Pakar UGM: Kecelakaan Kereta Bekasi karena Efek Domino Sistem dan Perilaku

Kondisi rangkaian kereta pasca tabrakan di Bekasi Timur. Pakar menyebut kecelakaan ini sebagai efek domino dari gangguan di perlintasan hingga keterlambatan respons sistem. Foto: commuterline.

JAKARTA, mulamula.id Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur bukan insiden tunggal. Ini rangkaian peristiwa yang saling memicu. Dampaknya besar:,106 korban, dengan 16 orang meninggal dunia.

Tabrakan melibatkan KRL Commuter Line, kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek, dan sebuah kendaraan di perlintasan. Peristiwa ini terjadi pada Senin (27/4) malam dan langsung membuka kembali pertanyaan lama, seberapa aman sistem perlintasan kita?

Efek Domino

Peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada, Iwan Puja Riyadi, menilai kecelakaan ini terjadi karena efek domino.

Masalah awal diduga muncul di perlintasan sebidang. Sebuah kendaraan berhenti atau mati di jalur rel. Situasi ini memicu rangkaian kejadian berikutnya.

“Tidak ada satu faktor tunggal. Ini kombinasi kejadian yang saling terhubung,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM.

Sistem Modern, Risiko Tetap Ada

Kereta api saat ini sudah memakai sistem blok. Sistem ini mengatur jarak antar kereta agar tidak saling bertabrakan.

Namun, ada batasnya.

Baca juga: Jalur Bekasi Dibuka Bertahap, Kereta Jalan Lagi tapi Masih Dibatasi

Kereta tidak bisa berhenti mendadak. Dibutuhkan jarak dan waktu untuk mengerem. Jika informasi datang terlambat, risiko tetap tinggi.

Dalam kasus ini, kereta di belakang diduga menerima informasi terlalu dekat dengan titik kejadian. Akibatnya, ruang untuk menghindar sangat terbatas.

Kepadatan Jadi Pemicu

Faktor lain yang memperparah adalah kepadatan lalu lintas kereta di area stasiun. Jalur sibuk membuat ruang manuver semakin sempit.

Ketika satu gangguan terjadi, efeknya bisa langsung menjalar ke rangkaian lain.

Ini yang membuat kecelakaan tidak berhenti di satu titik, tetapi berkembang menjadi tabrakan beruntun.

Masalah Utama, Perilaku

Di luar faktor teknis, Iwan menyoroti satu hal krusial, yakni perilaku pengguna jalan.

Kesadaran masyarakat masih rendah saat berhadapan dengan sistem perlintasan. Banyak yang tetap menerobos palang, meski risiko sudah jelas.

Teknologi tidak cukup jika tidak diikuti disiplin. “Kalau sistemnya sudah modern, perilaku juga harus ikut berubah,” jelasnya.

Artinya, keselamatan tidak hanya bergantung pada alat. Tapi, juga pada keputusan manusia di lapangan.

Hapus Perlintasan Sebidang

Solusi jangka panjangnya, menurut Iwan, hilangkan perlintasan sebidang.

Secara regulasi, perpotongan langsung antara jalan raya dan rel sebenarnya tidak dianjurkan. Kecuali dalam kondisi tertentu, seperti lalu lintas rendah atau keterbatasan geografis.

Baca juga: Tabrakan Kereta di Bekasi: Evaluasi Total Dimulai, Flyover Disiapkan

Alternatifnya adalah membangun flyover atau underpass. Dengan begitu, tidak ada lagi titik temu antara kendaraan dan kereta.

Langkah ini memang tidak murah. Tapi, dinilai penting untuk menutup celah risiko yang terus berulang.

Pelajaran Penting

Kecelakaan ini memberi satu pesan jelas. Sistem bisa canggih, tapi tetap rentan jika manusia tidak disiplin.

Keselamatan transportasi adalah kerja bersama. Teknologi, regulasi, dan perilaku harus berjalan seimbang.

Jika tidak, tragedi serupa bisa kembali terjadi, bukan karena sistem gagal, tapi karena kita gagal mengikutinya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *