana memberi pesan penting bagi anak muda. Usia bisa menjadi angka. Tapi disiplin, dukungan, dan kemampuan menjaga diri adalah fondasi yang membuat mimpi besar terasa lebih mungkin dicapai. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.