
JAKARTA, mulamula.id – Indonesia sudah lama membicarakan bonus demografi. Narasinya hampir selalu sama. Jumlah penduduk usia produktif besar, tenaga kerja melimpah, konsumsi bisa tumbuh, dan ekonomi punya peluang melesat.
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang ikut masuk ke ruang percakapan. Setelah bonus demografi lewat, apa yang terjadi?
Pertanyaan itu penting karena dunia sedang bergerak ke babak baru. Umur manusia makin panjang. Angka kelahiran di banyak negara turun. Struktur penduduk berubah. Ekonomi tidak lagi cukup dibaca dari berapa banyak orang yang masuk usia kerja, tetapi juga dari bagaimana masyarakat hidup, bekerja, menabung, merawat keluarga, dan tetap produktif lebih lama.
Istilahnya, longevity economy.
Longevity economy adalah ekosistem ekonomi yang tumbuh dari meningkatnya usia hidup manusia, ketika kelompok usia matang tetap menjadi konsumen, pekerja, penabung, perawat, investor, dan penggerak produktivitas.
Indonesia belum cukup siap menghadapi longevity economy karena percakapan kebijakan masih lebih sibuk mengejar bonus demografi daripada menyiapkan sistem kerja, pensiun, kesehatan, perawatan, dan keuangan untuk masyarakat yang hidup lebih panjang.
Bonus Demografi Berubah
World Economic Forum atau WEF, dalam white paper Future-Proofing the Longevity Economy: Innovations and Key Trends yang dirilis Maret 2025, menyebut dunia sedang berada di titik penting transisi demografi. Umur panjang, penurunan angka kelahiran, kecerdasan buatan, dan perubahan iklim mulai bertemu dalam satu lanskap besar yang mengubah pasar kerja, sistem keuangan, dan ketahanan sosial.
WEF bahkan menulis bahwa lebih dari satu dari empat orang di dunia kini tinggal di negara yang jumlah penduduknya sudah mencapai puncak. Ini menandai perubahan besar pada pasar tenaga kerja dan sistem ekonomi.
Selama puluhan tahun, banyak negara menikmati demographic dividend atau bonus demografi. Artinya, jumlah penduduk usia kerja lebih besar dibanding anak-anak dan penduduk lanjut usia. Kondisi ini memberi tenaga bagi pertumbuhan.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Melambat, Bank Dunia Sorot Reformasi
Indonesia juga berada dalam narasi itu. BPS pernah mencatat Indonesia diperkirakan memasuki masa bonus demografi sejak 2012 hingga 2035, dengan puncak sekitar 2020–2030.
Masalahnya, bonus demografi bukan garansi. Bonus itu bisa menjadi peluang jika tenaga kerja sehat, terampil, produktif, dan terserap dalam ekonomi. Namun, bonus itu bisa berubah menjadi tekanan jika pekerjaan tidak cukup, produktivitas rendah, jaminan sosial lemah, dan generasi produktif ikut menanggung beban populasi menua.
Umur Panjang Bukan Beban
Selama ini, masyarakat menua sering dibaca sebagai beban. Ada beban pensiun. Ada beban kesehatan. Ada beban keluarga. Ada beban fiskal.
WEF mengajak pembacaan itu dibalik. Masyarakat menua tidak otomatis menjadi beban jika sistem ekonomi memungkinkan orang tetap berkontribusi dalam berbagai tahap hidup. Dalam model hidup yang tidak lagi linear, seseorang bisa bekerja, belajar ulang, berwirausaha, merawat keluarga, kembali bekerja, lalu tetap terhubung dengan ekonomi meski usia bertambah.
Di sinilah longevity economy berbeda dari sekadar silver economy.
Baca juga: Kerja Ada, Hidup Layak Makin Jauh
Silver economy biasanya fokus pada pasar lansia. Misalnya layanan kesehatan, hunian ramah usia, alat bantu, wisata lansia, dan perawatan jangka panjang.
Longevity economy lebih luas. Fokusnya bukan hanya lansia sebagai konsumen, tetapi umur panjang sebagai perubahan struktur ekonomi. Artinya, pasar kerja, sistem pensiun, pendidikan, asuransi, teknologi, kota, layanan kesehatan, dan budaya perusahaan harus ikut berubah.
Pensiun Jadi Tekanan
Salah satu titik paling rawan adalah pensiun.
WEF memperkirakan jumlah penduduk dunia berusia 65 tahun ke atas akan mencapai 1,6 miliar pada 2050. Pada saat yang sama, lebih dari separuh tenaga kerja dunia berada di sektor informal dan tidak memiliki akses memadai terhadap pensiun atau tabungan hari tua.
Ini sangat dekat dengan persoalan Indonesia. Banyak pekerja bergerak di sektor informal, gig economy, usaha mikro, kerja lepas, dan pekerjaan tanpa perlindungan sosial yang kuat. Mereka produktif hari ini, tetapi belum tentu aman secara finansial saat tua.
Kalau struktur ini tidak dibenahi, masalah hari tua tidak hanya menjadi urusan individu. Dampaknya bisa merembet ke keluarga, konsumsi rumah tangga, belanja kesehatan, kemiskinan lansia, dan tekanan fiskal.
Karena itu, longevity economy seharusnya dibaca sejak muda. Anak muda hari ini adalah kelompok yang kelak menanggung konsekuensi dari sistem pensiun, kesehatan, dan kerja yang tidak siap.
Kerja Harus Fleksibel
Umur panjang juga mengubah makna karier.
Dulu, hidup sering dibayangkan linear. Sekolah, bekerja, pensiun. Sekarang pola itu makin tidak cukup. Orang bisa berganti karier, mengambil jeda, belajar ulang, merawat orang tua, kembali bekerja, atau membangun usaha pada usia yang tidak lagi muda.
WEF mencatat hingga 25 persen orang berusia 55 tahun ke atas secara global ingin tetap bekerja pada usia tua, tetapi menghadapi hambatan untuk mendapatkan peluang.
Artinya, tantangan longevity economy bukan hanya membuka lapangan kerja untuk anak muda. Tantangannya juga menciptakan pasar kerja yang tidak cepat membuang orang karena usia.
Perusahaan perlu membaca ulang konsep produktivitas. Pekerja senior tidak selalu kalah relevan. Mereka bisa membawa pengalaman, jejaring, stabilitas, dan kemampuan mentoring. Namun, itu hanya terjadi jika ada kerja fleksibel, pelatihan ulang, desain kerja lintas generasi, dan budaya kerja yang tidak ageist.
Perawatan Jadi Ekonomi
Bagian lain yang sering luput adalah ekonomi perawatan.
Ketika umur makin panjang, kebutuhan perawatan ikut naik. Bukan hanya perawatan lansia, tetapi juga perawatan keluarga, pendampingan kesehatan, dukungan mental, fasilitas rumah, layanan komunitas, dan teknologi kesehatan.
WEF menempatkan caregiving dan long-term care sebagai salah satu pilar longevity economy. Infrastruktur untuk mendukung perawat dan penerima perawatan dinilai penting bagi ekonomi secara keseluruhan.
Ini isu besar bagi Indonesia. Banyak perawatan masih berlangsung di rumah dan ditanggung keluarga, terutama perempuan. Jika negara dan pasar kerja tidak membaca peran caregiver, banyak orang akan kehilangan pendapatan, tabungan, dan peluang karier karena harus merawat anggota keluarga.
Dengan kata lain, perawatan bukan urusan domestik semata. Perawatan adalah isu ekonomi.
Indonesia Perlu Membaca Lebih Jauh
Indonesia tidak salah mengejar bonus demografi. Namun, narasi itu tidak boleh berhenti di jumlah penduduk usia produktif.
Bonus demografi harus disambungkan dengan longevity economy. Negara perlu menyiapkan pekerjaan layak, literasi keuangan, tabungan pensiun, jaminan sosial pekerja informal, kesehatan preventif, kota ramah usia, pelatihan sepanjang hayat, dan ekonomi perawatan.
Baca juga: Daya Saing Indonesia Merosot, Peringatan untuk Arah Pembangunan
WEF menyebut masa depan longevity economy bukan sesuatu yang jauh. Masa depan itu sudah hadir. Pertanyaannya bukan apakah perubahan akan datang, tetapi apakah negara, bisnis, dan masyarakat akan membentuk perubahan itu atau hanya bereaksi ketika tekanan sudah membesar.
Bagi Indonesia, ini peringatan halus tetapi serius.
Jangan sampai kita terlalu lama merayakan bonus demografi, lalu terlambat menyadari bahwa penduduk produktif hari ini juga akan menua. Dan ketika mereka menua, ekonomi tetap harus memberi ruang agar hidup panjang tidak berubah menjadi beban panjang. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.