Mengapa Rupiah Selalu Membuat Kita Cemas

Kadang, satu angka cukup membuat masa depan terasa goyah. Foto: Ilustrasi/ SHVETS production.

ADA banyak angka yang lewat setiap hari di layar ponsel kita.

Harga saham.
Skor pertandingan.
Jumlah pengikut media sosial.

Sebagian lewat begitu saja.

Namun ada satu angka yang hampir selalu mampu mengubah suasana hati banyak orang Indonesia,

nilai tukar rupiah.

Ketika rupiah melemah, percakapan mendadak berubah.
Media ramai.
Pengamat bermunculan.
Orang mulai bertanya-tanya apakah harga akan naik lagi.

Dan meski tidak semua orang memahami pasar valuta asing, banyak yang langsung merasa cemas.

Seolah ada sesuatu yang sedang goyah.

Angka yang Terasa Dekat

Rupiah mengalami tekanan tajam sejak awal Mei 2026.

Dolar Amerika Serikat terus menguat.
Konflik global memanas.
Harga energi bergerak naik.

Lalu seperti biasa, rasa khawatir mulai menyebar.

Padahal sebagian besar masyarakat mungkin tidak pernah membeli dolar.

Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa

Namun, rupiah selalu terasa personal.

Karena di negeri ini, nilai tukar bukan sekadar urusan ekonomi makro.

Itu perlahan diterjemahkan menjadi banyak hal yang lebih dekat dengan hidup sehari-hari:

harga kebutuhan,
biaya sekolah,
ongkos produksi,
bahkan rasa aman terhadap masa depan.

Ingatan Kolektif

Mungkin, kecemasan terhadap rupiah tidak lahir hari ini.

Itu tumbuh dari ingatan panjang yang diwariskan dari satu masa ke masa lain.

Indonesia pernah mengalami krisis yang membuat harga melonjak, pekerjaan hilang, dan kehidupan banyak orang berubah dalam waktu singkat.

Generasi berbeda mungkin mengalami bentuk yang berbeda.

Baca juga: Tidak Ada yang Terjadi Sendiri

Namun memori tentang “ekonomi yang tiba-tiba sulit” masih tinggal cukup lama dalam ingatan kolektif masyarakat.

Karena itu, setiap rupiah mulai terguncang, banyak orang merasa ada sesuatu yang harus diwaspadai.

Meski belum tentu sepenuhnya terjadi.

Tentang Rasa Rapuh

Di zaman modern, banyak hal terlihat stabil di permukaan.

Gedung tinggi berdiri.
Pusat belanja ramai.
Kota bergerak cepat.

Namun kadang, satu angka kecil di layar kurs mata uang cukup untuk mengingatkan bahwa ekonomi sebenarnya bisa sangat rapuh.

Dan mungkin yang paling membuat cemas bukan hanya pelemahan rupiah itu sendiri.

Baca juga: Mengapa Kita Menunggu Piala Dunia

Melainkan kesadaran bahwa hidup banyak orang masih sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang berada jauh di luar kendali mereka.

Perang di negara lain.
Harga minyak dunia.
Keputusan bank sentral asing.

Sementara masyarakat biasa tetap harus bangun pagi dan menjalani hidup seperti biasa.

Kita dan Ketidakpastian

Mungkin manusia memang sulit berdamai dengan ketidakpastian.

Kita ingin merasa bahwa hidup berjalan aman.
Bahwa besok masih bisa diprediksi.

Karena itu, ketika rupiah mulai melemah, yang ikut terganggu sering kali bukan hanya pasar.

Tetapi juga rasa tenang.

Orang mulai menunda rencana.
Mulai berhitung lebih hati-hati.
Mulai khawatir terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi.

Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kecemasan seperti itu menyebar jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Mungkin, yang membuat rupiah selalu terasa sensitif bukan hanya karena nilainya.

Tetapi karena itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar angka,

rasa aman tentang hidup ke depan.

Dan ketika masyarakat mulai merasa masa depan mudah goyah hanya karena satu kurs mata uang bergerak,
mungkin yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya ekonomi sebuah negara.

Tetapi juga ketahanan rasa percaya di dalam masyarakatnya. ***

Salam literasi.

  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *