Kita Marah, Lalu Terbiasa

Mungkin, kelelahan adalah kemenangan paling sunyi dari korupsi. Foto: Ilustrasi/ Nguyễn Tiến Thịnh/ Pexels.

ADA masa ketika kabar korupsi membuat orang benar-benar marah.

Orang membicarakannya berhari-hari.
Mengecamnya dengan keras.
Merasa ada sesuatu yang benar-benar rusak dalam hidup bernegara.

Kini, banyak orang hanya menghela napas.

Membaca judulnya.
Menggeleng sebentar.
Lalu melanjutkan hari seperti biasa.

Dan mungkin, itulah bagian yang paling mengkhawatirkan.

Yang Selalu Kembali

Awal Juni 2026 terasa bising bagi penegakan hukum.

Dalam dua hari beruntun, dua sektor penting negara diguncang perkara korupsi.

Program Makan Bergizi Gratis yang seharusnya menyentuh kebutuhan anak-anak.
Lalu pelayanan keimigrasian yang mestinya menjadi wajah pelayanan negara.

Baca juga: Aksara | Harga Sebuah Kursi

Kasus demi kasus kembali muncul seperti pola yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dan setiap kali itu terjadi, publik kembali bertanya

Mengapa korupsi seperti tidak pernah pergi?

Bukan Sekadar Uang

Korupsi sering dibicarakan dalam angka.

Miliaran rupiah.
Triliunan kerugian negara.
Daftar aset dan aliran dana.

Namun, mungkin kerusakan terbesar dari korupsi bukan hanya soal uang.

Korupsi perlahan menggerus sesuatu yang lebih sulit dihitung, rasa percaya.

Baca juga: Ketika Semua Orang Bicara

Kepercayaan bahwa sistem masih bisa bekerja dengan jujur.
Kepercayaan bahwa jabatan masih bisa dijalankan dengan tanggung jawab.
Kepercayaan bahwa negara benar-benar hadir untuk kepentingan rakyat.

Dan ketika rasa percaya itu terus terkikis, masyarakat perlahan berubah.

Bukan hanya menjadi marah.
Tetapi, menjadi lelah.

Lelah yang Berbahaya

Mungkin, kelelahan adalah kemenangan paling sunyi dari korupsi.

Karena ketika masyarakat mulai merasa bahwa korupsi akan selalu ada,
maka kemarahan perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Orang tidak lagi terkejut.

Baca juga: Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan

Kasus besar datang dan pergi seperti siklus yang berulang.
Nama baru muncul.
Penangkapan terjadi.
Lalu semuanya bergerak lagi seperti biasa.

Dan di titik tertentu, publik mulai kehilangan keyakinan bahwa sesuatu benar-benar bisa berubah.

Tentang Ketakutan yang Hilang

Di tengah rasa frustrasi itu, tidak sedikit yang mulai membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang menerapkan hukuman sangat keras bagi koruptor.

Ada yang bertanya apakah rasa takut di negeri ini memang sudah terlalu tipis.

Namun mungkin, masalahnya tidak sesederhana soal berat-ringannya hukuman.

Baca juga: Tidak Ada yang Terjadi Sendiri

Karena hukum yang keras pun tidak akan cukup jika korupsi tetap tumbuh dalam sistem yang membiarkannya menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan selalu lebih sulit diberantas daripada sekadar menangkap pelakunya.

Mungkin, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi apakah korupsi masih ada.

Karena jawabannya sudah terlalu jelas.

Yang lebih penting adalah,
apakah kita masih memiliki kemauan untuk percaya bahwa keadaan bisa berubah?

Atau jangan-jangan, kita mulai hidup terlalu lama di dalam keadaan yang membuat korupsi terasa biasa.

Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli

Dan ketika sesuatu yang salah mulai terasa biasa,
mungkin di situlah bahaya sebenarnya dimulai.

Salam literasi.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *