Cara Berdirimu Bisa Bicara, tetapi Jangan Buru-buru Menghakimi

Cara berdiri, posisi kepala, dan sikap tubuh dapat membentuk kesan tentang seseorang. Namun, postur bukan satu-satunya dasar untuk menilai kepribadian. Foto: Tima Miroshnichenko/ Pexels. 

SEBELUM seseorang mengucapkan sepatah kata pun, tubuhnya sudah lebih dulu “berbicara”.

Cara berdiri, posisi kepala, arah pandangan, hingga bahu yang terbuka atau membungkuk dapat membentuk kesan pertama. Seseorang bisa terlihat percaya diri, gugup, ramah, bahkan dominan.

Namun, benarkah kepribadian seseorang dapat dibaca hanya dari postur tubuhnya?

Sebuah penelitian dari McGill University menemukan bahwa cara seseorang berdiri secara alami memang berkaitan dengan beberapa ciri kepribadian. Akan tetapi, hubungan itu bersifat kecenderungan, bukan rumus pasti untuk menilai karakter seseorang.

Postur Tubuh Bukan Sekadar Pose

Penelitian tersebut dilakukan oleh Soren Wainio-Theberge dan Jorge L. Armony. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2024.

Para peneliti melibatkan total 608 orang dewasa muda dalam lima studi berbeda. Dalam beberapa tahap penelitian, peserta diminta mengirimkan foto saat mereka berdiri dengan posisi alami.

Baca juga: 5 Bahasa Tubuh yang Bisa Menandakan Orang Tidak Nyaman dengan Kita

Peneliti kemudian mengamati posisi kepala, leher, pinggul, serta kemiringan tubuh. Mereka juga membandingkannya dengan hasil pengukuran sejumlah karakter psikologis.

Hasilnya menunjukkan bahwa postur alami seseorang cenderung cukup stabil dari waktu ke waktu. Artinya, cara berdiri tidak selalu muncul karena suasana hati sesaat. Postur tertentu dapat menjadi kebiasaan tubuh yang berlangsung lebih lama.

Kepala Lebih Tinggi, Kesan Lebih Dominan

Dalam salah satu eksperimen, peserta diminta menampilkan pose dominan dan pose submisif.

Saat ingin terlihat dominan, peserta biasanya berdiri lebih tegak, mengangkat kepala, mendorong pinggul ke depan, dan sedikit mencondongkan tubuh ke belakang.

Sebaliknya, pose submisif lebih sering ditampilkan dengan tubuh membungkuk, bahu mengecil, dan kepala mengarah ke bawah.

Baca juga: Suka Biru Berarti Punya EQ Tinggi?

Temuan yang paling menarik muncul ketika peneliti mengamati postur alami peserta.

Mereka yang terbiasa berdiri lebih tegak dan menahan kepala lebih tinggi rata-rata memperoleh skor lebih tinggi dalam karakter yang berkaitan dengan dominasi sosial. Dalam penelitian itu, postur tersebut juga berhubungan dengan beberapa sifat manipulatif dan antisosial, seperti kecenderungan Machiavellian dan psikopati primer.

Kelompok ini, secara rata-rata, juga mencatat skor lebih rendah pada empati dan kemampuan mengendalikan kemarahan.

Namun, kata berhubungan perlu digarisbawahi.

Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang yang berdiri tegak pasti manipulatif, kurang berempati, atau suka mengendalikan orang lain. Korelasi juga tidak otomatis berarti satu hal menyebabkan hal lainnya.

Jadi, jangan langsung curiga kepada teman yang punya postur bagus.

Tubuh Selalu Membawa Konteks

Cara berdiri dapat dipengaruhi banyak hal.

Seseorang mungkin menegakkan badan karena sedang melakukan presentasi, mengikuti pelatihan baris-berbaris, berusaha mengurangi sakit punggung, atau sekadar ingin terlihat profesional.

Orang yang membungkuk juga belum tentu minder. Ia mungkin lelah, kedinginan, tidak nyaman, atau sedang membawa beban berat.

Situasi sosial ikut mengubah maknanya.

Baca juga: Sifat Orang Bisa Terlihat dari Cara Meninggalkan Kursi

Postur santai dalam pertemuan bersama teman dapat membuat seseorang terlihat hangat dan mudah didekati. Namun, posisi tubuh yang sama dalam wawancara kerja bisa dianggap kurang siap.

Kontak mata pun demikian. Tatapan yang cukup dapat menunjukkan perhatian. Akan tetapi, tatapan yang terlalu lama dan disertai postur yang sengaja membesar bisa terasa mengintimidasi.

Karena itu, bahasa tubuh sebaiknya dibaca sebagai kumpulan sinyal. Bukan dari satu pose, satu foto, atau satu momen saja.

Perhatikan juga ekspresi wajah, nada bicara, pilihan kata, tindakan, serta cara seseorang memperlakukan orang lain.

Waspadai Postur yang Dipakai untuk Menekan

Temuan ini menjadi lebih relevan ketika seseorang menggunakan tubuhnya secara sengaja untuk menguasai situasi.

Misalnya, berdiri terlalu dekat, menatap dari posisi lebih tinggi, membusungkan dada, menghalangi jalan, atau membuat tubuh orang lain seolah mengecil.

Dalam kondisi seperti itu, masalahnya bukan sekadar postur. Ada perilaku intimidatif yang perlu diperhatikan.

Seseorang yang percaya diri tidak harus membuat orang lain merasa takut. Begitu pula seorang pemimpin tidak perlu memakai gestur tubuh untuk merendahkan orang di sekitarnya.

Baca juga: Belum Bicara, Lima Hal Ini Sudah Dinilai Orang Lain

Bahasa tubuh memang dapat memberi petunjuk. Namun, karakter seseorang tetap lebih jelas terlihat dari pola tindakannya.

Cara ia merespons perbedaan pendapat. Cara ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kuasa. Cara ia bersikap ketika tidak mendapatkan keinginannya.

Jadi, silakan memperhatikan cara seseorang berdiri. Namun, jangan menjadikannya sebagai satu-satunya dasar untuk memutuskan siapa dirinya.

Sebab tubuh dapat mengirimkan sinyal. Tetapi perilakulah yang akhirnya berbicara paling keras.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *