MSCI Tahan Saham RI Lagi, Apa yang Belum Beres?

Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan MSCI menahan saham Indonesia kembali menyoroti isu transparansi dan free float di pasar domestik. Foto: Ist.

JAKARTA, mulamula.id Status saham Indonesia di indeks global kembali tertahan. Penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan tidak mengubah posisi saham RI dalam review Mei 2026.

Keputusan ini langsung direspons oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Tapi satu hal terlihat jelas, ada jarak antara reformasi yang dilakukan dan kepercayaan yang diharapkan.

MSCI Masih Menahan

MSCI menegaskan belum akan membuka ruang kenaikan untuk saham Indonesia.

Faktor inklusi asing (FIF) dan jumlah saham (NOS) tetap dibekukan. Tidak ada saham baru yang masuk indeks. Tidak ada juga promosi dari small cap ke standard.

“Pendekatan ini untuk membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas sambil memberikan waktu untuk evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi yang baru diumumkan,” tulis MSCI.

Artinya sederhana, pasar Indonesia masih dalam fase “observasi”.

BEI, Reformasi Sudah Diakui

Di sisi lain, BEI menyebut langkah mereka tidak diabaikan.

Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan empat proposal yang diajukan telah diakui oleh MSCI.

Baca juga: Pasar Saham RI Kena Rem Global Lagi, Apa Sebenarnya yang Dipersoalkan?

Salah satunya adalah keterbukaan data pemegang saham di atas 1%.

“Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider,” sebut Jeffrey.

Ia juga menegaskan BEI aktif berdialog dengan investor global untuk memperkuat struktur pasar ke depan.

Namun, detail pembahasan dengan MSCI tetap tertutup. “Sesuai kesepakatan kedua pihak, seluruh detail pertemuan bersifat rahasia,” katanya.

Titik Krusial, Free Float

Masalah utamanya tetap sama, free float.

Ini adalah porsi saham yang benar-benar beredar di publik. Semakin kecil free float, semakin terbatas likuiditasnya.

MSCI melihat data ini di Indonesia masih belum sepenuhnya solid.

Baca juga: OJK Kejar Free Float 15% demi Lolos Ujian MSCI, Pasar Saham Lagi “Beres-beres”

Karena itu, mereka mulai mengandalkan indikator tambahan seperti:

  • Data pemegang saham di atas 1%
  • Kerangka High Shareholding Concentration (HSC)

HSC sendiri adalah daftar saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.

Dua Saham Jadi Sorotan

Saat ini, ada dua saham besar yang masuk kategori ini:

  • PT Barito Renewable Energi Tbk (BREN)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

Data menunjukkan konsentrasi kepemilikan keduanya sangat tinggi.

BREN: sekitar 97,31% saham dikuasai kelompok tertentu, dengan free float 12,30%
DSSA: sekitar 95,76% saham terkonsentrasi, dengan free float 20,41%

Kondisi ini membuat ukuran “besar” di indeks tidak selalu mencerminkan likuiditas riil di pasar.

Sinyal yang Tidak Bisa Diabaikan

MSCI bahkan membuka kemungkinan menghapus saham yang masuk kategori HSC dari indeks.

Lebih jauh, saham dengan karakteristik serupa juga berpotensi tidak akan dimasukkan ke depan.

Baca juga: Empat Bos OJK Mundur Sehari, Pasar Modal RI Lagi Kenapa?

Bagi pasar, ini sinyal keras. Transparansi dan struktur kepemilikan kini jadi faktor penentu utama.

Apa Selanjutnya?

BEI memastikan akan ada langkah lanjutan, meski belum dirinci. “Akan segera diumumkan,” sebut Jeffrey.

Sementara itu, MSCI akan melanjutkan evaluasi hingga review aksesibilitas pasar pada Juni 2026.

Waktunya tidak panjang.

Jika reformasi tidak segera terbukti efektif di lapangan, Indonesia berisiko tertahan lebih lama dalam radar investor global. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *