CFD Jakarta Makin Pagi, Rasuna Said Disiapkan Jadi Magnet Baru Akhir Pekan

Warga berolahraga saat Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Pemprov DKI berencana memajukan jam pelaksanaan CFD mulai pukul 05.30 WIB mulai Juni 2026. Foto: Ari Setiawan/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Warga Jakarta yang terbiasa lari pagi di kawasan Sudirman-Thamrin tampaknya harus mulai bangun lebih awal. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memajukan jam pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) mulai 1 Juni 2026.

Jika sebelumnya CFD dimulai pukul 06.00 WIB, nantinya aktivitas bebas kendaraan itu akan dimulai sejak pukul 05.30 WIB. Kebijakan ini disiapkan untuk memberi ruang lebih panjang bagi warga yang ingin berolahraga sebelum cuaca Jakarta semakin panas.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut antusiasme masyarakat terhadap olahraga pagi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, CFD kini bukan lagi sekadar penutupan jalan setiap Minggu pagi, tetapi sudah berubah menjadi ruang sosial dan gaya hidup warga kota.

Kota yang Makin Aktif

Jakarta beberapa tahun terakhir memang mengalami perubahan pola aktivitas akhir pekan. Kawasan Sudirman-Thamrin tak lagi hanya dipenuhi pelari atau pesepeda, tetapi juga komunitas olahraga, pertunjukan jalanan, hingga wisata keluarga.

Fenomena itu membuat CFD perlahan berubah menjadi semacam “festival mingguan” kota.

Baca juga: Minggu Pagi di Istana: Upacara Paspampres Jadi Tontonan Baru Warga Jakarta

Pemprov DKI melihat perubahan perilaku ini sebagai peluang. Karena itu, durasi aktivitas warga di ruang publik ingin diperpanjang. Dengan jam mulai yang lebih pagi, masyarakat diharapkan punya waktu lebih nyaman untuk berlari, bersepeda, atau sekadar berjalan santai sebelum matahari meninggi.

Langkah ini juga sejalan dengan tren kota-kota besar dunia yang mulai memperluas ruang publik ramah pejalan kaki dan olahraga ringan.

Rasuna Said Disiapkan

Tak hanya memajukan jam mulai CFD, Pemprov DKI juga sedang menyiapkan kawasan Jalan HR Rasuna Said sebagai titik baru car free day Jakarta.

Kawasan yang selama ini identik dengan gedung perkantoran dan kemacetan itu tengah direvitalisasi, terutama di area bekas jalur monorel mangkrak. Pemerintah menargetkan pekerjaan selesai awal Juni dan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Jakarta pada 22 Juni mendatang.

Jika rencana berjalan lancar, Jakarta nantinya tidak hanya memiliki CFD utama di Sudirman-Thamrin. Kawasan Kuningan dan Rasuna Said juga akan menjadi pusat aktivitas akhir pekan baru.

Baca juga: Jakarta Kejar Nafas Bersih: PLTSa, Tekan Batubara, 10 Ribu Bus Listrik

Langkah ini penting karena kepadatan pengunjung CFD di Sudirman-Thamrin kerap sangat tinggi. Banyak warga mulai mengeluhkan ruang olahraga yang terlalu penuh, terutama pada jam-jam sibuk pagi.

Dengan hadirnya titik baru, distribusi keramaian diharapkan lebih merata.

Suasana Car Free Day di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Pemprov DKI menyiapkan perluasan titik CFD hingga kawasan Rasuna Said untuk mengurai kepadatan sekaligus menghadirkan ruang publik baru di ibu kota. Foto: Tom Fisk/ Pexels.
Bukan Sekadar Tutup Jalan

CFD di Jakarta kini juga mulai dipandang sebagai bagian dari industri wisata perkotaan.

Pramono menilai banyak warga luar kota bahkan wisatawan asing datang ke Jakarta pada akhir pekan untuk menikmati suasana CFD. Mereka biasanya menghabiskan waktu dengan kulineran, olahraga, atau menikmati suasana kota tanpa kendaraan.

Artinya, CFD mulai memiliki fungsi baru: bukan hanya kebijakan transportasi dan lingkungan, tetapi juga bagian dari identitas urban Jakarta.

Baca juga: Rel MRT HI-Thamrin Tersambung, Jakarta Makin Terkoneksi

Dalam konteks kota modern, ruang publik seperti ini memang punya nilai besar. Kota tidak lagi hanya dinilai dari gedung tinggi atau pusat belanja, tetapi juga dari kualitas pengalaman warganya di ruang terbuka.

Karena itu, penambahan titik CFD bisa menjadi strategi baru Jakarta untuk membangun lebih banyak “spot tourism” berbasis pengalaman kota.

Wajah Baru Jakarta

Perubahan kecil seperti memajukan jam CFD sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Jakarta sedang mencoba membangun ritme hidup kota yang berbeda.

Dari kota yang dulu identik dengan macet dan polusi, Jakarta perlahan ingin dikenal sebagai kota dengan ruang publik yang lebih aktif, sehat, dan terbuka.

Baca juga: Pasar Jakarta Mau Setara Tokyo dan Bangkok. Mungkinkah?

Tantangannya tentu tidak kecil. Pengaturan lalu lintas, keamanan, kebersihan, hingga transportasi umum harus ikut menyesuaikan. Namun jika dikelola konsisten, CFD bisa menjadi salah satu simbol perubahan wajah ibu kota.

Dan kini, titik itu tampaknya tak lagi hanya berada di Sudirman-Thamrin. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *