Kalimat Biasa Jadi Bahasa Kantor, AI Ini Lagi Ramai Dipakai di LinkedIn

Ilustrasi tampilan LinkedIn di ponsel yang menjadi ruang utama personal branding profesional digital. Foto: Airam Dato-on/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.idPernah merasa bahasa Inggris profesionalmu “kurang meyakinkan”? Atau bingung merangkai kata agar terdengar lebih “korporat” di CV atau LinkedIn?

Kini, ada solusi instan. Tapi, mungkin bukan solusi yang benar-benar kamu butuhkan.

Sebuah fitur baru bernama LinkedIn Speak muncul dan langsung mencuri perhatian. Fitur ini bisa mengubah kalimat sederhana menjadi jargon korporat yang terdengar canggih, bahkan berlebihan.

Alih-alih menulis “Saya melihat keledai lucu,” kamu bisa tampil lebih “profesional” dengan kalimat seperti:
“Pengalaman ini menjadi pengingat kuat bahwa konsistensi dan ketahanan sering kali tidak terlihat, namun menjadi fondasi dari setiap operasi yang sukses.”

Kedengarannya impresif. Tapi juga… absurd.

Bahasa Profesional Baru

Fenomena ini muncul dari aplikasi terjemahan bernama Kagi Translate. Salah satu fiturnya dirancang khusus untuk “menerjemahkan” bahasa biasa menjadi gaya komunikasi LinkedIn, penuh buzzwords, metafora, dan istilah strategis.

Melansir The Guardian, fitur ini bukan hanya digunakan oleh profesional yang ingin terlihat lebih kredibel, tetapi juga oleh pengguna yang sekadar ingin bersenang-senang.

Baca juga: Meta Ubah Arah AI, Muse Spark Jadi Senjata Baru Lawan ChatGPT dan Gemini

Hasilnya? Kalimat sehari-hari bisa berubah jadi narasi yang terdengar seperti presentasi level direksi.

Bahkan kalimat konyol seperti “Saya buang air di celana” bisa diterjemahkan menjadi:
“Saya menghadapi tantangan tak terduga yang memaksa saya beradaptasi secara real-time.”

AI dan Budaya Kantor

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar lelucon digital. Ini mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang budaya kerja modern yang sangat bergantung pada citra.

Di platform seperti LinkedIn, cara kamu berbicara bisa menentukan bagaimana kamu dinilai. Bahasa sederhana sering dianggap “tidak cukup profesional”.

Baca juga: AI Terlalu “Baik”? Studi Ungkap Risiko Chatbot yang Selalu Membenarkan Pengguna

Akibatnya, banyak orang merasa harus “meng-upgrade” cara mereka berkomunikasi. Bukan untuk kejelasan, tapi untuk kesan.

AI kemudian masuk dan mempercepat proses ini. Dalam hitungan detik, siapa pun bisa terdengar seperti konsultan senior, tanpa benar-benar mengubah substansi.

Antara Satire dan Realita

Menariknya, fitur ini juga bisa bekerja sebaliknya. Bisa mengubah jargon LinkedIn menjadi bahasa sederhana.

Contohnya:
“Strategi korporat kami fokus pada sinergi lintas unit bisnis untuk mendorong pertumbuhan.”
diterjemahkan menjadi:
“Kami berharap divisi-divisi kami mulai benar-benar bekerja sama supaya bisa menghasilkan uang.”

Baca juga: Bahasa Mandarin, Kebutuhan Baru Dunia Kerja Modern

Di sinilah letak ironi sekaligus kekuatan teknologi ini. Fitur ini membuka lapisan bahasa yang selama ini dianggap “standar profesional”, lalu menunjukkan betapa berputar-putarnya cara kita berkomunikasi.

Kembali ke Bahasa Manusia

Di tengah semua ini, muncul satu pertanyaan sederhana, apakah kita masih bisa berbicara dengan jujur di dunia kerja?

AI memang bisa membantu kita terdengar lebih rapi. Tapi, juga mengingatkan bahwa komunikasi yang terlalu dipoles bisa kehilangan makna.

Pada akhirnya, pesan yang jelas dan jujur sering kali jauh lebih kuat dibanding jargon yang terdengar “pintar”.

Dan mungkin, di tengah era AI ini, kemampuan paling berharga justru bukan berbicara seperti mesin, melainkan tetap terdengar seperti manusia. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *