
BARU lulus. Pengalaman belum panjang. Jam terbang juga masih terbatas. Namun, dunia kerja mulai meminta lebih banyak. Bukan hanya bisa menjalankan tugas. Kandidat entry-level kini semakin dituntut mampu mengambil keputusan, berpikir kreatif, berkomunikasi dengan baik, bahkan menunjukkan kemampuan kepemimpinan.
Ada sesuatu yang sedang berubah.
Artificial intelligence atau AI bukan cuma mengubah cara orang bekerja. Teknologi ini mulai mengubah arti pekerjaan pemula.
Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 menunjukkan perubahan itu semakin nyata.
PwC menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan kerja di enam benua. Hasilnya, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh sekitar 69 persen, hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang sebesar 9 persen.
Tetapi ada temuan lain yang lebih menarik bagi pencari kerja muda.
Entry-Level Mulai “Diseniorisasi”
Dalam analisis terhadap 2,4 juta lowongan entry-level di Amerika Serikat, PwC menemukan pekerjaan pemula yang paling terpapar AI kini tujuh kali lebih mungkin meminta keterampilan yang sebelumnya identik dengan pekerja senior.
Kemampuan itu termasuk judgement atau kemampuan mengambil keputusan, kreativitas, kepemimpinan, hingga interaksi langsung dengan orang lain.
PwC menyebut fenomena tersebut sebagai semacam “seniorisasi” pekerjaan entry-level.
Lowongan entry-level dengan karakter seperti itu bahkan tumbuh 35 persen sejak 2019. Sebaliknya, kelompok pekerjaan entry-level lainnya turun sekitar 10 persen.
Artinya, gelar “junior” mungkin masih ada.
Tetapi ekspektasi terhadap orang yang mengisinya mulai berubah.
Mengapa Bisa Terjadi?
Selama bertahun-tahun, pekerjaan pemula menjadi tempat seseorang belajar.
Membuat rangkuman. Mengolah data sederhana. Menyusun laporan awal. Mencari informasi. Menyiapkan presentasi. Menjalankan tugas administratif.
Sebagian pekerjaan seperti itu kini bisa dilakukan lebih cepat dengan bantuan AI.
Akibatnya, manusia justru semakin dibutuhkan pada bagian yang belum mudah diserahkan kepada mesin: menentukan pilihan, memahami konteks, berkomunikasi, menilai risiko, dan memutuskan apa yang harus dilakukan berikutnya.
Baca juga: AI Mulai Merancang AI, Manusia Jadi Apa?
PwC menemukan keterampilan yang dibutuhkan pada pekerjaan dengan paparan AI tinggi berubah lebih dari dua kali lebih cepat dibanding pekerjaan yang paparan AI-nya rendah.
Global Workforce Leader PwC, Pete Brown, menilai hubungan tradisional antara pengalaman dan keahlian mulai berubah karena AI mengambil sebagian pekerjaan rutin yang dahulu menjadi tempat pekerja muda belajar.
Dengan kata lain, anak baru mungkin harus belajar mengambil keputusan lebih cepat dalam perjalanan kariernya.
Bukan Berarti Lowongan Pemula akan Hilang
Namun, perubahan ini tidak otomatis berarti AI akan menghapus semua pekerjaan entry-level.
Data justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
PwC menemukan perusahaan yang paling mampu memanfaatkan AI mencatat pertumbuhan jumlah pekerja lebih tinggi dibanding perusahaan dengan paparan AI rendah.
Pertumbuhan tenaga kerja kelompok pertama mencapai 52 persen, dibandingkan 36 persen pada kelompok kedua.
Sejumlah pemimpin perusahaan teknologi juga berbeda pendapat mengenai seberapa besar AI akan mengurangi pekerjaan awal karier.
Ada yang memperingatkan pekerjaan white-collar entry-level akan tertekan. Namun, ada pula yang melihat pekerja muda justru memiliki keuntungan karena lebih cepat beradaptasi dan lebih terbiasa menggunakan teknologi AI.
Jadi persoalannya mungkin bukan sesederhana “AI mengambil pekerjaan.”
Yang berubah adalah jenis nilai yang harus dibawa manusia ke pekerjaan tersebut.
Skill AI Penting, Skill Manusia Juga
Ini bagian yang mudah salah dipahami.
Menguasai AI memang semakin bernilai.
Lowongan yang secara khusus meminta kemampuan AI tumbuh jauh lebih cepat daripada pasar kerja secara keseluruhan. PwC juga menemukan pekerja dengan keterampilan AI menikmati premi upah rata-rata hingga 62 persen.
Tetapi laporan yang sama justru menunjukkan perusahaan semakin menghargai kemampuan yang sangat manusiawi.
Kreativitas.
Kemampuan mengambil keputusan.
Adaptabilitas.
Komunikasi.
Empati.
Kepemimpinan.
AI bisa membantu menghasilkan banyak pilihan.
Manusia tetap harus menentukan pilihan mana yang masuk akal.
Bagaimana dengan Indonesia?
Bagi Indonesia, perubahan ini menjadi tantangan tersendiri.
Workforce Transformation Leader PwC Indonesia, Lita Dewi, mengatakan kesiapan tenaga kerja menghadapi AI membutuhkan penguatan literasi digital dan AI, kemampuan analitis, keterampilan sosial-emosional, serta akses reskilling yang lebih luas.
Artinya, persiapan memasuki dunia kerja tidak bisa lagi hanya berisi satu pertanyaan, “Kamu bisa menggunakan AI atau tidak?”
Pertanyaannya mulai berkembang: Bisakah kamu menggunakan AI, memahami hasilnya, mempertanyakannya, lalu mengambil keputusan yang tepat?
Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, perubahan ini memang membuat standar terasa lebih tinggi.
Tetapi ada sisi lainnya.
Jika pekerjaan rutin semakin banyak dibantu mesin, kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan bernilai lebih tinggi juga dapat datang lebih cepat.
Karier pertama mungkin tidak lagi dimulai dari tangga yang sama seperti generasi sebelumnya.
AI sedang memendekkan beberapa anak tangga.
Dan mereka yang baru memasuki dunia kerja harus bersiap naik lebih cepat. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.