
JAKARTA, mulamula.id – Piala Dunia 2026 bukan hanya soal 48 tim, stadion megah, dan jutaan suporter. Turnamen ini juga akan menjadi panggung besar teknologi sepak bola.
Dari bola yang bisa “membaca” sentuhan, avatar tiga dimensi pemain, rumput hasil riset panjang, sampai sistem deteksi drone, FIFA sedang membawa sepak bola ke level baru.
Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Skala turnamennya lebih besar. Jumlah pertandingannya juga lebih banyak.
Karena itu, tantangannya bukan hanya pertandingan. Tapi juga akurasi keputusan, kualitas lapangan, pengalaman penonton, dan keamanan stadion.
Bola yang Bisa Membaca Gerak
Salah satu teknologi paling menarik datang dari bola resmi turnamen. Adidas menamainya Trionda.
Bola ini bukan sekadar alat untuk ditendang. Di dalamnya ada sensor gerak yang mampu merekam pergerakan bola secara sangat cepat.
FIFA menyebut teknologi bola terkoneksi ini kembali digunakan setelah sebelumnya hadir di Piala Dunia 2022 dan Piala Dunia Wanita 2023. Sensor di dalam bola membantu sistem semi-automated offside dan VAR membaca momen sentuhan dengan lebih presisi.
Baca juga: Piala Dunia 2026: Saat Stadion Ikut Jadi Bintang
Artinya, keputusan offside tidak hanya bergantung pada kamera. Sistem juga bisa mencocokkan posisi pemain dengan data pergerakan bola.
Dalam sepak bola modern, sepersekian detik bisa mengubah hasil pertandingan. Di titik inilah teknologi bola menjadi penting.
Bola pintar membantu wasit melihat detail yang sulit ditangkap mata manusia.
Avatar 3D Masuk Lapangan
Teknologi berikutnya terdengar seperti dunia gim. FIFA akan menggunakan avatar tiga dimensi untuk membantu pelacakan pemain.
Setiap pemain dipindai secara digital. Hasil pemindaian itu dipakai untuk membuat model tubuh 3D yang dapat membantu sistem membaca posisi pemain saat pertandingan berlangsung.
Presiden FIFA Gianni Infantino, seperti dilaporkan SBS News, menyebut avatar berbasis AI ini akan membantu identifikasi dan pelacakan pemain secara lebih presisi.
Teknologi ini terutama penting untuk keputusan offside. Sistem dapat menampilkan ulang situasi pertandingan dengan visual yang lebih jelas.
Bagi penonton, ini bisa membantu memahami mengapa sebuah gol disahkan atau dianulir. Bagi wasit, teknologi ini memberi dukungan data yang lebih cepat.
Namun, teknologi tetap punya sisi sensitif.
VAR masih memicu perdebatan. Banyak penonton merasa teknologi membuat sepak bola kehilangan spontanitas. Survei Asosiasi Pendukung Sepak Bola di Inggris bahkan menunjukkan sebagian besar responden menolak penggunaan VAR dalam pengalaman menonton mereka.
Di sinilah dilema sepak bola modern muncul.
Sepak bola ingin lebih adil. Tapi juga tidak boleh kehilangan emosi.
Rumput Juga Jadi Urusan Sains
Teknologi Piala Dunia 2026 tidak berhenti di bola dan kamera. Rumput stadion juga menjadi proyek besar.
FIFA menggandeng peneliti dari University of Tennessee dan Michigan State University untuk menyiapkan permukaan lapangan terbaik. Proyek ini menyangkut 16 stadion dan banyak lapangan latihan di tiga negara tuan rumah.
Reuters melaporkan, para ilmuwan, petani rumput, dan spesialis lapangan bekerja menyesuaikan jenis rumput dengan iklim berbeda di Amerika Utara.
Baca juga: Piala Dunia 2026 Ubah Aturan Kartu Kuning, Risiko Absen di Laga Krusial Dipangkas
Ini bukan urusan sepele.
Rumput yang terlalu tinggi dapat memperlambat bola. Rumput yang terlalu keras bisa meningkatkan risiko cedera. Rumput yang tidak seragam juga bisa mengubah ritme permainan.
Peneliti turfgrass John Sorochan dari University of Tennessee menjadi salah satu sosok penting dalam riset ini. Ia dan timnya menyiapkan standar lapangan agar permainan tetap aman, cepat, dan konsisten.
Dalam sepak bola, lapangan terbaik justru sering tidak terlihat.
Kalau rumput bekerja dengan baik, penonton hanya melihat permainan. Bukan masalah lapangan.
Keamanan Masuk Era Drone
Piala Dunia 2026 juga menghadapi tantangan keamanan baru.
Stadion besar, fan zone, hotel tim, dan ruang publik akan dipenuhi massa. Di era sekarang, ancamannya tidak hanya datang dari kerumunan fisik. Drone, serangan siber, dan gangguan frekuensi radio juga masuk dalam daftar risiko.
Laporan keamanan terbaru menyebut otoritas Amerika Serikat menyiapkan operasi besar bersama ratusan lembaga penegak hukum. Fokusnya mencakup pengamanan stadion, mitigasi drone, intelijen, dan keamanan siber.
Teknologi deteksi drone menjadi salah satu perhatian utama. Sistem ini disiapkan untuk membaca aktivitas drone mencurigakan di sekitar stadion.
Tujuannya jelas: melindungi pemain, penonton, ofisial, dan infrastruktur pertandingan.
Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu operasi keamanan olahraga paling kompleks. Bukan hanya karena jumlah pertandingan bertambah, tetapi juga karena turnamen berlangsung lintas negara.
Sepak Bola Makin Digital
Piala Dunia 2026 menunjukkan satu hal penting. Sepak bola kini tidak hanya dimainkan oleh kaki, taktik, dan mental.
Di belakang layar, ada data, sensor, kamera, AI, agronomi, dan sistem keamanan digital.
Teknologi bisa membuat pertandingan lebih presisi. Teknologi juga bisa membuat stadion lebih aman. Tapi teknologi tidak boleh mengambil alih inti sepak bola: emosi, kejutan, dan rasa manusiawi dalam pertandingan.
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian besar.
Bukan hanya bagi tim yang bertanding. Tapi juga bagi masa depan sepak bola itu sendiri.
Apakah teknologi membuat sepak bola lebih adil? Atau justru membuatnya terasa makin jauh dari spontanitas yang dulu membuat permainan ini dicintai?
Jawabannya mungkin baru terasa saat bola pertama benar-benar bergulir. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.