Rupiah Melemah Lagi, Harga Apa Menyusul Naik?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor laptop dan komponen elektronik. Dampaknya terhadap harga biasanya muncul bertahap mengikuti stok dan kebijakan penjual. Ilustrasi/ MulaMula.

NILAI tukar rupiah kembali bergerak mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Bagi masyarakat, angka itu mungkin hanya terlihat sebagai deretan kurs di layar. Namun, di baliknya ada biaya yang perlahan dapat berpindah ke harga obat, laptop, telepon seluler, bahan pangan, hingga layanan digital.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.883 per dolar AS pada Selasa, 22 September 2026. Posisi itu melemah Rp70 dibandingkan sehari sebelumnya dan jauh di atas asumsi kurs dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Rupiah memang pernah menembus Rp18.000 pada pertengahan tahun. Karena itu, pergerakan terbaru ini bukan rekor baru. Namun, kembalinya tekanan menunjukkan bahwa persoalan tersebut belum benar-benar selesai.

Salah satu tekanan datang dari Amerika Serikat. Bank sentral AS atau The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen pada September 2026. Kebijakan tersebut membuat aset berbasis dolar kembali menarik dan menekan mata uang negara berkembang.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pergerakan rupiah dipengaruhi sikap The Fed yang kembali cenderung ketat atau hawkish. Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak serta ketidakpastian geopolitik global.

Artinya, pelemahan rupiah bukan semata-mata disebabkan persoalan di dalam negeri. Namun, ketahanan ekonomi domestik menentukan seberapa besar guncangan global akhirnya dirasakan masyarakat.

Tidak Semua Langsung Naik

Rupiah yang melemah membuat setiap dolar yang dibutuhkan untuk membeli barang dari luar negeri menjadi lebih mahal. Dampaknya paling cepat terasa pada produk dengan kandungan impor tinggi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor bahan baku dan bahan penolong pada Januari-Februari 2026 mencapai US$29,40 miliar, naik 9,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor barang modal bahkan meningkat 34,44 persen menjadi US$9,10 miliar.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa impor Indonesia bukan hanya berisi barang konsumsi. Banyak pabrik di dalam negeri masih membutuhkan bahan baku, mesin, dan komponen dari luar negeri.

Karena itu, produk berlabel “buatan Indonesia” pun tidak otomatis terbebas dari tekanan kurs.

Baca juga: Pajak Marketplace Dimulai November, Pedagang Kecil Kena?

Namun, pelemahan rupiah tidak serta-merta membuat seluruh harga naik pada hari yang sama. Perusahaan dapat menahan harga dengan memakai stok lama, mengurangi margin keuntungan, atau melakukan lindung nilai. Kenaikan biasanya muncul bertahap ketika stok harus diganti menggunakan kurs yang lebih mahal.

Sektor elektronik telah merasakan tekanannya. Laptop dan telepon seluler rentan terdampak karena banyak komponen serta produk jadinya didatangkan dari luar negeri. Pada Juni lalu, sejumlah harga gawai tercatat naik hingga sekitar Rp1 juta ketika dolar mendekati Rp18.000.

Tekanan serupa mengintai industri farmasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah menerima laporan dari perusahaan obat mengenai kenaikan harga bahan baku. Indonesia masih mengimpor sekitar 70–80 persen bahan baku obat.

Ini tidak berarti harga seluruh obat akan langsung melonjak. Namun, ketergantungan tersebut membuat industri farmasi sulit sepenuhnya menghindari pelemahan rupiah.

Menjaga Kurs, Menjaga Daya Beli

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 masih berada di level 3,19 persen secara tahunan. Angka itu masih dalam sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Meski demikian, pelemahan rupiah yang berlangsung lama dapat membawa inflasi dari luar negeri atau imported inflation.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas tetap menjadi prioritas di tengah tingginya ketidakpastian global. BI menempuh intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward, maupun pasar luar negeri.

Baca juga: Suahasil Jadi Menkeu, APBN Menunggu Arah Baru

Bagi masyarakat, situasi ini belum menjadi alasan untuk panik atau memborong barang. Namun, pembelian produk impor bernilai besar perlu direncanakan lebih cermat. Harga gadget, layanan berlangganan dalam dolar, perjalanan ke luar negeri, dan biaya pendidikan internasional menjadi bagian yang paling dekat dengan perubahan kurs.

Rupiah memang bergerak di pasar keuangan. Akan tetapi, jika tekanannya berlangsung terlalu lama, tagihannya dapat sampai ke meja makan, ruang kuliah, apotek, dan keranjang belanja.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *