
Pemimpin tidak kehilangan wibawa ketika mengakui belum tahu. Justru di situlah kepercayaan dan budaya belajar mulai tumbuh.
ADA satu kalimat yang sering kali paling sulit diucapkan oleh seorang pemimpin.
“Saya belum tahu.”
Bukan karena mereka benar-benar memiliki semua jawaban. Melainkan karena ada keyakinan yang sudah lama hidup di banyak organisasi, pemimpin harus selalu terlihat paling mengerti.
Jabatan seolah membawa tuntutan untuk selalu yakin. Ketika sebuah persoalan muncul, pemimpin diharapkan segera memberi arah. Ketika tim bertanya, jawaban harus tersedia. Keraguan sering dianggap kelemahan, sementara kepastian dipersepsikan sebagai tanda kepemimpinan.
Padahal, kenyataan tidak selalu bekerja seperti itu.
Di dunia yang berubah semakin cepat, tidak ada satu orang pun yang mampu memahami semuanya. Perubahan teknologi, dinamika pasar, perilaku pelanggan, hingga kecerdasan buatan terus menghadirkan situasi baru yang bahkan belum pernah dihadapi sebelumnya. Dalam kondisi seperti itu, berpura-pura tahu justru dapat menjadi risiko yang lebih besar daripada mengakui bahwa sebuah persoalan masih perlu dipahami.
Keberanian Mengakui
Mengatakan “saya belum tahu” bukan berarti berhenti memimpin.
Sebaliknya, kalimat itu menunjukkan bahwa seorang pemimpin cukup percaya diri untuk membedakan antara keyakinan dan asumsi.
Pemimpin yang matang tidak merasa harga dirinya ditentukan oleh jumlah jawaban yang dimiliki. Mereka lebih tertarik memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar dibangun di atas informasi yang utuh.
Itulah sebabnya banyak pemimpin terbaik justru lebih sering bertanya daripada berbicara.
Mereka ingin mendengar perspektif yang berbeda. Mereka membuka ruang bagi orang lain untuk menyampaikan data yang mungkin belum mereka miliki. Mereka memahami bahwa kualitas keputusan hampir selalu mengikuti kualitas percakapan yang terjadi sebelumnya.
Budaya Belajar Bersama
Sikap seorang pemimpin selalu menjadi contoh bagi organisasinya.
Ketika pemimpin merasa harus selalu benar, anggota tim akan belajar menyembunyikan keraguan. Mereka takut terlihat tidak kompeten. Mereka enggan mengemukakan pandangan yang berbeda karena khawatir dianggap menentang.
Lama-kelamaan, organisasi kehilangan salah satu modal terpentingnya, yakni keberanian untuk belajar.
Baca juga: Mengapa Layanan Hebat Selalu Dimulai dari Rasa Ingin Tahu
Sebaliknya, ketika pemimpin berani mengatakan “Saya belum tahu. Mari kita cari jawabannya bersama,” pesan yang diterima tim sangat berbeda. Mereka melihat bahwa belajar bukan tanda kelemahan. Bertanya bukan aib. Dan mencari solusi bersama jauh lebih bernilai daripada mempertahankan gengsi.
Budaya seperti inilah yang membuat organisasi lebih adaptif menghadapi perubahan.
Rendah Hati, Bukan Ragu
Tidak sedikit orang menyamakan kerendahan hati dengan keraguan.
Padahal keduanya sangat berbeda.
Pemimpin yang rendah hati tetap mampu mengambil keputusan. Bedanya, keputusan itu lahir setelah memberi ruang bagi fakta, pengalaman, dan perspektif orang lain.
Sebaliknya, pemimpin yang terlalu yakin sering kali menutup pintu bagi informasi baru. Mereka lebih sibuk mempertahankan citra sebagai orang yang selalu benar daripada memastikan organisasinya mengambil langkah yang benar.
Dalam jangka panjang, yang dibutuhkan organisasi bukanlah pemimpin yang tidak pernah salah. Organisasi membutuhkan pemimpin yang cukup dewasa untuk memperbaiki arah ketika menemukan pemahaman yang lebih baik.
Pandangan Ade Noerwenda
Bagi Founder & Principal Advisor Amai Leadership Advisory, Ade Noerwenda, keberanian mengatakan “Saya belum tahu” justru merupakan salah satu bentuk kepemimpinan yang paling bertanggung jawab.
Menurutnya, banyak persoalan di organisasi tidak muncul karena pemimpin kekurangan kemampuan, tetapi karena mereka merasa harus segera memiliki jawaban atas setiap situasi. Padahal, keputusan yang baik hampir selalu diawali oleh kemauan untuk memahami persoalan secara utuh.
Dalam berbagai pendampingan organisasi yang dilakukan Amai Leadership Advisory, Ade melihat bahwa pemimpin yang mampu membuka ruang dialog cenderung membangun tim yang lebih terbuka, lebih berani belajar, dan lebih siap menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang menjadi orang yang paling tahu.
Kepemimpinan adalah keberanian mengajak orang lain menemukan jawaban terbaik bersama-sama.
Catatan AMAI
“Pemimpin yang mengatakan ‘Saya belum tahu’ tidak sedang kehilangan wibawa. Ia sedang memberi ruang bagi lahirnya kebijaksanaan.”
Tentang Amai Leadership Advisory
Pendekatan kepemimpinan seperti ini tidak hanya dapat dipahami, tetapi juga dapat dilatih.
Amai Leadership Advisory mengembangkan berbagai program pembelajaran yang berfokus pada Seni Memimpin dengan Kepedulian, membangun empati, ketangguhan, kemampuan berkomunikasi, serta kepekaan dalam mengambil keputusan.
Informasi mengenai program dan layanan Amai Leadership Advisory dapat diakses melalui: https://amaileadership.com/
Rubrik ini merupakan kolaborasi mulamula.id dengan Amai Leadership.