
JAKARTA, mulamula.id – Teknologi kecerdasan buatan kini mulai masuk ke kolam budidaya ikan di Indonesia. Bukan sekadar untuk memantau air, tetapi juga membaca perilaku ikan, mengatur oksigen, hingga membantu menentukan pola pemberian pakan secara otomatis.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN tengah mengembangkan sistem budidaya ikan berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) yang menggabungkan teknologi nanobubble, plasma-ozon, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI).
AIoT adalah sistem yang menghubungkan sensor digital dan kecerdasan buatan agar mesin bisa memantau, menganalisis, lalu mengambil keputusan otomatis secara real time.
Teknologi tersebut saat ini diterapkan pada budidaya ikan nila di Cianjur, Jawa Barat, melalui kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor dan PT Asia Aquatech Indo.
Yang coba diselesaikan sebenarnya persoalan lama di dunia akuakultur. Oksigen rendah, amonia tinggi, air cepat rusak, dan kematian ikan yang sulit dikendalikan.
Kolam Mulai Dibaca Mesin
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Hilman Syaeful Alam, mengatakan sistem ini dikembangkan untuk menciptakan budidaya ikan yang lebih efisien sekaligus lebih sehat.
Melalui sensor IoT, sistem bisa memantau suhu air, kadar oksigen terlarut, hingga tingkat keasaman kolam secara langsung.
Di saat bersamaan, kamera berbasis AI ikut membaca gerakan dan perilaku ikan di dalam kolam.
Baca juga: Pakan Ikan Bisa Lepas dari Impor? BRIN Uji Solusi dari Kecipir
Dari situ, sistem dapat memperkirakan pertumbuhan ikan dan menentukan pola pemberian pakan yang lebih tepat.
Artinya, kolam budidaya mulai bergerak menuju sistem otomatis yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada intuisi manusia.
Menurut Hilman, teknologi ini juga berpotensi meningkatkan kepadatan tebar ikan hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding sistem budidaya konvensional.
Antibiotik Bisa Ditekan
Nanobubble menjadi salah satu teknologi utama dalam sistem ini.
Nanobubble adalah gelembung udara berukuran sangat kecil yang mampu meningkatkan kadar oksigen di dalam air lebih stabil dibanding aerasi biasa.
Sementara plasma-ozon dipakai untuk membantu mengurangi bakteri patogen dan mengurai limbah amonia di kolam budidaya.
Jika sistem bekerja optimal, penggunaan antibiotik dalam budidaya ikan bisa ditekan cukup signifikan.
Baca juga: AI, Drone, dan Satelit Kini Dipakai Buru Ladang Ganja di Indonesia
Pendekatan ini mulai dianggap penting karena sektor akuakultur global sedang menghadapi tantangan serius terkait kualitas air, efisiensi pakan, dan resistensi antibiotik.
Teknologi nanobubble yang dikembangkan BRIN sendiri sudah mulai diriset sejak 2016 dan memperoleh sertifikat paten pada 2020.
Informasi mengenai pengembangan teknologi tersebut disampaikan BRIN melalui laman resminya saat menerima kunjungan Mitsui Consultants Co., Ltd di Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung.
Dilirik Jepang
Menariknya, teknologi ini juga mulai menarik perhatian mitra internasional.
Chief Representative Jakarta Representative Office Mitsui Consultants Co., Ltd, Ryuji Shiga, menyebut sistem IoT Nanobubble BRIN memiliki potensi besar untuk menjaga kualitas air sekaligus meningkatkan pertumbuhan ikan.
Mereka bahkan membuka peluang pengembangan untuk budidaya ikan koi skala kecil di Jepang maupun Indonesia.
Selain ikan nila di Cianjur, teknologi serupa juga sudah diterapkan untuk budidaya ikan patin di Bogor, tambak udang di Lampung, hingga pemulihan kualitas air di Kali Item, Jakarta.
Baca juga: Amazon Bangun Basis Kekuatan AI di Indonesia
BRIN kini menargetkan perangkat yang lebih kecil dan mudah dipindahkan agar teknologi ini bisa dipakai lebih luas oleh masyarakat maupun industri perikanan.
Di tengah kebutuhan pangan protein yang terus naik, teknologi seperti ini mulai dilihat bukan hanya sebagai alat riset, tetapi juga bagian dari masa depan ketahanan pangan Indonesia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.