Wukuf di Tengah 45 Derajat Celsius, Jutaan Jemaah Mulai Padati Arafah

Jemaah haji memadati kawasan Jabal Rahmah di Padang Arafah, Arab Saudi. Suhu diperkirakan mencapai 45 derajat Celsius pada puncak wukuf haji 2026. Foto: Dok (2022)/ Yasir Gürbüz/ Pexels.

MAKKAH, mulamula.id –  Jutaan jemaah haji dari berbagai negara mulai memadati Padang Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Di tengah suhu yang diperkirakan menyentuh 45 derajat Celsius, wukuf tahun ini bukan hanya menjadi puncak spiritual ibadah haji, tetapi juga ujian fisik yang berat bagi para jemaah.

Sejak dini hari, arus manusia terus bergerak menuju tenda-tenda di Arafah. Sebagian lainnya memilih lebih awal berada di sekitar Jabal Rahmah, bukit kecil yang diyakini dalam tradisi Islam sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa setelah diturunkan ke bumi.

Wukuf adalah inti ibadah haji. Tanpa wukuf, ibadah haji dianggap tidak sah. Ritual ini berlangsung sejak masuk waktu Zuhur pada 9 Zulhijah hingga menjelang fajar 10 Zulhijah.

Namun, tahun ini, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada kekhusyukan ibadah. Cuaca ekstrem kembali menjadi ancaman serius.

Panas Jadi Ancaman

Pemerintah Arab Saudi meminta jemaah membatasi aktivitas di luar tenda hingga sore hari. Imbauan itu muncul setelah suhu di Arafah, Mina, dan kawasan Masjidil Haram diperkirakan mencapai 45 derajat Celsius.

Jemaah diminta memakai payung, menjaga cairan tubuh, dan menghindari paparan matahari langsung terlalu lama.

“Pastikan menggunakan payung saat beraktivitas di tengah cuaca panas untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari dan mencegah tekanan panas,” imbau otoritas kesehatan Saudi.

Baca juga: Arafah, Titik Puncak Haji yang Tak Boleh Dilewatkan

Cuaca panas kini menjadi salah satu tantangan terbesar penyelenggaraan haji modern. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu ekstrem di Arab Saudi terus meningkat seiring perubahan iklim global.

Tahun 2024 menjadi alarm besar. Lebih dari 1.300 jemaah dilaporkan meninggal dunia, sebagian akibat heatstroke dan kelelahan ekstrem saat suhu mencapai sekitar 50 derajat Celsius.

Karena itu, Saudi tahun ini memperkuat berbagai langkah mitigasi.

Kota Suci Dipaksa Beradaptasi

Arab Saudi menambah pendingin udara, kipas penyemprot air, ruang teduh, hingga memperluas area hijau di sekitar jalur jemaah.

Perubahan itu menunjukkan bahwa ibadah haji kini bukan hanya soal pengelolaan massa manusia terbesar di dunia, tetapi juga soal adaptasi terhadap krisis iklim.

Haji adalah salah satu pergerakan manusia paling masif di dunia dalam waktu singkat. Hampir dua juta orang berkumpul di area yang sama, pada musim panas yang semakin ekstrem setiap tahunnya.

Karena itu, pengelolaan suhu menjadi bagian penting dari keamanan ibadah.

Baca juga: Jejak Spiritual Haji, dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina

Di Arafah sendiri, sebagian jemaah tetap memilih berada di luar tenda demi mendekat ke Jabal Rahmah. Kawasan itu selalu menjadi titik favorit karena nilai simboliknya yang kuat dalam sejarah Islam.

Namun, otoritas Saudi terus mengingatkan agar jemaah tidak memaksakan diri berada terlalu lama di area terbuka.

Momentum Paling Sunyi

Di balik keramaian jutaan manusia, wukuf tetap menjadi momen paling personal dalam ibadah haji.

Di Padang Arafah, jutaan orang datang dengan bahasa, warna kulit, dan latar belakang berbeda. Tetapi semuanya berada dalam posisi yang sama. Berdoa, memohon ampun, dan merenungkan hidupnya.

Baca juga: Ke Mana Perginya Batu Jumrah? Ini Proses Pengelolaan Ribuan Kerikil di Jamarat

Menjelang Magrib nanti, jemaah secara bertahap akan bergerak menuju Muzdalifah dan Mina untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji lainnya.

Tetapi bagi banyak jemaah, beberapa jam di Arafah sering menjadi titik paling emosional sepanjang perjalanan spiritual mereka. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *