AI Mulai Merancang AI, Manusia Jadi Apa?

Ilustrasi manusia berhadapan dengan derasnya kode digital. Perkembangan AI kini memasuki fase baru ketika mesin mulai membantu merancang model AI berikutnya. Foto: ThisIsEngineering/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Bayangkan mesin yang tidak lagi hanya menjawab pertanyaan manusia. Mesin itu mulai ikut merancang mesin berikutnya.

Itulah gambaran yang muncul dari pernyataan CEO SoftBank, Masayoshi Son. Ia menyebut model AI generasi berikutnya dari OpenAI sedang dirancang dengan bantuan model AI lain. Bagi Son, ini bukan sekadar kabar teknologi. Ini tanda bahwa kecerdasan buatan sedang bergerak menuju fase baru, superintelligence.

Superintelligence adalah kondisi saat AI melampaui kemampuan manusia dalam banyak bidang sekaligus. Bukan hanya lebih cepat menghitung. Bukan hanya lebih jago menulis kode. Tapi, mampu membantu menciptakan sistem AI baru yang lebih kuat dari dirinya sendiri.

Son menyampaikan pandangan itu dalam wawancara dengan CNBC. Ia mengatakan telah berdiskusi dengan CEO OpenAI Sam Altman dan sejumlah insinyur OpenAI. Dari percakapan itu, Son menyimpulkan bahwa AI tidak lagi hanya menjadi alat bantu. AI mulai masuk ke dapur pengembangan model AI berikutnya.

Bukan Sekadar Chatbot

Selama ini, banyak orang mengenal AI lewat chatbot. Pertanyaannya sederhana, AI bisa menjawab tugas sekolah, membuat caption, menulis kode, atau merangkum dokumen.

Namun, arah pengembangannya sudah jauh lebih dalam. AI mulai dipakai untuk membantu proses teknis yang rumit. Misalnya debugging, pengujian, evaluasi, dan pengembangan sistem.

Baca juga: Piala Dunia 2026: Ketika Bola Mulai Punya Otak

OpenAI sendiri pernah menyebut GPT-5.3-Codex sebagai model pertamanya yang “instrumental” dalam membantu menciptakan dirinya sendiri. Dalam keterangan resminya, OpenAI menjelaskan bahwa versi awal Codex dipakai untuk men-debug pelatihan, mengelola deployment, dan mendiagnosis hasil pengujian model.

Artinya, manusia belum sepenuhnya keluar dari proses. Namun, peran AI makin besar. Dari sekadar asisten, AI mulai menjadi rekan teknis di ruang mesin pengembangan.

Di titik ini, pertanyaannya berubah. Bukan lagi “AI bisa membantu apa?” Tapi “seberapa jauh manusia masih mengendalikan arah AI?”

Prediksi Son Makin Cepat

Masayoshi Son bukan nama kecil di industri teknologi. SoftBank adalah salah satu investor besar di sektor AI dan menjadi salah satu pemegang saham penting OpenAI. Karena itu, pernyataannya mudah memantik perhatian pasar.

Pada 2024, Son pernah memperkirakan artificial superintelligence atau ASI akan hadir dalam 10 tahun. Kini, ia menilai waktunya bisa jauh lebih cepat. Ia bahkan menyebut era itu dapat tiba dalam dua tahun ke depan.

Son juga mengaku menggunakan ChatGPT dua hingga tiga jam per hari. Menurutnya, AI sudah lebih pintar darinya dalam sebagian besar topik. Ia memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan AI dapat melampaui manusia pada 70 hingga 80 persen bidang ilmu.

Baca juga: AI Mulai Belajar Memahami Emosi Publik Indonesia

Pernyataan ini terdengar futuristis. Tapi, arah teknologinya memang sudah terlihat. AI makin kuat dalam coding, riset, analisis data, desain sistem, dan otomatisasi pekerjaan digital.

Bagi Gen Z, perubahan ini tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. AI akan masuk ke ruang belajar, kerja kreatif, bisnis kecil, media, desain, layanan pelanggan, hingga hukum dan kesehatan. Siapa yang bisa memakai AI dengan cerdas akan punya keunggulan baru. Siapa yang hanya menjadi pengguna pasif bisa tertinggal.

Risiko Kehilangan Kendali

Di balik optimisme itu, kekhawatiran juga makin besar.

Anthropic, perusahaan pengembang Claude, memperingatkan bahwa kemajuan AI yang terlalu cepat dapat memunculkan risiko “recursive self-improvement”. Istilah ini merujuk pada situasi saat AI mampu membantu menciptakan versi penerusnya sendiri secara makin otonom. Reuters melaporkan, Anthropic mendorong adanya rencana terkoordinasi di antara laboratorium AI besar untuk memperlambat pengembangan bila risiko meningkat.

Kekhawatirannya bukan sekadar AI menjadi pintar. Kekhawatirannya adalah manusia kesulitan memahami, mengawasi, dan menghentikan sistem yang berkembang terlalu cepat.

Baca juga: Ketika AI Salah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Dalam riset tentang risiko AI ekstrem, sejumlah peneliti juga menyoroti bahaya hilangnya kendali manusia atas sistem AI otonom. Risiko itu dapat muncul saat AI diberi kemampuan bertindak, membuat keputusan, dan mengejar tujuan dengan intervensi manusia yang makin kecil.

Karena itu, isu AI tidak bisa hanya dibaca sebagai lomba teknologi. Ini juga soal tata kelola. Siapa yang mengawasi? Siapa yang bertanggung jawab jika AI membuat kesalahan besar? Bagaimana publik tahu bahwa sistem yang dipakai aman?

Manusia Harus Naik Kelas

AI yang merancang AI berikutnya bukan berarti manusia langsung tersingkir. Namun, sinyalnya jelas. Peran manusia harus naik kelas.

Manusia tidak cukup hanya menjadi operator. Manusia perlu menjadi pengarah, penguji, pengawas, dan pembuat batas. Dalam dunia kerja, kemampuan bertanya, memverifikasi, memahami konteks, dan membaca dampak sosial akan makin penting.

Bagi Indonesia, isu ini juga relevan. Adopsi AI di pendidikan, media, industri kreatif, layanan publik, dan bisnis digital makin cepat. Namun, literasi AI belum merata. Banyak orang memakai AI, tetapi belum memahami batas, risiko, dan biasnya.

Baca juga: Amazon Bangun Basis Kekuatan AI di Indonesia

Era AI berikutnya bukan hanya tentang mesin yang makin pintar. Ini tentang apakah manusia cukup siap menjaga arah teknologi itu.

Sebab, jika AI mulai membantu menciptakan AI berikutnya, pertanyaan paling penting bukan lagi siapa yang paling cepat berinovasi.

Pertanyaannya, apakah manusia masih memegang kendali? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *