Korupsi Guncang Militer China, Dua Eks Menhan Dihukum Mati

Mantan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe (kiri) dan Li Shangfu dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun dalam kasus korupsi yang mengguncang tubuh militer China.
Foto: Wikipedia/ AI-generated.

Mulamula.id Gelombang pembersihan besar di tubuh militer China kembali memakan korban elite. Dua mantan Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun dalam kasus korupsi yang mengguncang lingkaran militer Beijing.

Vonis itu diumumkan kantor berita pemerintah China, Xinhua, Kamis (7/5). Hukuman tersebut menjadi salah satu sinyal paling keras dari Presiden Xi Jinping dalam perang panjang melawan korupsi di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA.

Kasus ini bukan sekadar soal suap. Ini tentang perebutan kendali, loyalitas politik, dan upaya Xi memastikan militer tetap berada di bawah komando penuh Partai Komunis China.

Elite Militer Tumbang

Li Shangfu disebut menerima suap dalam jumlah besar dan memberikan keuntungan kepada pihak lain demi kepentingan pribadi. Dalam laporan resmi Xinhua, Li dinilai gagal menjalankan tanggung jawab politiknya sebagai pejabat tinggi negara.

Sementara Wei Fenghe disebut menerima uang dan barang berharga melalui praktik suap serta membantu pihak tertentu mendapatkan posisi dan keuntungan dalam struktur militer.

Baca juga: Apa Arti Hukuman Mati Jika Tak Bisa Dieksekusi?

Reuters menyebut kasus Wei dianggap sebagai pelanggaran yang “sangat serius” dengan dampak politik besar bagi institusi militer China.

Kasus korupsi di China adalah tindak penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan untuk keuntungan pribadi, dan dalam sektor militer dianggap sebagai ancaman langsung terhadap loyalitas negara.

Pembersihan Belum Selesai

Sejak berkuasa pada 2012, Xi Jinping memang menjadikan kampanye antikorupsi sebagai salah satu senjata politik utamanya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, fokus pembersihan makin tajam ke sektor pertahanan dan militer strategis.

Pada 2023, giliran Pasukan Roket China yang menjadi sasaran. Unit elite ini mengendalikan rudal konvensional dan persenjataan nuklir negara tersebut.

Baca juga: Kabur 1996, Kenapa Eddy Tansil Tak Kunjung Tertangkap?

Awal 2026, pembersihan bahkan menyentuh lingkaran dalam Xi Jinping sendiri. Jenderal senior PLA, Zhang Youxia, yang lama dikenal dekat dengan Xi, ikut dicopot dari posisinya.

Langkah itu memunculkan spekulasi bahwa Xi kini tidak hanya mengejar koruptor, tetapi juga memperketat disiplin dan loyalitas politik di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Barisan tentara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Dalam beberapa tahun terakhir, Xi Jinping memperluas pembersihan internal di tubuh militer melalui kampanye antikorupsi. Foto: Somchai Kongkamsri/ Pexels.
Militer dan Loyalitas Politik

Editorial harian resmi PLA Daily ikut memberi pesan keras kepada pejabat militer lain. Dalam tulisannya, para perwira senior diminta menjadikan kasus Wei dan Li sebagai “peringatan”.

Pesan itu memperlihatkan bahwa kampanye antikorupsi di China kini berjalan bersamaan dengan penguatan kontrol politik di militer.

Bagi Xi Jinping, militer bukan hanya alat pertahanan negara. Militer adalah fondasi stabilitas kekuasaan.

Karena itu, kasus korupsi di tubuh PLA dipandang bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan ancaman terhadap disiplin partai dan keamanan nasional.

Hukuman Berat, tapi Masih Bisa Berubah

Meski dijatuhi hukuman mati, sistem hukum China memberi masa penangguhan dua tahun. Dalam praktiknya, hukuman seperti ini biasanya diubah menjadi penjara seumur hidup jika terpidana tidak melakukan pelanggaran selama masa percobaan.

Namun menurut laporan Xinhua, setelah hukuman diubah nanti, Wei dan Li tetap tidak akan mendapat pengurangan hukuman ataupun pembebasan bersyarat.

Artinya, keduanya kemungkinan besar akan menghabiskan sisa hidup di penjara.

Baca juga: Otoriter untuk Koruptor? Data CPI 2025 Menguji Demokrasi Indonesia

Pengamat keamanan China menilai hukuman terhadap dua mantan anggota Komisi Militer Pusat itu termasuk yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir.

Kasus ini sekaligus memperlihatkan bahwa di bawah Xi Jinping, perang melawan korupsi di China belum menunjukkan tanda melambat. Bahkan, kini makin dekat ke pusat kekuasaan militer negara tersebut. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *