
JAKARTA, mulamula.id – Sudah memesan vila atau penginapan untuk liburan beberapa bulan ke depan? Ada baiknya kamu memeriksa kembali tempat yang dipilih, terutama jika pemesanan dilakukan melalui platform digital.
Pemerintah akan mulai menghapus atau melakukan delisting terhadap akomodasi pariwisata yang belum memiliki izin usaha dari platform online travel agent (OTA) pada 1 Agustus 2026.
Sekitar 1.600 penginapan tak berizin tercatat masih dipasarkan melalui OTA. Jumlah tersebut dapat mencakup vila, homestay, dan bentuk akomodasi jangka pendek lainnya.
Baca juga: Serasa di Nepal, Padahal di Magelang: Ini Dia Nepal Van Java
Delisting akomodasi adalah penghapusan penginapan dari platform pemesanan digital karena tidak memenuhi persyaratan legalitas yang ditetapkan pemerintah.
Kebijakan ini bukan berarti wisatawan harus panik. Namun, calon tamu perlu lebih teliti memastikan identitas, legalitas, dan keberadaan penginapan sebelum melakukan pembayaran.
Mengapa Harus Berizin?
Akomodasi wisata bukan sekadar tempat untuk tidur. Bangunan tersebut menerima tamu, mempekerjakan orang, menggunakan fasilitas publik, dan harus memenuhi standar keselamatan tertentu.
Izin usaha membantu pemerintah mengetahui siapa yang mengelola penginapan dan memastikan kegiatan usahanya dapat diawasi. Legalitas juga penting ketika muncul persoalan seperti kecelakaan, sengketa pemesanan, gangguan lingkungan, atau layanan yang tidak sesuai promosi.
Tanpa izin, wisatawan berpotensi kesulitan mengetahui pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban apabila terjadi masalah.
Baca juga: Hotel Raksasa di Tengah Hutan Malaysia, Punya Lebih dari 7.000 Kamar
Hotel dan penginapan resmi juga harus menanggung biaya perizinan, pajak, keselamatan bangunan, serta standar pelayanan. Sementara itu, akomodasi tanpa izin dapat bersaing di platform yang sama tanpa menanggung kewajiban setara.
Penertiban karena itu tidak hanya berkaitan dengan dokumen. Kebijakan tersebut juga menyangkut perlindungan wisatawan dan persaingan usaha yang lebih adil.
Pesanan Lama Bagaimana?
Informasi publik pemerintah sejauh ini belum menjelaskan secara terperinci nasib reservasi yang telah dibuat sebelum sebuah penginapan dihapus dari OTA.
Karena itu, wisatawan yang telah memesan akomodasi untuk keberangkatan setelah 1 Agustus 2026 sebaiknya memeriksa kembali status pemesanannya. Hubungi pengelola penginapan dan layanan pelanggan OTA untuk memastikan reservasi tetap berlaku.
Simpan bukti pembayaran, percakapan dengan pengelola, alamat lengkap, serta aturan pembatalan. Hindari memindahkan pembayaran ke luar platform hanya karena ditawari harga lebih murah.
Apabila sebuah properti tiba-tiba tidak lagi muncul di OTA, kondisi tersebut belum otomatis membuktikan bahwa pemesanan dibatalkan. Namun, hilangnya listing menjadi alasan kuat untuk segera meminta kepastian tertulis dari platform dan pengelola.
Pemilik Usaha Diberi Waktu
Kementerian Pariwisata menyatakan penataan akomodasi bukan kebijakan mendadak. Pemerintah telah melakukan sosialisasi dan pendampingan sejak 2025 bersama pemerintah daerah, asosiasi, serta sejumlah OTA.
Enam sesi coaching clinic telah diikuti lebih dari 1.500 pelaku usaha. Program tersebut membantu pengelola akomodasi memahami proses memperoleh Nomor Induk Berusaha melalui sistem Online Single Submission atau OSS.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan penataan tidak ditujukan untuk menghambat kegiatan usaha. “Upaya ini kami lakukan untuk kepentingan jangka panjang sektor pariwisata,” jelasnya.
Baca juga: Hotel Setipis Ini Ada di Salatiga, View-nya Langsung Gunung
Pendampingan tersebut mulai mendorong perubahan. Jumlah usaha akomodasi jangka pendek yang memiliki NIB meningkat 46,5 persen sejak akhir Maret 2025 hingga Mei 2026. Khusus kategori vila, pertumbuhannya mencapai 76,4 persen.
Namun, proses perizinan tetap perlu dibuat mudah dan terjangkau. Penginapan kecil serta homestay keluarga tidak selalu memiliki sumber daya yang sama dengan hotel besar untuk memahami prosedur administrasi.
OTA Ikut Bertanggung Jawab
Mulai Juni 2027, pemerintah menargetkan sistem verifikasi OTA terhubung langsung dengan data OSS. Artinya, platform dapat memeriksa status izin sebuah penginapan sebelum properti tersebut dipasarkan.
Perubahan ini membuat OTA tidak lagi sekadar tempat mencari kamar murah. Platform juga menjadi pintu penyaringan yang menentukan penginapan mana yang dapat bertemu wisatawan.
Bagi konsumen, sistem tersebut berpotensi membuat proses pemesanan lebih aman. Namun, OTA juga harus menyediakan informasi yang jelas ketika sebuah akomodasi dihapus, terutama jika masih terdapat reservasi aktif.
Baca juga: Wisata 2026 Berubah Arah, dari Destinasi ke Pengalaman
Wisatawan tidak perlu takut memesan vila atau homestay melalui platform digital. Kuncinya adalah tidak hanya tergoda foto bagus dan harga murah.
Periksa ulasan terbaru, identitas pengelola, alamat penginapan, ketentuan pembatalan, serta status reservasi menjelang keberangkatan. Sebab dalam perjalanan, tempat menginap yang aman selalu lebih penting daripada penawaran yang terlihat paling murah.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.