
ADA hal yang sering terjadi setelah bahaya lewat.
Kita bernapas lega.
Kita merasa semua sudah kembali seperti biasa.
Lalu pelan-pelan, kita mulai lupa.
Bukan karena tidak peduli.
Mungkin karena manusia memang sulit terus hidup dalam keadaan siaga.
Saat Api Menjauh
Indonesia kembali bersiap menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan.
El Niño 2026–2027 diperkirakan membuat musim kemarau datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama. Desk Karhutla yang sempat dibubarkan kini dihidupkan lagi.
Api belum datang sepenuhnya.
Asap belum memenuhi langit kota.
Sekolah belum diliburkan.
Bandara belum terganggu.
Napas belum terasa berat.
Namun, ingatan tentang api mulai dipanggil kembali.
Ingatan yang Pendek
Setiap krisis selalu meninggalkan pelajaran.
Banjir mengajarkan pentingnya saluran air.
Pandemi mengajarkan rapuhnya kesehatan publik.
Karhutla mengajarkan betapa mahalnya harga keterlambatan.
Namun, setelah semua mereda, pelajaran itu sering ikut memudar.
Baca juga: Tidak Ada yang Terjadi Sendiri
Kita kembali sibuk.
Kembali merasa aman.
Kembali percaya bahwa yang buruk mungkin tidak akan datang lagi.
Padahal, banyak bencana besar tidak muncul karena manusia tidak tahu risikonya.
Tetapi karena manusia terlalu cepat merasa selesai.
Sebelum Asap Datang
Mungkin, kesiapsiagaan adalah pekerjaan yang paling sunyi.
Kesiapsiagaan tidak selalu terlihat heroik.
Tidak ada tepuk tangan ketika kanal disekat sebelum gambut kering.
Tidak ada sorotan besar ketika titik panas dipantau sebelum api membesar.
Tidak ada drama ketika koordinasi dilakukan sebelum krisis terjadi.
Namun, justru di situlah keselamatan sering dimulai.
Bukan saat api dipadamkan.
Tetapi, saat seseorang cukup ingat untuk mencegahnya menyala.
Belajar Tetap Ingat
Kita sering mengagumi respons cepat saat bencana terjadi.
Mobil pemadam datang.
Helikopter terbang.
Aparat bergerak.
Pernyataan resmi dikeluarkan.
Baca juga: Tidak Semua Rumah Adalah Rumah
Namun mungkin, ukuran kedewasaan sebuah bangsa bukan hanya bagaimana bergerak ketika krisis sudah terlihat.
Tetapi, bagaimana tetap berjaga ketika keadaan masih tampak baik-baik saja.
Karena yang paling berbahaya kadang bukan api yang datang.
Melainkan keyakinan bahwa api tidak akan datang lagi.

Mungkin hidup memang selalu bergerak antara lupa dan ingat.
Kita lupa setelah selamat.
Lalu tergagap ketika bahaya datang lagi.
Namun, alam sering memberi tanda sebelum benar-benar mengambil kembali ruangnya.
Baca juga: Tidak Semua Tawa Itu Aman
Langit yang makin kering.
Tanah yang mulai retak.
Angin yang membawa hawa panas lebih lama dari biasanya.
Pertanyaannya, apakah kita cukup rendah hati untuk membaca tanda itu?
Atau seperti sebelumnya, kita baru akan benar-benar ingat setelah asap kembali datang?
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA