
JAKARTA, mulamula.id – Diabetes tidak lagi bisa dibaca sebagai penyakit orang tua. Penyakit ini makin sering muncul pada usia muda. Bahkan, anak-anak juga mulai masuk dalam peta risiko.
Perubahan ini menjadi alarm besar bagi Indonesia. Sebab, diabetes bukan hanya soal kadar gula darah. Tapi, berkaitan dengan pola makan, aktivitas fisik, berat badan, kualitas tidur, stres, dan cara hidup sehari-hari.
Alarmnya makin keras karena Indonesia bukan pemain kecil dalam peta diabetes global. Saat ini, Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah pengidap diabetes terbanyak. Lebih dari 20 juta penduduk diperkirakan hidup dengan penyakit ini, dengan prevalensi mencapai 11,3 persen.
Data International Diabetes Federation atau IDF pada 2024 juga mencatat angka serupa. Sekitar 20,4 juta kasus diabetes pada orang dewasa pada 2024. Prevalensinya mencapai 11,3 persen dari populasi dewasa. Secara global, IDF mencatat 589 juta orang hidup dengan diabetes, dan kawasan Pasifik Barat menjadi salah satu wilayah dengan beban besar.
Masalahnya, tren ini tidak berhenti di kelompok dewasa. Kementerian Kesehatan juga menyoroti diabetes pada anak dan anak muda sebagai ancaman serius. Gaya hidup sedentari, konsumsi makanan olahan tinggi gula, lemak trans, garam, serta minim aktivitas fisik disebut ikut mempercepat risiko diabetes tipe 2 pada usia muda.
Tubuh Kurang Bergerak
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, menilai keseimbangan menjadi kunci utama. Asupan kalori harus sejalan dengan energi yang dikeluarkan tubuh.
Masalahnya, hidup modern membuat banyak orang makin jarang bergerak.
Dulu, orang harus berjalan kaki untuk membeli makanan. Sekarang, makanan bisa datang dalam hitungan menit. Dulu, aktivitas harian menuntut tubuh bergerak. Sekarang, banyak hal selesai dari layar ponsel.
Baca juga: 70 Juta Orang di Indonesia Mengidap Penyakit Hati Kronis
Kemudahan ini memang praktis. Tetapi, tubuh punya hitungan sendiri.
Jika makanan tinggi kalori terus masuk, sementara tubuh jarang membakar energi, risiko berat badan naik makin besar. Dari sana, obesitas bisa muncul. Obesitas kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Gula yang Diam-diam Hadir
Risiko diabetes juga datang dari konsumsi gula yang sering tidak terasa berlebihan.
Minuman manis, kopi susu kekinian, teh kemasan, dessert, saus, makanan cepat saji, sampai camilan harian bisa menyumbang gula tambahan. Masalahnya, gula itu sering masuk tanpa disadari.
Bagi anak muda, ini menjadi tantangan baru. Budaya nongkrong, pesan makanan online, dan tren minuman manis membuat konsumsi gula menjadi bagian dari gaya hidup.
Diabetes pada akhirnya bukan hanya urusan “terlalu banyak makan manis”. Diabetes muncul dari kombinasi pola hidup. Kurang gerak, pola makan tidak seimbang, berat badan berlebih, stres, dan kebiasaan yang berlangsung lama.
Kemenkes mengingatkan pentingnya membaca informasi nilai gizi pada makanan dan minuman. Dengan begitu, orang bisa lebih sadar terhadap jumlah gula, kalori, dan lemak yang masuk ke tubuh.
Bukan Berarti Anti-Manis
Pesan pentingnya bukan melarang semua yang manis.
Tubuh tetap membutuhkan energi. Namun, pola konsumsi perlu dikendalikan. Jika hari ini sudah banyak minum manis, besoknya konsumsi gula bisa dikurangi. Jika aktivitas fisik rendah, asupan juga perlu disesuaikan.
Prinsipnya sederhana: tubuh perlu keseimbangan.
Langkah kecil bisa dimulai dari hal paling dekat. Kurangi minuman berpemanis. Perbanyak air putih. Bergerak minimal 30 menit sehari. Pilih makanan dengan porsi lebih sadar. Jaga berat badan. Tidur cukup. Lakukan cek kesehatan berkala.
Baca juga: Label Gizi Berubah, BPOM Perkenalkan Nutri-Level di Kemasan Depan
Diabetes sering berkembang pelan. Karena itu, deteksi dini penting. Banyak orang baru sadar setelah muncul keluhan atau komplikasi.
Bagi Gen Z, isu ini seharusnya dibaca sebagai urusan masa depan. Gaya hidup hari ini bisa menentukan kualitas hidup 10 atau 20 tahun mendatang.
Diabetes makin muda bukan sekadar statistik kesehatan. Itu adalah sinyal bahwa tubuh manusia tidak selalu sanggup mengikuti ritme hidup yang serba cepat, serba instan, dan serba manis.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.