
Mahasiswa baru datang ke kampus untuk belajar menjadi lebih mandiri. Tapi kalau hari pertama mereka masih harus berhadapan dengan bentakan, hukuman absurd, atau senioritas, mungkin yang perlu diorientasi bukan cuma mahasiswa barunya.
MUSIM mahasiswa baru datang lagi. Kampus mulai ramai oleh wajah-wajah yang masih mencari gedung kelas, mengenali teman baru, dan mencoba memahami dunia yang berbeda dari sekolah.
Di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), misalnya, Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum atau MOKAKU 2026 berlangsung pada 18–21 Agustus dan diikuti sekitar 13.860 mahasiswa baru dari berbagai jenjang.
Di tengah kegiatan itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan satu pesan yang terdengar sederhana. Orientasi mahasiswa baru harus bebas dari perundungan.
Menurut Brian, masa orientasi mestinya membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, beradaptasi, dan memahami perubahan dari siswa menjadi mahasiswa yang lebih mandiri.
Pertanyaannya, kenapa pesan sesederhana itu masih perlu diulang?
Kampus Baru, Logika Lama?
Cerita tentang ospek memang sudah berubah jauh.
Banyak kampus kini meninggalkan tradisi perploncoan yang dulu identik dengan bentakan, atribut aneh, hukuman fisik, atau perintah senior yang sulit dipahami hubungannya dengan pendidikan.
Bahkan Panduan PKKMB 2026 yang diterbitkan Kemdiktisaintek secara eksplisit meminta perguruan tinggi memastikan kegiatan pengenalan mahasiswa baru berlangsung aman, humanis, dan bebas dari kekerasan.
Artinya, arahnya sudah jelas.
PKKMB bukan arena untuk menguji siapa yang paling tahan dimarahi senior. Tujuannya justru membantu mahasiswa mengenali sistem pendidikan tinggi, kehidupan kampus, kegiatan kemahasiswaan, hingga budaya akademik.
Baca juga: AI Bisa Mengerjakan Banyak Hal, Buat Apa Kuliah?
Masalah muncul ketika istilah seperti “melatih mental”, “membangun disiplin”, atau “tradisi angkatan” dipakai untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya tidak perlu.
Disiplin tentu penting.
Tetapi datang tepat waktu berbeda dengan dipermalukan karena terlambat beberapa menit. Kerja sama berbeda dengan dipaksa mengikuti perintah tanpa alasan. Menghormati senior juga berbeda dengan menganggap senior selalu berhak mengatur junior.
Senior Bukan Atasan
Ini mungkin bagian yang paling sulit diputus dari budaya ospek lama. Hubungan senior-junior sering dibuat seperti struktur komando.
Padahal mereka sama-sama mahasiswa.
Senior memang lebih dulu mengenal kampus. Mereka bisa memberi tahu dosen mana yang harus ditemui, cara mengurus administrasi, organisasi apa yang menarik, sampai kantin mana yang makanannya murah.
Baca juga: 16 Mahasiswa FH UI Dinonaktifkan, Kampus Perketat Penanganan Kasus Pelecehan
Justru di situ nilai senioritas yang sebenarnya.
Pengalaman dipakai untuk membantu, bukan untuk menunjukkan kuasa.
Karena orientasi adalah pengalaman pertama mahasiswa baru membaca budaya kampus.
Kalau pengalaman pertamanya adalah takut salah bicara, takut bertanya, dan takut berbeda pendapat, pesan yang diterima bisa bertolak belakang dengan dunia akademik yang seharusnya dibangun.
Kampus mestinya menjadi tempat orang belajar bertanya.
Bukan belajar diam karena takut senior.
Yang Perlu Diwariskan Bukan Ketakutan
Setiap generasi mahasiswa pasti punya tradisi.
Ada yel-yel angkatan, jaket kebanggaan, cerita tentang dosen, organisasi, tongkrongan, hingga kenangan menjalani hari-hari pertama di kampus.
Tradisi tidak harus dihapus.
Yang layak ditinggalkan adalah gagasan bahwa mahasiswa baru perlu dibuat takut lebih dulu agar suatu hari menjadi kuat.
Dunia yang akan mereka hadapi sudah cukup rumit. Mereka harus berhadapan dengan perubahan teknologi, AI, persaingan kerja, biaya hidup, hingga tuntutan memiliki keterampilan yang terus berubah.
Baca juga: Belajar AI Bukan Lagi Hanya untuk Anak Teknik
Masa orientasi mestinya memberi satu modal penting sebelum semua itu dimulai: perasaan bahwa kampus adalah ruang yang aman untuk tumbuh.
Jadi mungkin pertanyaan untuk ospek 2026 bukan lagi apakah mahasiswa baru cukup kuat menerima bentakan.
Pertanyaannya justru, kalau tanpa bentak-bentak sebuah orientasi tetap bisa membuat mahasiswa disiplin, kompak, dan mengenal kampus, buat apa bentak-bentak itu dipertahankan? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.