
JAKARTA, mulamula.id – Media sosial sering terlihat seperti ruang penuh kabar baik. Ada foto liburan. Ada pencapaian baru. Ada senyum yang tampak rapi. Ada kutipan positif yang seolah menegaskan hidup sedang baik-baik saja.
Namun, tidak semua yang tampak bahagia benar-benar lahir dari perasaan bahagia. Dalam banyak situasi, media sosial justru bisa menjadi tempat seseorang menyembunyikan lelah, sepi, atau perasaan yang sulit dijelaskan.
Ini bukan berarti setiap unggahan bahagia harus dicurigai. Orang tetap berhak membagikan momen baik dalam hidupnya. Tetapi, pola tertentu di media sosial kadang bisa memberi petunjuk tentang kondisi emosional seseorang.
Di era digital, cara orang menampilkan diri ikut menjadi bagian dari komunikasi. Kadang, seseorang tidak mengatakan “aku sedang tidak baik-baik saja”. Ia hanya mengunggah terlalu sering, menulis kalimat positif berulang-ulang, atau kembali ke foto lama yang menyimpan kenangan lebih hangat.
Terlalu Sering Berbagi
Salah satu tanda yang sering muncul adalah oversharing. Istilah ini merujuk pada kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, bahkan ketika hal itu tidak terlalu diperlukan.
Di media sosial, oversharing bisa muncul dalam bentuk unggahan yang terlalu sering menjelaskan betapa bahagianya hidup seseorang. Misalnya, ia terus menunjukkan relasi yang tampak sempurna, keluarga yang terlihat sangat harmonis, atau hidup yang seolah selalu berjalan baik.
Masalahnya, unggahan seperti itu tidak selalu berarti kebahagiaan yang utuh. Dalam sejumlah kasus, seseorang justru sedang berusaha meyakinkan orang lain dan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja.
Baca juga: Belum Bicara, Lima Hal Ini Sudah Dinilai Orang Lain
Riset yang dimuat dalam Computers in Human Behavior Reports menunjukkan, perilaku oversharing di media sosial dapat berkaitan dengan upaya membentuk citra bahagia melalui informasi pribadi yang terlalu banyak dibagikan.
Dengan kata lain, unggahan berlebihan kadang bukan sekadar ekspresi. Tapi, bisa menjadi cara seseorang menutup rasa kosong, cemas, atau tidak nyaman.
Kutipan Positif Bertubi-tubi
Kutipan motivasi juga menjadi pemandangan umum di media sosial. Satu atau dua unggahan tentu wajar. Banyak orang memang membutuhkan kalimat penguat untuk melewati hari.
Namun, jika seseorang terus-menerus mengunggah kutipan positif, terutama saat tampak menghindari emosi sulit, polanya bisa berbeda. Unggahan semacam itu bisa menjadi cara untuk menekan perasaan yang sebenarnya belum selesai.
Di sinilah istilah toxic positivity sering dibicarakan. Toxic positivity adalah dorongan untuk selalu terlihat positif, apa pun situasinya. Padahal, manusia tidak selalu harus kuat. Tidak semua kesedihan harus segera diberi slogan optimistis.
Penulis psikologi Kendra Cherry menyebut perilaku seperti ini dapat membuat seseorang menghindari situasi emosional yang tidak nyaman. Akibatnya, masalah tidak benar-benar dihadapi. Ia hanya ditutup dengan kalimat yang terdengar menenangkan.
Bagi Gen Z yang tumbuh bersama media sosial, ini penting dipahami. Menjadi positif itu baik. Tetapi, berpura-pura selalu positif bisa melelahkan.
Kembali ke Foto Lama
Tanda lain yang bisa muncul adalah kebiasaan mengunggah foto-foto nostalgia. Misalnya, foto masa sekolah, liburan lama, momen bersama teman, atau potongan kenangan saat hidup terasa lebih ringan.
Nostalgia tidak selalu buruk. Justru, kenangan lama dapat memberi rasa hangat. Itu bisa membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan masa ketika dirinya merasa dicintai, diterima, atau tidak sendirian.
Sebuah studi dalam Psychological Science menemukan, nostalgia dapat meningkatkan perasaan mendapat dukungan sosial. Saat seseorang melihat kembali kenangan lama, ia bisa merasa tidak terlalu kesepian.
Baca juga: Jangan Dianggap Capek Biasa, Ini 5 Sinyal Mentalmu
Namun, jika foto-foto lama terus muncul saat seseorang sedang tidak banyak berinteraksi di dunia nyata, bisa jadi ada kebutuhan emosional yang sedang ingin dipenuhi. Ia mungkin sedang mencari rasa aman dari masa lalu.
Media sosial lalu menjadi semacam album pelarian. Bukan untuk menipu orang lain sepenuhnya, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kebahagiaan pernah ada.
Jangan Cepat Menghakimi
Meski begitu, tanda-tanda ini tidak boleh dipakai untuk melabeli seseorang secara sembarangan. Media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari hidup manusia. Itu bukan alat diagnosis.
Seseorang yang sering mengunggah kutipan positif belum tentu sedang rapuh. Orang yang membagikan foto lama belum tentu kesepian. Orang yang aktif bercerita belum tentu sedang menutupi masalah.
Yang lebih penting adalah membaca pola dengan empati. Jika ada teman yang tiba-tiba berubah dalam cara bermedia sosial, mungkin yang ia butuhkan bukan komentar sinis. Mungkin ia butuh disapa.
Baca juga: Cara Makan Cepat Bisa Bicara Banyak tentang Dirimu
Kalimat sederhana seperti “Kamu baik-baik saja?” bisa berarti besar. Begitu juga ajakan ngobrol tanpa menghakimi.
Sebab, di balik unggahan yang tampak cerah, seseorang bisa saja sedang berusaha bertahan. Dan kadang, perhatian kecil dari orang terdekat lebih menenangkan daripada ratusan tanda suka.
Media sosial boleh menjadi tempat berbagi bahagia. Tetapi, hidup tidak harus selalu terlihat sempurna di layar. Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Tidak apa-apa juga untuk berhenti sejenak dari panggung digital dan jujur pada diri sendiri.***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.