Pemimpin yang Terlalu Sibuk Bisa Kehilangan Orang

Kesibukan tidak selalu menjauhkan pemimpin dari pekerjaan. Tetapi, bisa menjauhkannya dari orang-orang yang dipimpinnya. Foto: Ilustrasi/ Vlada Karpovich/ Pexels.

BANYAK pemimpin mengukur keberhasilan dari target yang tercapai. Kalender penuh dianggap tanda produktif. Pertemuan yang padat dipandang sebagai bukti kesibukan.

Namun, di tengah semua itu, ada pertanyaan yang sering terlupakan. Kapan terakhir kali benar-benar mendengar orang di dalam tim?

Kesibukan memang tidak selalu salah. Tetapi ketika seluruh perhatian hanya tertuju pada pekerjaan, hubungan perlahan bisa memudar.

Orang tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan beberapa menit untuk merasa didengar, dihargai, dan dianggap penting.

Baca juga: Yang Diingat Bukan Perintah, tapi Perlakuan

Di situlah kepedulian menjadi pembeda. Pemimpin yang hadir bukan hanya untuk pekerjaan, tetapi juga untuk manusia yang mengerjakannya.

Kepemimpinan bukan soal mengisi seluruh waktu dengan pekerjaan. Tetapi, menggunakan waktu untuk membangun kepercayaan.

Pendekatan kepemimpinan seperti ini tidak hanya bisa dipahami, tetapi juga dilatih.

Amai Leadership mengembangkan berbagai program pembelajaran yang berfokus pada seni memimpin dengan kepedulian, membangun empati, ketangguhan, dan kepekaan dalam mengambil keputusan. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui tautan berikut: https://amaileadership.com/

Rubrik ini merupakan kolaborasi mulamula.id dengan Amai Leadership.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *