
JAKARTA, mulamula.id – Penurunan muka tanah di kawasan Pantai Utara Jawa ternyata bukan lagi ancaman masa depan. Fenomena itu sudah terjadi sekarang, bergerak perlahan, tetapi dampaknya terus membesar.
Banjir rob makin sering datang. Permukiman pesisir makin rentan. Infrastruktur perlahan rusak. Di saat yang sama, benteng alami pantai berupa mangrove juga terus mengalami degradasi.
Kondisi itu menjadi sorotan dalam kegiatan BRIGHTS Seri #2 yang digelar para peneliti bidang geoinformatika dan lingkungan. Forum tersebut membahas hubungan antara land subsidence atau penurunan muka tanah dengan rusaknya ekosistem mangrove di wilayah Pantura Jawa.
Baca juga: Pantura Terancam, Ekonomi Bisa Kolaps
Penurunan muka tanah adalah kondisi ketika permukaan tanah turun secara bertahap akibat berbagai faktor, mulai dari eksploitasi air tanah, beban bangunan, hingga perubahan kondisi geologi kawasan pesisir.
Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, M. Rokhis Khomarudin mengatakan, fenomena tersebut kini menjadi tantangan serius bagi kawasan pesisir Indonesia.
Menurutnya, persoalan di Pantura tidak lagi bisa dilihat hanya sebagai masalah banjir biasa. Ada perubahan fisik wilayah yang berlangsung terus-menerus dan memengaruhi kehidupan masyarakat pesisir secara langsung.
“Dua fenomena ini menyebabkan banjir rob menjadi sering terjadi dan meluas,” kata Rokhis.
Pantai Kehilangan Pelindung
Mangrove selama ini berfungsi sebagai pelindung alami pesisir. Akar mangrove mampu menahan abrasi, meredam gelombang, hingga membantu menjaga kestabilan garis pantai.
Namun ketika kawasan mangrove rusak, perlindungan itu ikut melemah.
Akibatnya, wilayah pesisir menjadi lebih mudah terendam rob. Bahkan di sejumlah kawasan Pantura, genangan kini bertahan lebih lama dibanding beberapa tahun lalu.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa krisis pesisir bukan hanya soal perubahan iklim global, tetapi juga berkaitan dengan tekanan manusia terhadap lingkungan sekitar.
Mulai dari pembangunan masif, pengambilan air tanah berlebihan, hingga perubahan tata ruang pesisir ikut mempercepat kerentanan kawasan Pantura.
Teknologi Mulai Bicara
BRIN menilai teknologi geospasial kini menjadi instrumen penting untuk membaca perubahan pesisir secara lebih akurat.
Teknologi seperti GIS, penginderaan jauh, InSAR, GNSS, LiDAR, hingga citra satelit multitemporal dipakai untuk memantau penurunan muka tanah dan perubahan tutupan mangrove.
Teknologi InSAR, misalnya, mampu mendeteksi perubahan permukaan tanah hingga skala milimeter melalui citra radar satelit.
Baca juga: AI Mulai Dipakai Pantau Abrasi Pantura, Akurasinya Tembus 92%
Sementara GNSS digunakan untuk memantau pergerakan permukaan bumi secara presisi dari waktu ke waktu.
Data-data itu dinilai penting karena penanganan kawasan pesisir tidak bisa lagi hanya mengandalkan observasi lapangan biasa.
Kebijakan mitigasi membutuhkan data spasial yang detail, berkelanjutan, dan dapat dipantau secara periodik.
Bukan Sekadar Diskusi Akademik
Forum BRIGHTS Seri #2 juga menghadirkan sejumlah pakar dari berbagai bidang. Mulai dari peneliti geodesi, penginderaan jauh, konservasi mangrove, hingga kehutanan pesisir.
Salah satu pembicara, Prof. Hasanuddin Zainal Abidin dari ITB, membahas dinamika penurunan muka tanah di Pantura berbasis teknologi GNSS.
Sementara peneliti lain memaparkan integrasi teknologi InSAR, LiDAR, GIS, hingga pemanfaatan penginderaan jauh untuk memantau perubahan ekosistem mangrove.
BRIN berharap forum seperti ini tidak berhenti sebagai diskusi akademik semata.
Baca juga: Bunker Nuklir Ini Kalah oleh Alam, Erosi Pesisir Tak Bisa Ditawar
Lembaga riset tersebut ingin rekomendasi ilmiah yang lahir dari forum ini bisa menjadi masukan strategis bagi pemerintah dalam menangani penurunan muka tanah dan rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Indonesia.
Sebab tanpa langkah mitigasi yang serius, kawasan Pantura berpotensi menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks dalam beberapa tahun ke depan.
Bukan hanya rob yang makin sering datang, tetapi juga hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir secara perlahan. ***