Naik Transportasi Umum Tiap Jumat, Bisa Jadi Tren Baru Anak Kantoran?

Seorang pegawai PLN menggunakan sepeda saat Clean Energy Day, Jumat (10/4/2026), sebagai bagian dari gerakan transportasi ramah lingkungan di lingkungan kerja. Foto: PLN.

JAKARTA, mulamula.id – Bayangkan satu hari dalam seminggu, jalanan sedikit lebih lengang. Kantor tetap berjalan, tapi tanpa deru kendaraan pribadi. Bukan mimpi, ini mulai dicoba.

PT PLN resmi meluncurkan gerakan Clean Energy Day. Intinya sederhana. Setiap hari Jumat, pegawai diajak meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil.

Mereka didorong naik transportasi umum, pakai kendaraan listrik, bersepeda, atau bahkan berjalan kaki.

Langkah ini terlihat kecil. Tapi, dampaknya langsung terasa.

Jumat Tanpa Kendaraan

Pada pelaksanaan perdana, 10 April 2026, hasilnya cukup mencolok.

Dalam satu hari, emisi karbon turun hingga 28,6 ribu kilogram CO₂. Rata-rata sekitar 2,9 kg per pegawai.

Baca juga: 76% Emisi Transportasi Bisa Ditekan, Asal Mobilitas Berkelanjutan Dijalankan

Konsumsi BBM juga ditekan. Sekitar 12.400 liter berhasil dihemat. Dari sisi biaya, efisiensinya mencapai lebih dari Rp150 juta hanya dalam sehari.

Angka ini memberi satu pesan sederhana. Perubahan kecil, kalau dilakukan bersama, efeknya besar.

Bukan Sekadar Imbauan

Program ini tidak berhenti di ajakan moral.

PLN menerapkan kebijakan “parkir kendaraan tanpa bahan bakar” setiap Jumat. Artinya, kendaraan berbasis BBM tidak digunakan ke kantor.

Pilihan alternatifnya cukup jelas. Pegawai bisa naik KRL, MRT, LRT, BRT, atau beralih ke kendaraan listrik.

Baca juga: Jakarta Harus Percepat Elektrifikasi Transportasi Publik

Menariknya, program ini juga didukung sistem digital internal. Aktivitas perjalanan pegawai tercatat dan dimonitor secara real time.

Ada insentif. Ada evaluasi. Bahkan ada apresiasi untuk unit kerja paling aktif.

Ini bukan kampanye sesaat. Ini mulai masuk ke sistem kerja.

Kerja Hijau Jadi Standar

Tidak hanya soal transportasi, perubahan juga terjadi di cara bekerja. Perjalanan dinas dipangkas hingga 50–70 persen. Rapat koordinasi lebih banyak dilakukan secara daring.

Artinya, efisiensi energi tidak hanya dari jalan ke kantor, tapi juga dari cara kantor beroperasi.

Baca juga: Jakarta Padamkan Lampu Sejam, Kurangi Emisi 54 Ton CO2

Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto, menyebut langkah ini sebagai transformasi budaya kerja.

Bukan sekadar penghematan. Tapi, perubahan cara berpikir.

Bisa Jadi Tren Baru?

Pertanyaannya sekarang: apakah ini bisa jadi tren lebih luas?

Bagi Gen Z dan pekerja muda di kota besar, transportasi umum sebenarnya sudah mulai jadi pilihan. Bukan cuma soal hemat, tapi juga gaya hidup.

Lebih fleksibel. Lebih efisien. Dan tentu saja, lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Mengapa Warga Jakarta Perlu Beralih ke Transportasi Publik?

Kalau kebijakan seperti ini diadopsi lebih banyak perusahaan, bukan tidak mungkin akan muncul pola baru: satu hari tanpa kendaraan pribadi.

Bayangkan dampaknya kalau bukan hanya satu perusahaan, tapi satu kota.

Kalau PLN Bisa, Kantormu Kapan?

Langkah PLN membuka kemungkinan baru.

Bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Bisa dari hal sederhana. Dari kebiasaan harian.

Satu hari dalam seminggu.

Satu pilihan transportasi.

Satu perubahan kecil yang, kalau dilakukan bersama, bisa mengubah banyak hal. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *