
Ketika semua keputusan selalu berakhir di meja pemimpin, masalah sebenarnya mungkin bukan terletak pada tim, melainkan pada cara memimpin.
ADA satu kebiasaan yang sering dipuji dalam dunia kerja.
Seorang pemimpin yang selalu memiliki jawaban.
Tim bertanya, ia menjawab. Persoalan muncul, ia menyelesaikan. Konflik terjadi, ia menjadi penengah. Semua orang merasa tenang karena selalu ada seseorang yang tahu harus berbuat apa.
Sekilas, itulah gambaran pemimpin yang ideal.
Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan.
Bagaimana jika setiap jawaban dari seorang pemimpin justru membuat tim berhenti mencari jawabannya sendiri?
Di sinilah paradoks kepemimpinan sering muncul. Semakin hebat seorang pemimpin memecahkan semua persoalan, semakin besar kemungkinan organisasinya bergantung pada satu orang.
Ketika Semua Mata Selalu Mengarah ke Atasan
Banyak organisasi tanpa sadar membangun kebiasaan yang sama.
Setiap keputusan harus naik ke atasan.
Setiap persoalan harus menunggu persetujuan.
Setiap ide harus memperoleh jawaban dari orang yang sama.
Lama-kelamaan, tim tidak lagi belajar mengambil keputusan. Mereka belajar menunggu.
Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena terbiasa diarahkan.
Baca juga: Mengapa Pemimpin Perlu Belajar Berkata “Saya Belum Tahu”
Ketika pola ini berlangsung bertahun-tahun, organisasi mulai kehilangan salah satu aset terpentingnya, inisiatif.
Orang menjadi lebih sibuk mencari persetujuan daripada mencari solusi.
Jawaban yang Terlalu Cepat
Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.
Sebagian justru membutuhkan pertanyaan baru.
Pemimpin yang langsung memberi solusi memang tampak efisien. Masalah selesai dalam hitungan menit. Namun, kesempatan belajar juga selesai pada saat yang sama.
Bandingkan dengan pemimpin yang memilih bertanya.
“Menurutmu, apa pilihan terbaik?”
“Kalau kamu yang memutuskan, apa pertimbangannya?”
“Apa risiko yang belum kita lihat?”
Pertanyaan seperti itu memang membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi, di situlah proses berpikir tumbuh. Tim tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini. Mereka sedang membangun kemampuan untuk menghadapi persoalan berikutnya tanpa selalu bergantung pada atasan.
Membangun Pemimpin Baru
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah berapa banyak persoalan yang berhasil ia selesaikan sendiri.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak orang yang berkembang sehingga mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.
Pemimpin yang baik tidak ingin menjadi pusat dari semua keputusan.
Ia ingin membangun organisasi yang tetap mampu bergerak ketika dirinya tidak berada di ruangan.
Baca juga: Kepercayaan Tidak Lahir dari Jabatan
Karena itu, kepemimpinan bukan tentang membuat orang terus membutuhkan kita. Kepemimpinan adalah membantu orang lain menjadi semakin mampu mengambil tanggung jawab.
Semakin banyak keputusan yang dapat diambil secara matang oleh anggota tim, semakin sehat organisasi tersebut.
Dari Mengarahkan Menjadi Memberdayakan
Perubahan ini memang tidak mudah.
Banyak pemimpin merasa lebih cepat jika langsung memberi jawaban. Apalagi ketika target terus mengejar dan waktu terasa sempit.
Namun, kecepatan hari ini bisa menjadi ketergantungan di masa depan.
Baca juga: Yang Diingat Bukan Perintah, tapi Perlakuan
Sebaliknya, meluangkan sedikit waktu untuk membimbing proses berpikir tim mungkin terasa lebih lambat. Tetapi, investasi itu akan menghasilkan organisasi yang lebih mandiri, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, pemimpin tidak diingat karena selalu menjadi orang yang paling pintar di ruangan.
Mereka diingat karena berhasil membuat orang lain bertumbuh.
Pandangan Ade Noerwenda
Bagi Founder & Principal Advisor Amai Leadership Advisory, Ade Noerwenda, salah satu perubahan terbesar dalam kepemimpinan terjadi ketika seorang pemimpin berhenti melihat dirinya sebagai pemberi semua jawaban, lalu mulai berperan sebagai pengembang kapasitas tim.
Dalam berbagai pendampingan organisasi, Ade melihat bahwa pemimpin yang paling efektif bukanlah mereka yang selalu tampil paling tahu. Justru mereka yang mampu membangun ruang diskusi, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan memberi kepercayaan kepada tim untuk berpikir serta mengambil keputusan.
Menurutnya, ketika anggota tim mulai mampu menemukan solusi tanpa selalu menunggu arahan, saat itulah kepemimpinan sedang bekerja dengan baik. Keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa sering ia menjadi pusat perhatian, melainkan dari seberapa banyak orang yang tumbuh karena pernah dipimpinnya.
Catatan AMAI
“Pemimpin terbaik bukan yang selalu memberi jawaban, tetapi yang membuat tim mampu menemukan jawabannya sendiri.”
Pendekatan kepemimpinan seperti ini tidak hanya dapat dipahami, tetapi juga dapat dilatih.
Amai Leadership Advisory mengembangkan berbagai program pembelajaran yang berfokus pada Seni Memimpin dengan Kepedulian, membangun empati, ketangguhan, kemampuan berkomunikasi, serta kepekaan dalam mengambil keputusan.
Informasi mengenai program dan layanan Amai Leadership Advisory dapat diakses melalui: https://amaileadership.com/
Rubrik ini merupakan kolaborasi mulamula.id dengan Amai Leadership.