
YOGYAKARTA, mulamula.id – Gelar doktor sering dianggap sebagai pencapaian yang datang di usia matang. Tetapi, Bella Putri Maharani membuktikan hal berbeda.
Di usia 26 tahun, perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu berhasil menyelesaikan studi doktor di Universitas Gadjah Mada dengan IPK 3,98 dan predikat cumlaude.
Bella menuntaskan Program Doktor Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan UGM hanya dalam waktu 3 tahun 5 bulan. Ia bahkan menjadi lulusan doktor termuda pada wisuda pascasarjana UGM April lalu.
Usianya saat lulus tercatat 26 tahun 11 bulan 1 hari. Sementara rata-rata usia lulusan doktor pada wisuda yang sama mencapai lebih dari 42 tahun.
Namun bagi Bella, pencapaian itu bukan sekadar soal usia muda atau gelar akademik.
Ada perjalanan panjang, rasa ragu, dan mimpi yang diam-diam ia simpan sejak remaja.
Berawal dari Candaan
Bella mengingat bagaimana dulu saat SMA dirinya sering bercanda ingin kuliah peternakan agar bisa memelihara unta di samping rumah.
Kalimat itu terdengar seperti gurauan biasa. Tetapi, hidup membawanya ke jalan yang tidak disangka.
Baca juga: Doktor UGM Lulus 2,5 Tahun, Risetnya Dorong Kit DNA Lokal Kurangi Impor
Ia lolos SNMPTN dan mengambil jurusan Peternakan di Universitas Sriwijaya. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister dan doktor di bidang yang sama di UGM.
Dari pengalaman itu, Bella mulai percaya bahwa ucapan bisa menjadi doa. “Kalau berkata, berkata yang baik-baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Pandemi Mengubah Arah
Tahun 2021 menjadi titik penting dalam perjalanan Bella.
Saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia, gelombang PHK terjadi di banyak sektor. Mencari pekerjaan tidak mudah. Ketidakpastian terasa di mana-mana.
Di tengah situasi itu, Bella justru memilih melanjutkan studi lewat beasiswa Program Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
Baca juga: Lulus Doktor AI di Usia 26, Dea Buktikan Akselerasi Akademik Bukan Mimpi
Keputusan itu sempat membuatnya ragu. Tetapi, ia merasa pendidikan bisa menjadi jalan untuk bertahan sekaligus berkembang.
Kesempatan itu akhirnya datang pada percobaan pertama.
Sejak saat itu, hidup Bella berubah lebih disiplin. Ia membuat timeline harian yang ketat untuk menjaga ritme belajar dan risetnya.
Menurut Bella, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu kunci penting menjalani studi panjang jenjang magister hingga doktor.
Meneliti Pengganti Antibiotik
Bella tidak hanya lulus cepat. Ia juga membawa riset yang dekat dengan kebutuhan industri peternakan dan pangan.
Disertasinya berjudul Efikasi Nanoenkapsulasi Ekstrak Daun Sungkai (Peronema canescens Jack) Sebagai Aditif Pakan Alami Ayam Broiler.
Baca juga: Ravidho Ramadhan, Doktor Termuda UGM dengan IPK Sempurna
Secara sederhana, penelitian itu mencari alternatif alami pengganti antibiotik pada ayam broiler.

Penggunaan antibiotik dalam jangka panjang diketahui dapat menimbulkan residu dan resistensi bakteri yang berdampak pada kesehatan. Karena itu, industri peternakan mulai mencari bahan alami yang lebih aman dan berkelanjutan.
Bella melakukan penelitian hampir selama dua tahun, mulai dari proses nanoenkapsulasi hingga pengujian secara in vivo dan in vitro.
Baca juga: Lulus S2 Cuma 1 Tahun, Ini Cara Tania “Ngebut” Tanpa Asal Cepat
Hasilnya menunjukkan ekstrak daun sungkai mampu menekan bakteri berbahaya seperti E.coli, Salmonella, dan Staphylococcus di saluran pencernaan ayam.
Bukan hanya itu. Penelitian tersebut juga menunjukkan peningkatan kualitas daging dan pertumbuhan ayam broiler.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal resistensi antibiotik dan keamanan pangan, riset seperti ini menjadi penting. Dunia peternakan mulai didorong mencari alternatif yang lebih sehat dan aman untuk jangka panjang.
Di titik itu, penelitian Bella menunjukkan bahwa riset anak muda tidak selalu berhenti di jurnal akademik. Penelitian juga bisa membuka solusi nyata bagi industri dan masyarakat.
Dari Novel ke Jurnal Ilmiah
Di luar dunia akademik, Bella ternyata memiliki sisi lain yang berbeda.
Ia hobi menulis novel fiksi dengan nama pena Bellazmr dan telah menerbitkan beberapa buku.
Namun, Bella mengaku menulis jurnal ilmiah jauh lebih menantang dibanding menulis novel.
Selama menjalani studi, ia berhasil menyelesaikan enam publikasi internasional dan mengikuti sembilan konferensi internasional.
Meski terlihat produktif, Bella mengaku tidak selalu berada dalam kondisi ideal.
Baca juga: Dari SEO ke Supra, Cara Pemuda Aceh Bangun Kekayaan dari Google
Ada masa ketika ia kehilangan motivasi dan merasa jenuh menjalani proses panjang pendidikan.
Dalam situasi itu, dukungan teman-teman dan lingkungan kampus menjadi penting. Bella juga merasa para dosen dan profesor di UGM banyak membantunya berkembang lebih mandiri tanpa dilepas sendirian.
Jangan Ganti Mimpinya
Bella percaya satu hal sederhana: jangan buru-buru mengganti mimpi hanya karena jalannya terasa sulit.
Kalau mimpi belum tercapai, yang perlu diubah adalah cara meraihnya.
Pesan itu lahir dari pengalaman pribadinya sendiri. Saat awal kuliah S1 dulu, Bella pernah ingin berhenti kuliah. Namun, seorang dosennya meminta ia menjalani takdir dengan sebaik mungkin.
Nasihat itu terus diingat sampai sekarang.
Baca juga: S3 di Usia 25, Rizky Aflaha Buktikan Tak Ada Batas untuk Mimpi
Kini, di usia yang masih sangat muda, Bella berharap ilmunya bisa memberi manfaat lebih luas untuk Indonesia, khususnya di bidang peternakan dan pangan.
Kisah Bella bukan hanya tentang lulus doktor di usia muda. Ini juga tentang bagaimana generasi muda bisa masuk ke ruang riset dan menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi masyarakat.
Di saat banyak anak muda masih mencari arah, Bella memilih masuk laboratorium dan membawa pulang solusi. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.