Kerja Ada, Hidup Layak Makin Jauh

Banyak pekerja muda menjalani rutinitas harian di tengah biaya hidup kota yang terus bergerak. Bank Dunia menyoroti kualitas pekerjaan sebagai tantangan besar bagi kelas menengah Indonesia. Foto: Mohammad Jihad/ Pexels.

Bank Dunia menyoroti kualitas pekerjaan di Indonesia. Banyak orang bekerja, tetapi belum semua punya penghasilan stabil untuk naik kelas.

JAKARTA, mulamula.id Banyak orang bekerja. Tapi, tidak semua pekerjaan cukup kuat untuk membawa seseorang naik kelas. Ini menjadi salah satu sinyal penting dari laporan terbaru Bank Dunia. Masalah pasar kerja Indonesia bukan hanya soal ada atau tidak ada pekerjaan. Masalah yang lebih dalam adalah kualitas pekerjaan.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia menyoroti makin menyempitnya pekerjaan yang mampu menopang kehidupan kelas menengah.

Angkanya tajam. Porsi pekerja dengan penghasilan yang cukup untuk menopang standar hidup kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi 7,1 persen pada 2025.

Artinya, semakin sedikit pekerja yang benar-benar bisa hidup stabil dari penghasilannya.

Bekerja Belum Aman

Pekerjaan layak adalah pekerjaan yang tidak hanya memberi penghasilan hari ini, tetapi juga memberi kepastian, perlindungan sosial, dan peluang naik kelas.

Di Indonesia, persoalannya makin rumit. Pengangguran memang turun. Aktivitas ekonomi juga tetap bergerak. Namun, banyak pekerjaan baru justru muncul di sektor dengan produktivitas lebih rendah.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Melambat, Bank Dunia Sorot Reformasi

Bank Dunia mencatat sebagian besar tambahan pekerjaan terserap ke sektor pertanian serta akomodasi dan makanan. Sementara itu, sektor dengan keterampilan lebih tinggi, seperti jasa keuangan dan layanan profesional, tidak tumbuh sekuat yang dibutuhkan.

Ekonomi Indonesia masih menciptakan pekerjaan, tetapi belum cukup banyak menciptakan pekerjaan produktif, bergaji layak, dan aman untuk memperkuat kelas menengah.

Lulusan Terdidik Terdesak

Tekanan ini juga dirasakan pekerja terdidik.

Bank Dunia mencatat pekerja dengan pendidikan tinggi yang masuk ke pekerjaan formal bergaji tetap turun dari 74,1 persen pada 2018 menjadi 67,8 persen pada 2025.

Ini sinyal serius. Pendidikan yang lebih tinggi seharusnya membuka jalan ke pekerjaan formal yang lebih stabil. Namun, sebagian pekerja terdidik justru makin banyak terserap ke pekerjaan informal.

Baca juga: Subsidi BBM Salah Sasaran, APBN Ikut Tertekan

Pekerjaan informal tidak selalu buruk. Banyak orang bisa tetap produktif lewat usaha mandiri, kerja kreatif, atau ekonomi digital. Tetapi, masalah muncul ketika informalitas terjadi karena pilihan kerja formal yang layak tidak cukup tersedia.

Risikonya besar. Pendapatan lebih tidak pasti. Perlindungan sosial lebih lemah. Jalur karier lebih kabur. Plafon penghasilan juga bisa lebih terbatas.

Bagi Gen Z, ini terasa dekat. Lulus kuliah tidak otomatis berarti masuk pekerjaan stabil. Skill bertambah tidak selalu langsung bertemu pasar kerja yang menyerapnya dengan layak.

Gaji Ikut Tertekan

Bank Dunia juga menyoroti pelemahan upah riil pada kelompok pekerjaan menengah dan berketerampilan tinggi sejak 2018.

Upah riil adalah nilai gaji setelah memperhitungkan kenaikan harga. Jadi, gaji yang naik secara nominal belum tentu membuat daya beli ikut naik.

Ketika upah riil melemah, pekerja bisa merasa sudah bekerja keras, tetapi hidup tetap terasa berat. Cicilan, sewa, transportasi, makan, pendidikan, dan kebutuhan digital terus bergerak. Sementara ruang menabung makin kecil.

Di titik ini, kelas menengah bukan lagi sekadar label sosial. Kelas menengah berarti punya pendapatan cukup stabil untuk hidup layak, membangun tabungan, mengakses pendidikan, dan punya daya tahan saat krisis.

Kalau pekerjaan berkualitas makin sempit, jalan menuju kelas menengah ikut makin jauh.

Masalah Produktivitas

Akar masalahnya bukan hanya di pekerja. Isunya juga ada pada struktur ekonomi.

Indonesia membutuhkan lebih banyak sektor produktif yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik. Industri, jasa modern, ekonomi digital, manufaktur bernilai tambah, logistik, teknologi, dan layanan profesional perlu tumbuh lebih kuat.

Tanpa itu, pasar kerja bisa menghasilkan paradoks. Pendidikan naik, tetapi pekerjaan layak tidak cukup. Ekonomi tumbuh, tetapi kelas menengah sulit melebar.

Bank Dunia menyebut kondisi ini sebagai tanda kelangkaan pekerjaan yang lebih baik. Permintaan dari pemberi kerja belum cukup kuat untuk menyerap tenaga kerja terdidik sesuai kemampuan mereka.

Dampaknya panjang. Mobilitas sosial melambat. Konsumsi rumah tangga ikut tertekan. Anak muda makin sulit merencanakan masa depan.

Bukan Salah Anak Muda

Tekanan di pasar kerja tidak selalu bisa dijelaskan sebagai masalah personal. Anak muda kerap dianggap kurang tahan banting, terlalu pilih-pilih, atau tidak realistis.

Padahal, laporan Bank Dunia menunjukkan masalahnya lebih struktural.

Banyak orang ingin bekerja lebih baik. Banyak lulusan ingin masuk sektor formal. Banyak pekerja ingin naik kelas. Tetapi, pasar kerja belum selalu menyediakan cukup ruang untuk itu.

Karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada nasihat “tingkatkan skill”. Skill penting. Namun, skill perlu bertemu ekosistem ekonomi yang mampu menyerapnya.

Indonesia membutuhkan investasi yang menciptakan pekerjaan produktif. Regulasi dunia usaha perlu lebih jelas. Logistik harus lebih efisien. Pendidikan dan pelatihan perlu lebih nyambung dengan kebutuhan industri.

Yang paling penting, pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih baik. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *