
Mulamula.id – Piala Dunia 2026 bukan cuma soal siapa yang paling kuat di lapangan. Turnamen ini juga jadi panggung uang terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
FIFA menyiapkan distribusi dana hingga USD 871 juta untuk 48 negara peserta. Angka ini naik 15 persen dari skema sebelumnya. FIFA menyebut kenaikan itu didorong oleh sukses komersial turnamen yang makin besar.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, nilainya menembus kisaran Rp14,2 triliun. Jumlah itu membuat Piala Dunia 2026 menjadi edisi paling mahal, paling besar, dan paling komersial dalam sejarah FIFA.
Semua Tim Dapat Uang
Format Piala Dunia 2026 berubah besar. Jumlah peserta naik dari 32 menjadi 48 tim. Turnamen juga digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dampaknya langsung terasa ke ekonomi turnamen. Lebih banyak tim berarti lebih banyak pertandingan. Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak tiket, sponsor, hak siar, dan aktivitas komersial.
Baca juga: Piala Dunia 2026: Saat Stadion Ikut Jadi Bintang
FIFA menyatakan setiap tim peserta akan mendapat USD 2,5 juta sebagai dana persiapan. Selain itu, ada USD 10 juta sebagai uang kualifikasi. Artinya, setiap negara yang tampil di putaran final sudah mengantongi minimal USD 12,5 juta, belum termasuk dukungan tambahan lain.
Kalau dirupiahkan, angka minimal itu sekitar Rp203 miliar. Jadi, tim yang gugur cepat pun tidak pulang dengan tangan kosong.
Juara Tetap Paling Besar
Porsi terbesar tetap milik sang juara. Dalam skema hadiah yang diumumkan FIFA sebelumnya, kampiun Piala Dunia 2026 akan menerima USD 50 juta. Runner-up mendapat USD 33 juta. Posisi ketiga menerima USD 29 juta, sedangkan peringkat keempat memperoleh USD 27 juta.
Tim yang mencapai perempat final juga ikut menikmati kenaikan nilai. FIFA menyiapkan USD 19 juta untuk posisi 5–8. Tim yang finis di urutan 9–16 mendapat USD 15 juta. Sementara tim peringkat 17–32 memperoleh USD 11 juta.
Angka ini menunjukkan satu hal: bertahan lebih lama di turnamen bukan hanya soal gengsi. Ada konsekuensi finansial yang sangat besar.
Sepak Bola Jadi Industri
Piala Dunia 2026 memperlihatkan wajah baru sepak bola modern. Turnamen ini tidak lagi hanya dibaca sebagai kompetisi antarnegara. Di balik 90 menit pertandingan, ada mesin ekonomi global yang bekerja sangat besar.
Sponsor, penyiar, pemegang hak komersial, kota tuan rumah, hotel, maskapai, hingga pelaku usaha kecil ikut masuk dalam rantai ekonomi Piala Dunia.
Baca juga: Piala Dunia 2026: Ketika Bola Mulai Punya Otak
Reuters mencatat, skala penyelenggaraan di Amerika Utara juga membawa beban biaya besar. Jarak antarkota jauh. Sistem pajak berbeda. Kebutuhan logistik meningkat. Karena itu, sejumlah asosiasi sepak bola sempat khawatir biaya operasional bisa membengkak bila tim mereka tidak melaju jauh.
Kenaikan distribusi dana dari FIFA menjadi jawaban atas kekhawatiran itu.
Panggung Uang dan Gengsi
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian besar bagi sepak bola global. Di satu sisi, format 48 tim membuka jalan bagi lebih banyak negara untuk tampil. Di sisi lain, turnamen ini makin memperlihatkan betapa sepak bola elite sudah bergerak sebagai industri raksasa.
Bagi pemain, Piala Dunia tetap panggung mimpi. Bagi negara, ini soal reputasi. Bagi FIFA, ini soal ekosistem bisnis global.
Baca juga: Piala Dunia 2026 Dibuka dengan Konser Tiga Negara
Satu hal jelas, Piala Dunia 2026 bukan hanya mengejar siapa yang mengangkat trofi. Turnamen ini juga akan menunjukkan bagaimana sepak bola bergerak sebagai salah satu mesin ekonomi olahraga terbesar di dunia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.